Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama

Oleh Setia Naka Andrian

Foto Caption: Penampakan persiapan pentas dongeng berjudul “Sidang Para Menthok” oleh Muhajir Arrosyid di Sarang Lilin Art Space, Perumahan Griya Pantura Regency Blok A No. 4 Desa Tosari, Kec. Brangsong, Kab. Kendal, Jawa Tengah, 51371.

Kita sungguh mafhum, tercapainya cita-cita sebuah bangsa tentu dengan tanpa berpaling dari nasib sebuah desa. Pemerintah pusat tak boleh memunggungi desa. Negara yang menjulang tinggi ditopang dari desa yang ditata sedemikian rupa. Desa yang diberi kebebasan bertaruh mimpi, berencana, dan menciptakan segala hal yang sepenuhnya atas kehendak segenap warga.

Maka bergulirlah upaya pemerintah Jokowi mengucurkan dana yang melimpah bagi desa. Negara telah menggoda warga dengan dana desa. Dengan nominal yang tak tanggung-tanggung. Akhirnya desa pula keleluasaan untuk membangun. Dari mulai infrastruktur hingga bangunan sumber daya manusianya. Pendamping desa pun diturunkan untuk turut membantu, menjaga, dan mengawasi. Agar kucuran dana yang tak tanggung-tanggung itu dapat diserap sebagaimana mestinya.

Desa sontak menjadi sebuah panggung yang menggemaskan bagi khalayak. Tidak sedikit pihak berkepentingan yang terpelanting atas godaan dana desa. Desa seolah menjadi kerajaan kecil yang tumbuh dan bergerak di antara roda pemerintahan pusat. Desa semakin seksi di mata publik. Rakyat di mana-mana dibuat terpesona. Desa seakan sanggup menciptakan segala sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Desa adalah jawaban bagi segenap rakyat. Desa adalah cermin bagi jalannya roda pemerintahan pusat. Pertarungan dan pertaruhan agama, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan kultural seakan bermula dan bermuara di desa.

Dapat kita simak penggalan syair lagu “Desa” dari Iwan Fals berikut. Desa harus jadi kekuatan ekonomi/Agar warganya tak hijrah ke kota/Sepinya desa adalah modal utama/ Untuk bekerja dan mengembangkan diri/Walau lahan sudah menjadi milik kota/Bukan berarti desa lemah tak berdaya/Desa adalah kekuatan sejati/Negara harus berpihak pada para petani/.

Kita tentu dapat melihat betapa tak sedikit warga desa yang hengkang untuk mengadu nasib di kota. Mereka yang sebagian besar generasi muda, merasa ragu untuk menggantungkan cita-citanya di desa. Anak-anak muda lantang meneriakkan untuk tak berhasrat lagi menggarap sawah peninggalan orangtuanya. Sawah dipilih mereka untuk ditukar dengan motor mewah, mobil, atau berdalih sebagai modal hidup di kota.

baca juga  Catatan Kecil; Kepada Keluarga Coelen

Beda kisah lagi semenjak guyuran dana desa berlaku. Desa kian hari menjadi dambaan bagi segenap warga. Rakyat kian meneguhkan diri untuk memuja desa. Pemerintah berikhtiar untuk membangun sebuah bangsa dari lapisan paling bawah. Desa seakan diberi kesempatan untuk lahir kembali. Bahkan terasa lahir berkali-kali setiap tahun. Selepas dana desa digelontorkan langsung dari pusat.

Dana desa seakan menjadi dalih pemerintah pusat untuk memanjakan pemerintahan desa. Di balik itu, desa kian diperhatikan dan diperbaiki. Tidak hanya fasilitas umum dan jalan-jalan desa saja yang dibuat elok, sistem pemerintahan desa pun kian diubah dari yang sudah biasa dilakukan turun-temurun. Sebut saja terkait pemberlakuaan tes seleksi perangkat desa yang bebas biaya. Perangkat atau pamong desa diangkat tidak lagi menggunakan proses pilihan suara. Tiada lagi ditemukan serangan fajar. Saling adu kekuatan uang untuk sebuah jabatan di pemerintahan desa.

Saya ingat, beberapa waktu yang lewat di Kabupaten Kendal, tes seleksi perangkat desa dilakukan serentak. Panitia penyelenggara tes dilakukan oleh lembaga yang dipercaya. Tes seleksi diupayakan transparan dan tiada lagi ditemukan jual beli jabatan. Para peserta diseleksi dengan pengerjaan soal-soal menggunakan sistem Computer Assisted Tes (CAT). Dilakukan di beberapa sekolah yang memiliki perangkat komputer lengkap dan memadahi. Area sekolah yang digunakan untuk seleksi dijaga dengan ketat oleh pihak keamanan.

Selepas usai mengerjakan soal, peserta dapat mengetahui langsung berapa skor nilai yang diperoleh. Bahkan saat peserta sudah keluar dari ruang tes, mereka dapat langsung melihat nilainya dan nilai peserta lain ditampilkan di dinding menggunakan proyektor. Sontak setiap peserta dapat mengetahui langsung siapa yang memperoleh nilai tertinggi. Otomatis dialah yang bakal menduduki dalam tiap jabatan perangkat desa yang telah didaftar.

baca juga  Pengajar di Luar Tempurung (Wawasan, 27 Juli 2017)

Dengan upaya demikian, seakan menjadi jawaban atas berderet-deret pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan oleh warga desa. Bahwa sebelumnya mereka pelan-pelan telah dapat menikmati proses pemilihan pemimpin tertinggi negara secara langsung, tanpa ada proses beli suara. Maka bolehlah, saat terselenggara pemilihan presiden, mereka enggan untuk datang ke tempat pemungutan suara. Dengan seribu alasan!

Namun ketika pemilihan perangkat desa, bahkan hingga pemilihan kepala desa, mereka selalu semangat! Warga selalu menanti serangan fajar! Warga menunggu amplop menyelinap melalui sela bawah pintu. Amplop yang berisi ratusan ribu uang dan kertas kecil bertuliskan mohon dukungan untuk kemajuan sebuah desa tercinta!

Kini pelan-pelan kita akan menyaksikan pesta itu telah lenyap dari jagat desa. Para pamong baru yang kini duduk di balai pemerintahan desa tiada lagi diciptakan dari kekuatan uang. Mereka yang berjabatan di desa, merekalah yang benar-benar berkompetensi. Mereka yang layak dan patut untuk mengemban jabatan, bergerak bersama rakyat.

Kini tentu kita akan menunggu, selanjutnya bagaimana dengan pemilihan kepala desa. Tentu jabatan ini sangat seksi dan menggoda, meskipun masanya dibatasi oleh periode yang mengikat. Benak masyarakat kita masih saja selalu beranggapan, bahwa siapa yang punya uang melimpah, maka ia yang akan memperoleh kekuasaan tertinggi di jagat desa.

Tentu sudah saatnya harus ada pembongkaran kebiasaan lama. Jika desa adalah kekuatan mendasar bagi sebuah negara. Jika kita yakini, bahwa politik sesungguhnya bermula dan bermuara di desa. Kita sangat berharap, jika desa dipimpin oleh sosok yang benar-benar terpilih. Kepala desa yang teruji, bukan yang terpilih karena berkekuatan uang. Selanjutnya, kesempatan menjadi pemimpin desa terbuka bagi masyarakat luas. Keran pemerintahan desa akan membukakan diri bagi para pemimpin muda kita. Meski segala itu terasa sangat berat, tak pernah akan berangkat ke TPS jika tak ada amplop dan tak ada serangan fajar yang kuat![]

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *