Aroma Tubuh, Erotisme, dan Identitas (Wawasan, 2 Februari 2017)

Aroma Tubuh, Erotisme, dan Identitas (Wawasan, 2 Februari 2017)

Aroma Tubuh, Erotisme, dan Identitas
Oleh Setia Naka Andrian
Sarasehan yang digagas Subur L. Wardoyo, Nur Hidayat, serta teman-teman Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Universitas PGRI Semarang dengan tajuk Perempuan, Budaya Pop, dan Erotisme pada 21 Januari 2017 di Rumah Makan Chanadia Jalan Erlangga Semarang, memantik hadirin untuk lebih jauh meriwayatkan keberadaan bau (aroma tubuh perempuan) sebagai identitas dan kekayaan masyarakat kita.
Aroma tubuh, khususnya bagi perempuan, tentu kerap menjadi perhitungan panjang. Seorang perempuan tak akan begitu saja “melepas” tubuhnya di lingkungan masyarakat. Pasti akan dipersiapkan penampilannya, terutama pada sisi aroma tubuh. Barangkali jika penampilan sudah dipersiapkan baik-baik, sosoknya sudah cantik, namun jika urusan bau masih belum selesai, dan masih menyemburkan bau tak sedap, maka runtuhlah “harga” diri seorang perempuan itu.
Yang pasti, ilustrasi tersebut kerap hanyalah menjadi persoalan bagi perempuan semata. Terkait obrolan yang berjalan, di antara peserta diskusi ada yang menyampaikan bahwasanya seorang lagi-lagi tak selamanya selalu menuntut aroma sedap dari tubuh perempuannya. Jika semua itu sebatas tempelan, yang hanya diperoleh dari semprotan parfum atau deodoran yang diguyurkan di sekujur tubuhnya. Tak sedikit laki-laki yang mengatakan, bahwa mereka masih sangat merindukan aroma alami dari pasangannya atau perempuan yang diidamkannya.
Disampaikan oleh Subur, bahwa body chemistry akan menentukan seorang perempuan dan laki-laki saling terangsang. Pada posisi tertentu seorang laki-laki, misalnya, akan lebih memilih pasangannya dengan tanpa menggunakan aroma parfum. Ia lebih menghendaki pasangannya menyemburkan aroma tubuh yang alami. Biar pun selepas beraktivitas, berolahraga, dan berkeringat, namun sang laki-laki justru semakin berhasrat.
Di antara perempuan dan laki-laki itu, akan timbul reaksi alamiah yang kemudian berlanjut pada ruang-ruang pergerakan jasmani. Terutama pada laku spontan dari organ jasmaniah, seperti dari otak, jantung, otot-otot yang terpicu oleh rangsangan dari indra penciuman kita. Kemudian, segala itu akan kita yakini sebagai sebuah kecocokan, merasa berjodoh dan klik.
Barang tentu sangat kita lihat, dan sangat kita yakini, seorang perempuan justru cenderung akan menutupi bau badannya dengan pemenuhan aneka parfum pilihan yang dibelinya dengan harga yang begitu mahal. Kali pertama yang dilakukan selepas ia mengenakan pakaian, tentulah menyemprot sekujur pakainnya dengan aroma parfum tertentu. Segala itu, tak lain hanya demi sebuah kesan yang hendak ia sajikan kepada pasangannya (lawan jenis). Dengan harapan, akan terjalin sebuah pertemuan, perbincangan, dan hubungan yang hangat.
Perihal bau, yang awalnya kita percaya sebagai segala sesuatu yang keluar dari apa saja yang dapat ditangkap oleh indra penciuman kita, seperti bau anyir, harum, busuk. Maka kini, riwayat bau (aroma tubuh) tidak selesai atau berhenti begitu saja. Misalnya, peserta diskusi lain, Nanda Goeltom, salah seorang pria kelahiran Batak, turut serta mengisahkan perjumpaannya dengan bau. Ia menjelaskan bagaimana bau telah menjadi warisan dari leluhur kita.
Dalam obrolan yang berlangsung, bau yang ternyata sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat kita, sejak dahulu kala. Orang Batak misalnya, akan sangat hafal dengan bau orang Madura, begitu pula sebaliknya. Di antara mereka akan sanggup mengenali, hanya berdasar pada bau yang ia terima melalui indra penciumnya. Seolah-olah, bau mengambil posisi yang melampaui dari tubuh yang memproduksi bau itu sendiri.
Selanjutnya, bau pun menjadi penanda keberadaan atau identitas tersendiri bagi sebuah kota/daerah tertentu. Bau atau aroma masakan misalnya, ditebarkan begitu rupa, disebar setinggi-tinggi ke udara. Dengan harapan, pada waktu-waktu tertentu saat aroma masakan itu dihadirkan, pada saat-saat yang menunjukkan waktu makan pagi, makan siang, atau makan malam, masyarakat akan mengetahui, bahwa ini sudah waktunya untuk makan. Waktunya untuk menepi, beristirahat sejenak, dan menikmati hidangan makanan.
Tentu, segala itu menggiring godaan tersendiri bagi masyarakat kita. Khususnya bagi yang sedang bepergian. Di tepi jalan, tak jarang warung-warung makan yang menggunakan metode aroma masakan untuk menarik minat pelanggan. Tak jarang di antara mereka mengudarakan aroma-aroma masakan khas kota/daerahnya. Sehingga, selain bernalar untuk berdagang, mereka juga punya tanggung jawab dalam usaha memanjangkan riwayat kota/daerah. Menjunjung tinggi identitas kota melalui pertahanan dan tawaran dalam godaan aroma-aroma masakan.
Bahkan kita ketahui bagaimana masyarakat lampau, sebelum ditemukan Global Positioning System (GPS) sebagai sistem navigasi berbasis satelit yang kerap menemani kita dalam setiap perjalanan, masyarakat kita saat itu akan mengetahui dan mengenal wilayah-wilayah tertentu hanya dengan bau (aroma). Kepekaan indra masyarakat kita saat itu akan benar-benar diuji. Saat mencium bau ikan-ikan asin, tentu kita yakin telah berada di wilayah pesisir pantai. Selanjutnya pada kota atau daerah lain pastinya meriwayatkan pula hal serupa.***

─Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Bukunya yang telah terbit, “Perayaan Laut” (2016) dan “Remang-Remang Kontemplasi” (2016). Saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku puisi “Manusia Alarm”.
Visitors : 265 views

2 Replies to “Aroma Tubuh, Erotisme, dan Identitas (Wawasan, 2 Februari 2017)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *