Bahasa dan Emotikon (Jawa Pos, 9 Juni 2019)

Bahasa dan Emotikon (Jawa Pos, 9 Juni 2019)

Bahasa dan Emotikon
Oleh Setia Naka Andrian
Seperti apa gerak dan produksi bahasa kita hari ini? Tentu kita begitu mafhum, bagaimana bahasa berjalan menelusuri kampung-kampung, kota, sekolah, perguruan tinggi, pondok pesantren, dan segenap ruang-ruang lain yang sangat memungkinkan penuh dengan laku komunikasi diri terhadap liyan. Dari situ, bahasa bergerak sesuai dengan siapa yang menggunakannya. Bahasa menelusuri gerak zaman yang terus melaju dengan cepat, bersanding dan beriringan dengan perkembangan teknologi informasi.
Jika sejenak menengok bagaimana komunikasi jarak jauh yang diselami pada tahun-tahun lampau sebelum ponsel, komputer dan internet bermekaran. Kita akan mendapati masyarakat berkirim surat dari kota satu dengan kota lain, dari pulau satu dengan pulau lain, atau bahkan dari negara satu dengan negara lain. Surat dikirim melalui kantor pos, penerima menanti berhari-hari dengan sepenuh sabar hingga surat itu mendarat. Kemudian, pengirim menanti kembali balasan surat dengan sangat tabah. Berlarik-larik surat dituliskan. Berlembar-lembar pesan, segala rasa dan emosi ditumpahkan dalam surat.
Selepas itu, hadirlah ponsel, komputer, dan internet. Kita seakan dihadapkan pada sebuah jagat yang tak berjarak, tak terbatas. Segalanya nampak begitu dekat. Kita seakan dengan leluasa dapat berkirim pesan dengan begitu cepat.
Bahkan lagi, semenjak media sosial tumbuh subur di antara kita. Segalanya begitu rupa bertumpah-ruah di mana-mana. Pesan singkat begitu mudah kita layangkan. Belum lagi saat marak grup WhatsApp. Ah, segala yang sesungguhnya tak akan pernah diungkapkan, karena ada grup WhatsApp maka diluncurkanlah, disebarkan. Dikarenakan begitu mudah dan sangat murahnya hitungan pengiriman pesan, maka berselancarlah segala kata dan gambar. Menyesaki mata kita, saat membuka ponsel.
Barangkali, kita ingat bagaimana saat belum ada WhatsApp. Kita akan sangat berhati-hati dan sangat menghitung berapa jumlah huruf yang akan kita kirimkan melalui pesan singkat (SMS) dari ponsel jadul kita. Sebuah alat telekomunikasi yang hanya digunakan untuk mengirim pesan singkat dan panggilan suara (telepon).
Bahkan, saat itu sempat terjadi kecemasan di antara para pemerhati dan pecinta bahasa, yang katanya berdalih akan merusak produksi bahasa! Kata-kata sedemikian rupa disingkat hingga setiap kata menyusut menjadi dua atau tiga huruf. Bahkan saya ingat, saat masih duduk di bangku SMA dulu, di kalangan saya dan teman-teman kala itu marak menggunakan pesan singkat tanpa menggunakan spasi, dengan kata-kata yang sudah disingkat pula dengan dua atau tiga huruf. Bayangkan, itu semua karena menghemat biaya pengiriman pesan singkat dari ponsel!
Lantas bagaimana saat ini, saat segalanya sudah tumpah ruah dan dapat dilakukan melalui ponsel pintar dalam genggaman tangan kita. Kita seakan tak berkutik saat ponsel pintar bertengger dalam timangan jari-jari kita. Saat berkumpul bersama teman, duduk dan ngopi bersama, tentu tak jarang di antara kita justru kerap didapati asyik sendiri dengan ponsel pintar.
Tidak fokus dengan perbincangan dalam pertemuan yang sesungguhnya sudah dijanjikan dan direncanakan itu. Bahkan kita pun seakan tak kuasa dengan godaan-godaan yang muncul dari pemberitahuan dalam setiap aplikasi serta segenap fitur dari ponsel pintar kita. Sudah buka WhatsApp, kemudian buka Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, belum lagi saat tergoda mati-matian dalam rentetan permainan (game). Sudahlah, usai sudah! Dalam lingkaran perjumpaan hanya didapati di antaranya senyum-senyum sendiri, tertawa-tawa sendiri, asyik dengan candaan dalam WhatsApp atau media sosial lainnya.
Dari segenap ilustrasi pengisahan yang tak panjang itu, setidaknya kita dapat menelusuk pelan, bagaimana gerak dan produksi bahasa kita saat ini. Jika sudah pasti, kita cukup dibuat tergesa-gesa dalam setiap langkah komunikasi kita. Setiap ada informasi, tanpa ditimbang matang, langsung saja dilempar, disebar ke seluruh media sosial yang kita miliki. Ya, jika informasi itu benar. Namun jika segala informasi yang kita sebar itu hoax, pasti kita jadi ikut andil pula dalam kerja penyebaran kebohongan. Bayangkan! Semua itu karena kemudahan.
Warganet pun saat ini mudah terbakar atas segala pemberitaan yang digoreng di sana-sini. Siapa saja mudah berkomentar, melepas segala perkataan dengan tanpa filter apa pun. Tidak hanya bergurau, meledek, atau menghina teman. Bahkan kepada presiden pun, mereka begitu leluasa melempar hinaan dan tuduhan-tuduhan. Ujaran-ujaran kebencian pun diproduksi dengan begitu masif, melenggang bergerak ke mana-mana, menampar dan dilempar kepada siapa saja.
Lalu, jika awalnya ada yang gelisah dengan penyingkatan kata-kata, kini tidak lagi berhenti di situ. Pada era media sosial kali ini, kita begitu gandrung untuk setiap saat menatap layar ponsel pintar kita. Komunikasi bergerak dengan cepat, murah, dan sangat mudah. Saat begitu banyaknya media sosial yang kita pegang, akirnya kita seakan dibuat mentah dalam memproduksi bahasa. Dari situ, emotikon menjadi sandaran utama.
Emotikon dikenal akrab dalam KBBI V sebagai sebuah ilustrasi, ikon, atau kelompok karakter pada papan tombol yang menunjukkan ekspresi wajah, sikap, atau emosi, biasa digunakan dalam komunikasi elektronik, media sosial, dan sebagainya. Emotikon seakan tengah meremukkan bahasa komunikasi kita.
Saat zaman surat bergelimang, segala rasa dan emosi tumpah ruah dalam berlarik kata-kata, dalam untaian ukiran tulisan tangan di atas berlembar-lembar kertas. Kini rasa dan emosi yang ditumpahkan dalam kata-kata seakan kian usai. Kita lebih memilih menggunakan emotikon untuk mewakili segala rasa dan emosi kita. Entah dengan menggunakan emotikon senyum, sedih, tertawa kecil, hingga tertawa lebar (besar). Sedikit-sedikit pula kita akan melempar jempol hingga puluhan, saat didapati informasi yang atau segala sesuatu yang istimewa dan membanggakan.
Bisa jadi, produksi emotikon itu karena kita terlalu sibuk, entah atas kesibukan kerja, atau sibuk mengurusi seabrek pemberitahuan dalam media sosial kita. Lalu bisa juga, kita sudah malas memproduksi kata-kata. Atau bahkan, kita sudah jemu menanggapi pesan atau informasi yang dikirim oleh lawan komunikasi kita. Namun setidaknya, produksi bahasa komunikasi kita kian tak bertulang dan menjadi hambar. Tak lagi ditumpahi rasa dan emosi dalam pesan-pesan singkat di ponsel pintar kita.***
—Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal, sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini menulis puisi, cerita pendek, esai, dan resensi buku. Tahun ini ia mengikuti Residensi Sastrawan Berkarya dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Visitors : 338 views

4 Replies to “Bahasa dan Emotikon (Jawa Pos, 9 Juni 2019)”

  1. Produksi penggunaan bahasa pada zaman sekarang lebih cenderung mencari ke hal-hal yang mudah. Penggunaan emotikon misalnya, penggunaan emotikon ini sebagai sarana untuk mengekspresikan diri yang dianggap lebih gampang. Namun penggunaan emotikon ini jika penggunaannya tidak tepat akan mengarah ke hal yang kurang baik. Misalnya, tak sopan rasanya jika teman berbicara kita via WhatsApp mengirimkan pesan banyak, namun kita hanya membalas dengan salah satu emotikon-emotikon tertentu. Dari sinilah kita sebagai pengguna media sosial yang bijak harus tau kapan dan bagaimana menggunakan emotikan tersebut dengan baik dan benar. Sehingga penggunaan emotikon sebagai sarana mengekspresikan diri ini bisa berfungsi sebagaimana mestinya. (Ikhlas Aziz Mulyono)

  2. Artikel yang ditulis oleh Pak Setia Naka Andrian ini begitu menarik karena membahas mengenai penggunaan bahasa dan emotikon pada saat berbalas pesan di media sosial. Dengan membaca artikel ini, saya langsung berkata dalam hati bahwa artikel ini telah mengemukakan kekhawatiran yang selama ini saya pendam dalam hati saya terkait permasalahan dalam hal produksi bahasa pada era seperti sekarang ini. Saya merasakan keresahan yang sama dalam hal lumrahnya orang-orang di zaman sekarang untuk menyingkat pesan yang dikirimkannya. Selain itu, saya juga khawtir karena kebanyakan orang pada zaman sekarang telah melupakan penggunaan tanda baca yang tepat dalam berkirim pesan, sehingga terkadang membuat para penerima pesan itu sedikit salah paham akibat penyingkatan kata dan juga ketidaktepatan penggunaan tanda baca pada pesan yang dituliskan. Saya juga pernah beberapa kali mengalami kesalah pahaman dalam menerjemahkan maksud pesan yang dikirim karena penyingkatan kata dan juga ketidaktepatan tanda baca yang digunakan oleh si pengirim. Terima kasih Pak Setia Naka Andrian karena telah menghasilkan sebuah tulisan yang dapat mewakilkan pendapat orang-orang yang merasakan keresahan yang sama seperti saya. Semoga tulisan yang Bapak publikasikan ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi diri kita untuk lebih bijak dalam berbalas pesan di sosial media. (Qomariyana Nurulhidayah).

  3. Menarik sekali permasalahan yang dibahas dalam tulisan Pak Setia Naka Andrian ini. Memang di zaman yang penuh dengan kemajuan seperti sekarang ini berbagai hal menjadi lebih mudah. Termasuk stiker juga sekarang lebih mudah untuk mendapatkannya dibandingkan dengan zaman dahulu, karena sekarang tidak perlu membeli untuk memilikinya melainkan hanya dengan mengunduhnya dengan satu sentuhan jari saja. Semangat terus untuk berkarya Pak, ditunggu tulisan-tulisan menarik dan mencerahkan dari Bapak yang selanjutnya (Qomariyana Nurulhidayah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *