Category: Esai

Car Free Day dan Jeda Napas Kota

Car Free Day dan Jeda Napas Kota

Oleh Setia Naka Andrian   Car Free Day (hari bebas mobil) kerap diyakini masyarakat kita sebagai upaya untuk sedikit meredakan kepenatan dalam tubuh sebuah kota. Tentu segala itu akan berujung melegakan segala yang menyesaki benak dan batin kita. Lebih-lebih selepas kita begitu lelah dihabisi hari-hari yang padat dan sungguh melelahkan dari segala kerja-kerja. Baik kerja…

Read More Read More

Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama

Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama

Oleh Setia Naka Andrian Kita sungguh mafhum, tercapainya cita-cita sebuah bangsa tentu dengan tanpa berpaling dari nasib sebuah desa. Pemerintah pusat tak boleh memunggungi desa. Negara yang menjulang tinggi ditopang dari desa yang ditata sedemikian rupa. Desa yang diberi kebebasan bertaruh mimpi, berencana, dan menciptakan segala hal yang sepenuhnya atas kehendak segenap warga. Maka bergulirlah…

Read More Read More

Panggung Berpijak Kahanan

Panggung Berpijak Kahanan

Oleh Setia Naka Andrian   Tak sedikit sisi positif yang dapat dipetik dari masa pandemi. Meski wabah menghantam seantero jagat, tetapi tak begitu saja segalanya harus berhenti. Dunia masih harus terus berputar, segalanya masih harus terus bergerak. Dari masa memprihatinkan ini pun, tak sedikit masyarakat saling mengulurkan tangan, membantu sesamanya yang sedang berkesusahan karena wabah…

Read More Read More

Kepada yang Bernapas Panjang

Kepada yang Bernapas Panjang

Oleh Setia Naka Andrian  Sabtu, 23 November 2019 baru saja hinggap di layar laptop. Saya duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja kerja. Di depannya persis, ada jendela kaca yang sangat jarang dibuka. Saya biasa memandangi apa saja ke luar sana. Daun mapel berguguran. Orang-orang berlalu-lalang namun dengan langkah yang begitu sepi. Anak-anak kecil…

Read More Read More

Yang Selalu Ada dalam Ingatan dan Keabadian

Yang Selalu Ada dalam Ingatan dan Keabadian

Oleh Setia Naka Andrian Perjumpaan awal dengan Sapardi Djoko Damono adalah pada obrolan buku puisinya Kolam (Editum, 2009) di Semarang, Juni 2010. Dari buku itu, saya jatuh hati dan menjatuhkan diri berkali-kali pada puisi berjudul Bayangkan Seandainya. Berikut puisinya, /Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit…

Read More Read More

Gagasan Gemilang dari Paguyuban Jomblo Pura-Pura Bahagia Indonesia Komisariat UPGRIS Menjelang Wisuda

Gagasan Gemilang dari Paguyuban Jomblo Pura-Pura Bahagia Indonesia Komisariat UPGRIS Menjelang Wisuda

Gagasan Gemilang dari Paguyuban Jomblo Pura-Pura Bahagia Indonesia Komisariat UPGRIS Menjelang Wisuda Oleh Setia Naka Andrian Ada satu persoalan cukup parah yang dialami bagi para mahasiswa jomblo. Yakni saat mereka harus menghinggapi panggung wisuda! Coba bayangkan, pada sebuah momen yang sangat ditunggu-tunggu bagi segenap kaum intelektual kampus, namun pada saat itu hanya merayakan seorang diri.…

Read More Read More

Tubuh Identitas di Jagat Kanvas

Tubuh Identitas di Jagat Kanvas

Oleh Setia Naka Andrian   Sore itu, 16 September 2018, selepas parkir motor dan tiba di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, saya mencoba melangkahkan kaki pelan-pelan menuju ruang pameran bertajuk Identity yang digarap Sanggar Lontong Opor (SLOP) Kendal. Sungguh kali itu saya begitu deg-degan (berdebar) bercampur perasaan bahagia tak terkira yang begitu aneh dan lain-lain,…

Read More Read More

Segala tentang Hitungan

Segala tentang Hitungan

Segala tentang Hitungan Oleh Setia Naka Andrian Angka 2019 akan segera bergeser menjadi angka genap 2020. Tentu tak sedikit di antara kita yang turut serta menyambutnya dengan serius, biasa saja, atau bahkan menolaknya. Ada yang menyambut sekadarnya. Berdiam diri di depan rumah, sambil menanti tabur kembang api yang dipaksa meledak dari kejauhan. Atau menyambut serius…

Read More Read More

Catatan Kecil; Kepada Keluarga Coelen

Catatan Kecil; Kepada Keluarga Coelen

Siapa yang akan mengira, suatu saat kita akan dijatuhkan pada sebuah titik tertentu? Siapa yang dapat meramalkan dengan begitu presisi bagaimana takdir sebuah tubuh? Ya, tentu tak ada yang sanggup. Semua kehendak Tuhan. Begitu pula, saat saya dan istri dijatuhkan dalam sebuah keluarga yang begitu menerima kami. Sedalam-dalam menyambut begitu baik kehadiran kami. Bahkan telah…

Read More Read More