Car Free Day dan Jeda Napas Kota

Oleh Setia Naka Andrian

 

Car Free Day (hari bebas mobil) kerap diyakini masyarakat kita sebagai upaya untuk sedikit meredakan kepenatan dalam tubuh sebuah kota. Tentu segala itu akan berujung melegakan segala yang menyesaki benak dan batin kita. Lebih-lebih selepas kita begitu lelah dihabisi hari-hari yang padat dan sungguh melelahkan dari segala kerja-kerja. Baik kerja formal, personal, maupun kerja komunal.

Sebab begitu, dewasa ini tentu kerja tak lagi ditujukan sebagai sebuah laku yang sepenuhnya sebagai dalih menimbun uang semata. Namun ada kerja-kerja lain yang kiranya di luar kerja formal, misalnya di sebuah perusahaan, kantor, dan lainnya. Ada kerja tambahan yang didambakan sebagai pelengkap atau mengisi waktu sisa. Meski tetap saja, segala itu erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan yang kian hari kian menggunung saja. Boleh kerja ini kita sebut sebagai kerja personal, yang dilakukan dan dikelola oleh diri sendiri.

Kemudian ada pula kerja komunal. Barangkali kerja ini begitu populer dengan aktivitas yang bersentuhan dengan kegemaran, baik bidang seni, olahraga, dan lainnya. Yang tak lain, kerja ini kerap dirasa tak begitu mementingkan ujung hasil yang hanya ditujukan kepada nilai dalam lembaran-lembaran uang semata. Bahkan kerap kali tidak menghasilkan, justru menjadi ruang untuk menghabiskan atau menyumbangkan sebagian harta kita guna pemenuhan kerja ini. Tentu kerja ini akan beda dengan dua kerja sebelumnya. Meski tak bisa memungkiri ketiga kerja ini bisa juga saling berkait paut.

Begitulah kiranya berderet kerja yang setidaknya menjadi cerminan yang kita tunaikan hari ini. Tentu betapa lelahnya diri kita dijatuhkan dalam hari-hari yang terus bergerak cepat ini. Saat kita berada di hari Senin, tentu akan begitu cepat tiba di akhir pekan. Lalu seakan sudah begitu saja usai, dan tiba-tiba sudah kembali di hari Senin lagi. Ah, kiranya selalu begitu. Waktu memutar dan bergerak dengan begitu cepatnya.

baca juga  Aroma Tubuh, Erotisme, dan Identitas (Wawasan, 2 Februari 2017)

Sudah tentu hari Minggu menjadi hari yang begitu penting untuk disinggahi. Car Free Day menjadi salah satu tujuan utama bagi siapa saja yang merasa begitu malas mencuci segala penat dengan bepergian jauh. Hari Minggu pagi hingga menjelang tengah siang, pemerintahan kota menjadi satu-satunya harapan untuk menggoda masyarakatnya melalui penyelenggaraan hari bebas mobil tersebut.

Jalan pusat kota yang biasanya ramai disuntuki mobil-mobil berlalu-lalang, sontak menjadi lengang. Berubah dipenuhi sepeda-sepeda, anak-anak kecil bermain sepatu roda, bergelak-tawa di taman bermain, berbahagia menikmati eskrim, dan segenap aktivitas yang menghibur lainnya.

Tidak sedikit pula masyarakat yang memanfaatkan untuk membuka lapangan usaha kecil, entah berjualan pakaian sederhana, makanan khas, hingga minuman dan makanan ringan. Anak-anak muda, para ABG, atau anak-anak seusia sekolah menengah turut serta pula meramaikan segenap aktivitas di ruang publik ‘sulapan’ itu.

Masyarakat bahagia. Mencurahkan segalanya melalui foto-foto dan caption sederhana yang mereka unggah di berbagai media sosial. Kemudian komentar-komentar bermunculan. Saling menanggapi, menggoda, dan berkisah banyak hal yang dilakukan seseorang di hari libur. Saluran-saluran grup media sosial semacam WhatsApp penuh dengan luapan gerak manusia di hari Minggu. Kabar leluasa memancar dari setiap manusia di berbagai kotanya masing-masing.

Car Free Day atau hari bebas mobil tersebut, seakan menjadi jawaban bagi masyarakat kita. Saat dalam keseharian sebelumnya, mereka begitu lelah atas segala rutinitas pekerjaan yang sangat menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Tubuh-tubuh mereka begitu rupa diabdikan untuk pekerjaannya, untuk menghidupi keluarganya, dan tak lain juga untuk tumbuh dan berkembangnya pemerintahan kota.

Merekalah para penyumbang pajak yang mutlak. Tanpa mereka, bagaimana jadinya nasib sebuah kota selanjutnya. Negara ini pun sepatutnya mafhum, dari setiap kucur keringat mereka mengalir beraneka rupa penunjang pencapaian mimpi-mimpi suatu bangsa. Maka sudah sepatutnya, merekalah raja sesungguhnya. Masyarakatlah ndoro bagi pemangku kepentingan setiap wilayah/kota.

baca juga  Bahasa dan Emotikon (Jawa Pos, 9 Juni 2019)

 

Perlu Perhatian

Jika kita tengok sejenak, tentu tak sedikit manfaat hari bebas mobil tersebut bagi harkat hidup masyarakat kita. Mereka butuh jeda napas kota di hari Minggu. Mereka butuh berjabat sapa dengan segenap warga kota. Meskipun, tidak menutup kemungkinan, siapa saja bisa kuwalahan untuk menunjuk tempat berlibur yang tentu kini sudah sangat beragam. Setiap daerah bermunculan banyak tempat wisata yang menggoda. Tempat-tempat yang kerap dipamerkan di akun-akun instagram explore (jelajah) kota, melalui kenampakan yang begitu eksotis dari tiap-tiap gambarnya.

Namun, lagi-lagi keterjangkauan kepada semua kalangan, terutama bagi warga menengah ke bawah harus menjadi perhatian khusus. Mereka punya hak untuk turut serta menikmati fasilitas yang dimiliki kotanya. Mereka punya hak untuk beraktualisasi diri dengan kotanya sendiri. Turut serta menikmati jeda napas kota, sekali dalam setiap Minggu saja.

Paling tidak, dari situ juga akan menumbuhkan niatan masyarakat untuk turut serta memanfaatkan momen. Mereka dapat berdagang, membuka lapak untuk berjualan. Sesungguhnya, melalui Car Free Day ini, pasar telah dibuka. Tidak sedikit kebermanfaatan yang dapat diselami oleh masyarakat kita. Lebih-lebih jika peran serta anak muda dilibatkan dalam penyelenggaraannya. Mereka diberi ruang untuk berkreasi, dan diberi keleluasaan untuk berwirausaha kreatif.

Di Kendal Jawa Tengah misalnya, telah begitu lama tiada lagi ada aktivitas Car Free Day. Bukan sebab masa pandemi semata, namun sebelum pandemi hadir pun Car Free Day telah tak menampakkan dirinya. Entah kenapa, dan entah pula itu ditunggu-tunggu oleh segenap masyarakat atau sebaliknya, dibiarkan berlalu begitu saja. Meski, setiap Minggu memang di area taman kota (Taman Garuda) dan sekitarnya nampak para pedagang dan orang-orang berlalu-lalang menikmati hari liburnya. Namun segala itu hanya menyisakan kenampakan yang berdesakan, seakan tak ubahnya sebuah keramaian yang digeser dengan begitu rupa. Tiada ruang lepas yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menyambut Minggu pagi dengan penuh tralala. Bersepeda di jalan raya yang besar, bersepatu roda dengan leluasa, bermain skateboard, egrang, dan beragam permainan lainnya.

baca juga  Guru Saya Rajin Minum Susu

Pemberian kesempatan serupa itu, setidaknya memberikan pertimbangan dan upaya pengayoman lain. Penciptaan ruang rekreasi yang murah dan meriah itu sangat dibutuhkan. Mengingat saat ini tempat-tempat wisata (rekreasi), baik wisata alam maupun wisata buatan telah banyak yang dikuasai oleh pemodal. Bahkan kerap kita ketahui dan sudah menjadi rahasia umum, tempat-tempat wisata itu telah dimiliki oleh orang luar. Bukan orang Indonesia!

Hal itu semakin menggiring segalanya menjadi mahal. Tiket masuk mahal, makanan yang dijual mahal, penginapan juga sangat mahal! Masyarakat sekitar pun tak mendapatkan apa-apa. Jika sudah begitu, mereka tak bisa turut serta menikmati dan memanfaatkan kekayaan wilayahnya. Akhirnya banyak pula yang menggiring mereka untuk melakukan segala cara. Misalnya saja, dengan sangat terpaksa mereka membuka warung makan dan menjebak pembeli (para pelancong) dengan harga makanan yang kelewat mahal.

Itu semua karena mereka ingin berontak. Ingin melampiaskan kemarahannya akibat diri mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk turut serta mengelola ruang-ruang ‘berpotensi’ wisata di daerahnya. Nah, tentu segala itu jangan sampai terjadi di kota kita. Pengelolaan setiap aset dan ruang di sebuah wilayah sangat diperlukan atas dasar pertimbangan masyarakatnya. Bukan atas dasar keberpihakan, kekuasaan, politik, atau segala pengaruh yang timbul dari kepentingan golongan/kelompok tertentu. Meski, segala yang dipaksa atau mendadak jadi jagat wisata juga bahaya.[]

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *