Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama

Oleh Setia Naka Andrian

Foto Caption: Penampakan persiapan pentas dongeng berjudul “Sidang Para Menthok” oleh Muhajir Arrosyid di Sarang Lilin Art Space, Perumahan Griya Pantura Regency Blok A No. 4 Desa Tosari, Kec. Brangsong, Kab. Kendal, Jawa Tengah, 51371.

Kita sungguh mafhum, tercapainya cita-cita sebuah bangsa tentu dengan tanpa berpaling dari nasib sebuah desa. Pemerintah pusat tak boleh memunggungi desa. Negara yang menjulang tinggi ditopang dari desa yang ditata sedemikian rupa. Desa yang diberi kebebasan bertaruh mimpi, berencana, dan menciptakan segala hal yang sepenuhnya atas kehendak segenap warga.

Maka bergulirlah upaya pemerintah Jokowi mengucurkan dana yang melimpah bagi desa. Negara telah menggoda warga dengan dana desa. Dengan nominal yang tak tanggung-tanggung. Akhirnya desa pula keleluasaan untuk membangun. Dari mulai infrastruktur hingga bangunan sumber daya manusianya. Pendamping desa pun diturunkan untuk turut membantu, menjaga, dan mengawasi. Agar kucuran dana yang tak tanggung-tanggung itu dapat diserap sebagaimana mestinya.

Desa sontak menjadi sebuah panggung yang menggemaskan bagi khalayak. Tidak sedikit pihak berkepentingan yang terpelanting atas godaan dana desa. Desa seolah menjadi kerajaan kecil yang tumbuh dan bergerak di antara roda pemerintahan pusat. Desa semakin seksi di mata publik. Rakyat di mana-mana dibuat terpesona. Desa seakan sanggup menciptakan segala sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Desa adalah jawaban bagi segenap rakyat. Desa adalah cermin bagi jalannya roda pemerintahan pusat. Pertarungan dan pertaruhan agama, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan kultural seakan bermula dan bermuara di desa.

Dapat kita simak penggalan syair lagu “Desa” dari Iwan Fals berikut. Desa harus jadi kekuatan ekonomi/Agar warganya tak hijrah ke kota/Sepinya desa adalah modal utama/ Untuk bekerja dan mengembangkan diri/Walau lahan sudah menjadi milik kota/Bukan berarti desa lemah tak berdaya/Desa adalah kekuatan sejati/Negara harus berpihak pada para petani/.

Kita tentu dapat melihat betapa tak sedikit warga desa yang hengkang untuk mengadu nasib di kota. Mereka yang sebagian besar generasi muda, merasa ragu untuk menggantungkan cita-citanya di desa. Anak-anak muda lantang meneriakkan untuk tak berhasrat lagi menggarap sawah peninggalan orangtuanya. Sawah dipilih mereka untuk ditukar dengan motor mewah, mobil, atau berdalih sebagai modal hidup di kota.

baca juga  Aroma Tubuh, Erotisme, dan Identitas (Wawasan, 2 Februari 2017)

Beda kisah lagi semenjak guyuran dana desa berlaku. Desa kian hari menjadi dambaan bagi segenap warga. Rakyat kian meneguhkan diri untuk memuja desa. Pemerintah berikhtiar untuk membangun sebuah bangsa dari lapisan paling bawah. Desa seakan diberi kesempatan untuk lahir kembali. Bahkan terasa lahir berkali-kali setiap tahun. Selepas dana desa digelontorkan langsung dari pusat.

Dana desa seakan menjadi dalih pemerintah pusat untuk memanjakan pemerintahan desa. Di balik itu, desa kian diperhatikan dan diperbaiki. Tidak hanya fasilitas umum dan jalan-jalan desa saja yang dibuat elok, sistem pemerintahan desa pun kian diubah dari yang sudah biasa dilakukan turun-temurun. Sebut saja terkait pemberlakuaan tes seleksi perangkat desa yang bebas biaya. Perangkat atau pamong desa diangkat tidak lagi menggunakan proses pilihan suara. Tiada lagi ditemukan serangan fajar. Saling adu kekuatan uang untuk sebuah jabatan di pemerintahan desa.

Saya ingat, beberapa waktu yang lewat di Kabupaten Kendal, tes seleksi perangkat desa dilakukan serentak. Panitia penyelenggara tes dilakukan oleh lembaga yang dipercaya. Tes seleksi diupayakan transparan dan tiada lagi ditemukan jual beli jabatan. Para peserta diseleksi dengan pengerjaan soal-soal menggunakan sistem Computer Assisted Tes (CAT). Dilakukan di beberapa sekolah yang memiliki perangkat komputer lengkap dan memadahi. Area sekolah yang digunakan untuk seleksi dijaga dengan ketat oleh pihak keamanan.

Selepas usai mengerjakan soal, peserta dapat mengetahui langsung berapa skor nilai yang diperoleh. Bahkan saat peserta sudah keluar dari ruang tes, mereka dapat langsung melihat nilainya dan nilai peserta lain ditampilkan di dinding menggunakan proyektor. Sontak setiap peserta dapat mengetahui langsung siapa yang memperoleh nilai tertinggi. Otomatis dialah yang bakal menduduki dalam tiap jabatan perangkat desa yang telah didaftar.

baca juga  Panggung Berpijak Kahanan

Dengan upaya demikian, seakan menjadi jawaban atas berderet-deret pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan oleh warga desa. Bahwa sebelumnya mereka pelan-pelan telah dapat menikmati proses pemilihan pemimpin tertinggi negara secara langsung, tanpa ada proses beli suara. Maka bolehlah, saat terselenggara pemilihan presiden, mereka enggan untuk datang ke tempat pemungutan suara. Dengan seribu alasan!

Namun ketika pemilihan perangkat desa, bahkan hingga pemilihan kepala desa, mereka selalu semangat! Warga selalu menanti serangan fajar! Warga menunggu amplop menyelinap melalui sela bawah pintu. Amplop yang berisi ratusan ribu uang dan kertas kecil bertuliskan mohon dukungan untuk kemajuan sebuah desa tercinta!

Kini pelan-pelan kita akan menyaksikan pesta itu telah lenyap dari jagat desa. Para pamong baru yang kini duduk di balai pemerintahan desa tiada lagi diciptakan dari kekuatan uang. Mereka yang berjabatan di desa, merekalah yang benar-benar berkompetensi. Mereka yang layak dan patut untuk mengemban jabatan, bergerak bersama rakyat.

Kini tentu kita akan menunggu, selanjutnya bagaimana dengan pemilihan kepala desa. Tentu jabatan ini sangat seksi dan menggoda, meskipun masanya dibatasi oleh periode yang mengikat. Benak masyarakat kita masih saja selalu beranggapan, bahwa siapa yang punya uang melimpah, maka ia yang akan memperoleh kekuasaan tertinggi di jagat desa.

Tentu sudah saatnya harus ada pembongkaran kebiasaan lama. Jika desa adalah kekuatan mendasar bagi sebuah negara. Jika kita yakini, bahwa politik sesungguhnya bermula dan bermuara di desa. Kita sangat berharap, jika desa dipimpin oleh sosok yang benar-benar terpilih. Kepala desa yang teruji, bukan yang terpilih karena berkekuatan uang. Selanjutnya, kesempatan menjadi pemimpin desa terbuka bagi masyarakat luas. Keran pemerintahan desa akan membukakan diri bagi para pemimpin muda kita. Meski segala itu terasa sangat berat, tak pernah akan berangkat ke TPS jika tak ada amplop dan tak ada serangan fajar yang kuat![]

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Comments

    1. Selalu ada banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah pak, untuk mendapatkan potensi alam dari desa. Misalnya pemerintah kerja sama antara kepala desa, salah satu contohnya pemerintah memberikan sejumlah jutaan bahkan milyaran uang kepada kepala desa untuk mempererat hubungan antara Pemda dan kepala desa dan nantinya dua pihak ini akan menghipnotis masyarakat untuk mengambil potensi alam mereka dengan cara membagikan sejumlah uang lagi kepada masyarakat secara terus-menerus.

    2. Bahaya pak, kalau potensi alam dari desa itu banyak. Pemda akan berteman dengan kepala desa dan mereka akan bersama-sama menghipnotis masyarakat untuk mengambil potensi alam dari desa tersebut selagi yang masih ada

  1. Tidak bisa dipungkiri desa merupakan pondasi awal untuk kemajuan suatu bangsa dan ini sudah menjadi tanggung jawab kita selaku pemuda untuk membawa kebermanfaatan bagi desa dengan turut serta membantu mensukseskan program pemdes, dan harapannya dengan kucuran dana dari pemerintah pusat dapat dimaksimalkan dengan baik oleh pemerintah desa guna meningkatkan kualitas mutu desanya. Berbicara mengenai serangan fajar sepertinya sudah menjadi hal buruk yang kerap terjadi dan semoga kedepannya masyarakat semakin bijak dalam menyikapi hal tersebut karena pada dasarnya pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu komit dan benar-benar melakukan kejujuran (tidak melakukan moneypolitic) pada awal mencalonkan diri, mari menyikapi dengan bijak tolak hal tersebut, ciptakan kebaikan kecil bagi desa guna kemajuan bangsa indonesia.

  2. Banyak pemuda desa yg lebih memilih untuk merantau dan gengsi untuk bekerja di desa. Alangkah baiknya secara perlahan pemikiran seperti itu diubah, untuk mengurangi pemuda desa yg merantau dan bisa mengembangkan desa. Pemerintah desa juga harus turut membantu dan mengayomi.

    (Dwi Jeliati 5B)

  3. Dari desa terbitlah kota
    Meski desa tampak kecil dan tak seglamor kota namun asal mula semua dari desa.
    Entah itu bahan pokok makanan,
    Orang orang yang kian membludak di kota semua berasal dari desa.
    Pekerja yang kian hari tidak mengenal lelah.
    Uang materi selalu dikejar
    Demi mencukupi kebutuhan dan gengsi
    Mereka rela memboyongkan diri mengadu nasib di kota.

    Pekerja yang sudah seperti robot
    Yang sebagian tidak mengenal malu
    Dan tidak memandang pekerjaannya
    Malam, siang, pagi tidaklah dikenal
    Semua waktu itu tampak sama di kota.
    Yang hanya berdiam diri menjadi pengangguran banyak,
    Yang bekerja banting tulang banyak.
    Yang bekerja sambil refreshing pun ada.
    Nasib ditangan mereka sendiri
    Mereka sendiri yang berusaha
    Namun Tuhan pun inti dari semua peran dan semua yang terjadi.

    Meski desa tidak seglamor kota
    Namun sekarang menjadi primadona setiap warga.
    Guyuran dana dari pemerintah kota menjadikan godaan untuk semua warga desa.

    Menurut saya semua itu pantas dilakukan untuk menghargai para pekerja desa yang mereka sebut petani.
    Para pemerintah harus melihat petani yang bekerja keras demi mewujudkan panen yang berlimpah dan baik.
    Semoga dengan perubahan yang ada di desa tidaklah lagi disepelekan masyarakat kota.
    (Elli Rohmawati 5D).

  4. Benar, saya sendiri dan mungkin semua orang berharap, agar kelak bisa memiliki pemimpin yang benar-benar ingin maju bersama masyarakat, memakmurkan desa tanpa ada iming-iming uang untuk membeli kursi jabatan. Desa menjadi tolak ukur sebuah negara, karena semua kebutuhan pokok berawal dari desa. Saya bahagia menjadi bagian dari masyarakat desa.

    Rani Tamara 3B

  5. Benar sekali, tak perlu diragukan lagi bahwa desa merupakan hinterland yang mana sebagai pemasok kebutuhan pokok untuk masyarakat kota dan kemudian akan mempengaruhi pasar-pasar yang ada di kota. Apalagi sekarang setiap tahun pemerintah pusat telah menganggarkan Dana Desa untuk diberikan kepada seluruh desa di Indonesia, tak bisa dipungkiri adanya anggaran dana desa tersebut dapat memikau banyak orang untuk menjadi bagian dari pemerintah desa. Berdasarkan fakta yang terjadi selama ini, pelaksanaan pada politik desa masih banyak terdapat praktik-praktik negatif seperti money politic (politik uang), pencarian kambing hitam (pihak yang disalahkan), bahkan ada yang menggunakan polemik dukun dan lain sebagainya yang semua itu dilakukan oleh pihak pihak berkepentingan yang tidak bertanggung jawab sehingga akan menimbulkan kesan nuansa kampanye hitam yang bersifat rahasia namun umum terjadi dikalangan masyarakat.
    Fairuz Inas Mal 1A

  6. Terima kasih Bapak telah berkenan membagikan tulisan ini kepada kami. Mohon izin untuk membuat jejak di sini.

    Sebagai pembaca tulisan Bapak, sejak awal—saat melihat foto perlengkapan pentas yang diposisikan di awal dan disertai takarir—saya mengira akan diajak untuk menyelami dunia kreatif masyarakat desa. Kondisi tersebut masih bertahan saat membaca dari awal hingga akhir paragraf pertama. Selain itu, paragraf pertama juga turut memantik pikiran saya yang seolah berdialog atas konsep “desa mawa cara, negara mawa tata” dalam konteks pembangunan dan/atau regulasi—walaupun pemahaman saya atas peribahasa tersebut pun masih awang-awang dan remang-remang.

    “Wah, apik iki, menarik”, begitulah pikir saya, Pak, saat sampai pada akhir paragraf pertama.

    Hanya saja, diri saya ikut menimpali diri saya yang lain, “Apakah memang benar akan dikerucutkan ke arah tersebut? Bukan ke hal lain?”

    Begitu menurun pada paragraf-paragraf berikutnya, saya mulai berpikir bahwa arah pembahasan Bapak tidak menuju konsep “desa mawa cara, negara mawa tata” seperti yang saya ketahui secara umumnya, tetapi justru menuju mekanisme pemilihan perangkat desa yang diawali oleh penjelasan Bapak tentang dana desa.

    Perlu waktu cukup lama, sebenarnya, bagi pembaca awam seperti saya untuk memahami maksud yang ingin Bapak sampaikan saat mata dan pikiran saya mulai menjamah paragraf ketiga kemudian berjumpa dengan penggalan syair lagu “Desa” karya Iwan Fals pada paragraf keempat hingga beberapa paragraf berikutnya. Jembatan yang Bapak coba bangun tersebut, bagi saya, cukup susah untuk saya lewati. Sampai pada paragraf yang terdapat penjelasan pemilihan perangkat desa, saya dan diri saya yang lain justru baru lega karena bisa mencerna tulisan Bapak lebih mudah daripada saat melewati jembatan tersebut.

    Pada bagian tersebutlah, saya bertemu dengan tes seleksi perangkat desa menggunakan CAT dan hasil tes langsung dipublikasi saat selesai, yang cukup menarik bagi saya pribadi. Alternatif seleksi tersebut cukup menarik bagi saya karena hal-hal yang berbeda biasanya memang cukup atraktif dan menyita perhatian saat diketahui pada kali pertama. Saya pun pernah menanyakan mekanisme pemilihan kepala desa beserta perangkat desa yang dapat dinilai secara autentik kepada seorang teman, tetapi pikiran kecil saya belum nyandak sekalipun teman saya menjawab layaknya sebuah buku berbicara.

    Walaupun demikian, diri saya yang lain seolah juga ingin berdialog, “Apakah CAT memang dapat mengukur kemampuan seseorang dalam mengelola sebuah desa/kelurahan atau setidaknya membantu tugas kepala desa/lurah? Soal-soal tersebut—yang merupakan instrumen penilaian—dibuat berdasarkan atas hal apa apa dan bagaimana mekanisme/prosedur hingga aturan main penyusunan soal tersebut sejak perencanaan hingga instrumen diujikan?”

    Oleh karena pikiran kecil saya ora nyandak, saya biarkan pikiran diri saya yang lain tersebut lalu begitu saja daripada menjadi beban pikiran saya.

    Sebagai pembaca awam, sebatas itulah yang muncul saat membaca tulisan Bapak yang ingin saya sampaikan kepada Bapak. Mohon maaf jika tulisan saya terdapat kata—atau sejenisnya—yang menyinggung perasaan Bapak. Sekali lagi, terima kasih atas tulisan yang Bapak bagikan.

    (Muhammad Ulul Uluwwi, 3B)

  7. Saya setuju Dengan Kemajuan teknologi Informasi komunikasi dan transportasi telah memberikan kemudahan di segala bidang kehidupan manusia misalnya, Melalui fasilitas internet masyarakat dapat dengan mudah Melakukan berbagai macam hal contoh : Melaksanakan Tes CAT. CAT merupakan tes dalam seleksi CPNS berbasis komputer, dimana nilai dapat dimonitor langsung oleh masyarakat umum saat peserta mengerjakan soal atau usai tes. Dengan hadirnya CAT sejak tahun 2013, diharapkan negara mendapatkan sumber daya manusia yang profesional. CAT adalah suatu metode seleksi dengan alat bantu komputer yang digunakan untuk mendapatkan standar minimal kompetensi dasar yang digunakan dalam seleksi CPNS. Saya berharap Masyarakat lainnya juga Melaksanan Tes dengan sistem CAT tidak hanya di Kendal. Sekarang Politik SARA marak terjadi di Indonesia karena kaderisasi tidak berjalan dan rekrutmen calon tidak dilakukan secara demokratis. Mungkin dengan adanya Tes CAT hasilnya lebih kompetitif, adil, obyektif, transparan, dan bebas dari KKN.
    LIA LUFITASARI 1B

  8. Saya senang melihat karya ini, Terima kasih kepada, Bapak setia Naka Andrian, karena sebagai warga negara yang baik perlu dan penting juga kita memikirkan dan membantu saudara se tanah air yang kurang beruntung, contoh hal nya pada pembangunan daerah yang belum merata karena hambatan biaya. Sebagai penulis dan bergulat di bidang sastra, ya beginilah cara yang tepat untuk mengungkapkan rasa simpati dan empati kita, kabar-kabar dan fakta tentang Desa perlu kita ungkapkan agar banyak orang yang tau seberapa maju nya suatu daerah perlu di ketahui. Saya juga merasa bangga ketika kabar kemakmuran ini di suarakan, sebab kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat desa juga tanggung jawab kita semua sebagai warga Indonesia, oleh karena itu sebuah tulisan seperti inilah yang harus di apresiasi sebab rasa kepedulian kepada sesama memang penting, tetapi mungkin ada sebuah karya yang kurang setuju untuk saya, letaknya pada jabatan di lakukan dengan tes ini. Karena sesuai dengan pengamatan saya seorang pemimpin dan kerja nyata yang baik tidak selamanya di peroleh dari tes, sebab orang yang bernilai tinggi dalam tes, belum tentu kerja praktek nya baik, banyak yang bisa mengerjakan tes dan mendapatkan hasil yang maksimal tetapi kerja lapangnya nol besar. Dengan adanya pesta demokrasi kami rakyat Indonesia juga merasa senang sebab kita merasa suara kita di dengarkan, berkaitan dengan adanya sebagian golput menurut saya berarti mereka sudah memiliki rasa manut kepada hasil yang ada. Tetapi tetap saja sebenarnya perlu dihilangkan para golput. Karena ini pesta rakyat.

    (Lilik Andriyan 3B)

  9. Mengapa kita harus bangga menjadi warga desa?
    Ya, benar sekali. Keindahan alam yang terhampar luas, bentangan sawah,  lambaian pohon-pohon di sepanjang jalan, gemercik air yang mengalir deras dari mata air pegunungan, sungai yang masih jernih tanpa. Begitulah gambaran dari sebuah desa, desa yang masih asri dan kental dengan kekayaan alam dan budaya. Tetapi perku diketahui, Dalam hubungannya dengan kota, desa berfungsi sebagai daerah belakang atau hinterland. Maksudnya, desa adalah pemasok kebutuhan kota. Kebutuhan kota yang bisa dipenuhi desa antara lain pangan dan tenaga kerja. Umumnya, desa lebih banyak memproduksi dibanding mengonsumsi. Kelebihan produksi inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat di luar desa tersebut. Desa juga menjadi sumber tenaga kerja. Pekerjaan di desa sendiri meliputi petani, peternak, nelayan, buruh industri, dan lainnya.
    Sementara di perkotaan, banyak pekerja di kota yang sebenarnya berasal dari desa. Banyak yang bekerja sebagai buruh kasar, namun banyak juga yang sukses berdagang dan menempati jabatan di berbagai bidang profesi.
    RINA OCTAVIANA 1A

  10. Penggambaran mengenai desa pada teks di atas digambarkan bak mahkota dari pemerintahan, sebuah tempat yang unggulkan, menjadi salah satu pusat pada suatu tempat untuk memenuhi beberapa keperluan pokok suatu negeri, penggambaran yang pantas dan elok pada sebuah desa, tanpa dilebihkan maupun dikurangkan. Tapi pendapat mengenai desa sekarang sudah berbeda dari sebelumnya mengenai pilkada saya rasa di daerah tempat saya masing diberlakukan seperti halnya penggambaran desa dulu. Curang? Memang sudah menjadi kebiasaan daerah ditempat saya tinggal, tak lagi menjadi aib yang besar ketika pemilihan kepada daerah, yang nyatanya masih berlaku sampai sekarang. Serangan fajar justru ditunggu para rakyatnya untuk mendapatkan beberapa lembar kertas berharga itu.

    Pada penggambaran mengenai desa yang selalu baik, sebaiknya diceritakan juga mengenai beberapa keresahan mengenai desa, sudah diceritakan mengenai desa yang berbeda dari dulu mengenai serangan fajar. Sebaiknya diceritakan sedikit lebih dalam lagi agar orang awam yang membaca melihat gambaran bahwa desa tidak hanya sebagai tempat yang selalu bagus saja, tetapi ada sisi kelam dibalik itu yang lebih baik diceritakan juga untuk menambah ketertarikan cerita. Terima kasih:)

    (Tarti Indah Sari 5D)

  11. Benar sekali , tidak perlu di ragukan lagi karena desa merupakan hiterland yang mana sebagai pemasok kebutuhan pokok untuk masyarakat kota. Bahkan Desa adalah cermin bagi jalannya roda pemerintahan pusat. Pertarungan dan pertaruhan agama, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan kultural seakan bermula dan bermuara di desa. Dan sekarang pemerintah juga menganggarkan dana desa untuk diberikan kepada seluruh desa . Maka dari itu banyak warga desa yang tergiur hanya ingin menjadi bagian pemerintahan desa. Mereka menyuap uang dengan sebanyak mungkin, dan sebaiknya kita sebagai warga desa memilih calon bagian pemerintah desa yang baik dan bertanggung jawab.
    Nama: Ratna Dewi Astuti

    1. Benar sekali , tidak perlu di ragukan lagi karena desa merupakan hiterland yang mana sebagai pemasok kebutuhan pokok untuk masyarakat kota. Bahkan Desa adalah cermin bagi jalannya roda pemerintahan pusat. Pertarungan dan pertaruhan agama, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan kultural seakan bermula dan bermuara di desa. Dan sekarang pemerintah juga menganggarkan dana desa untuk diberikan kepada seluruh desa . Maka dari itu banyak warga desa yang tergiur hanya ingin menjadi bagian pemerintahan desa. Mereka menyuap uang dengan sebanyak mungkin, dan sebaiknya kita sebagai warga desa memilih calon bagian pemerintah desa yang baik dan bertanggung jawab.
      Nama: Ratna Dewi Astuti

  12. Benar sekali , tidak perlu di ragukan lagi karena desa merupakan hiterland yang mana sebagai pemasok kebutuhan pokok untuk masyarakat kota. Bahkan Desa adalah cermin bagi jalannya roda pemerintahan pusat. Pertarungan dan pertaruhan agama, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan kultural seakan bermula dan bermuara di desa. Dan sekarang pemerintah juga menganggarkan dana desa untuk diberikan kepada seluruh desa . Maka dari itu banyak warga desa yang tergiur hanya ingin menjadi bagian pemerintahan desa. Mereka menyuap uang dengan sebanyak mungkin, dan sebaiknya kita sebagai warga desa memilih calon bagian pemerintah desa yang baik dan bertanggung jawab.
    Nama: Ratna Dewi Astuti 1B

  13. Benar sekali, desa itu merupakan hinterland yang artinya pemasok kebutuhan kota, kebutuhan kota yang bisa di penuhi desa antara lain pangan dan lapangan kerja. Semua pasar-pasar yang ada di kota bahan-bahannya dari desa contohnya sayuran, buah-buahan, dan lain-lain. Banyak orang di desa ingin menjadi bagian dari pemerintah desa, karena setiap tahun pemerintah telah menganggarkan dana desa untuk di berikan oleh seluruh desa di Indonesia, maka dari itu banyak orang tergiur dengan dana tersebut dan berlomba-lomba ingin menjadi bagian dari pemerintah desa. Berdasarkan fakta yang terjadi selama ini, banyak hal negatif untuk bisa menjadi bagian dari pemerintah desa, semua orang yang mencalonkan untuk menjadi bagian dari pemerintah desa, mereka menyuap warganya dengan uang sebanyak mungkin, agar bisa menang menjadi bagian dari pemerintah desa. Siapa yang menyuap uang paling besar/banyak pasti akan di pilih. Ini merupkan hal yang tidak baik dengan main kecurangan. Yang baik menjadi bagian dari pemerintah adalah orang yang bertanggung jawab, pintar, baik, dan tidak korupsi. Agar desa menjadi lebih baik .
    Peny Balqis Nugraheni 1B

  14. Mungkin belum banyak Kota atau Kabupaten yang menggunakan sistem CAT seperti di Kabupaten Kendal ini. Cara seperti ini sangat bagus untuk kemajuan desa kita, karena kita bisa benar-benar tahu mana pemimpin yang cerdas dan mana pemimpin yang hanya mengandalkan kekayaannya untuk memimpin desa tersebut, di zaman sekarang ini yang kita butuhkan bukanlah pemimpin yang melimpah harta melainkan pemimpin yang melimpah kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Semoga cara ini bisa dicontoh oleh Kota-kota dan Kabupaten-kabupaten lain dalam pemilihan pemimpin desanya agar desa lebih maju dan jaya. Semoga cara ini bukan hanya untuk pemerintahan desa saja, tetapi pemerintahan Negeri Republik Indonesia. ( Annisa Pratiwi Widayani 3B)

  15. Sebenarnya sebuah kebiasaan “lebih bersemangat saat pemilihan kepala desa” sudah menjadi adat istiadat hampir seluruh desa dari jaman dulu, hal ini terjadi karena memang kerukunan atau kekeluargaan di desa terkenal sangatlah kental. Hanya saja kita ketahui semakin maju jamannya maka kebiasaannya pun semakin berubah. Bersemangat mengiring para calon kepala desa yang awalnya didasarkan atas sikap kekeluargaan justru berubah menjadi sebuah ajang untuk memperkaya diri. Tentu saja hal in ibukan tanpa alasan, dimasa yang seperti sekarang korupsi bukan lagi hal yang menakutkan, tak kurang dari puluhan pejabat berlomba-lomba memperkaya diri dengan menggunakan uang rakyat beralasan untuk kepentingan rakyat, hal ini lah yang kemudian membuat masyarakat perlahan sulit untuk bisa mempercayai para calon pejabat yang memang sebagian besar dari mereka hanya menjanjikan namun tidak menepati.
    Sistem pemilihan secara manual maupun dengan komputer tentu saja memiliki plus minus. Jika dilakukan secara manual maka sistem pemilihan dapat saja dicurangi oleh oknum-oknum yang memang tidak berperilaku jujur, apalagi jika panitia pemilihan melakukan kesalahan tentu akan sangat mengganggu proses pemilihan itu sendiri. Begitu pula dengan pemilihan menggunakan komputer, meskipun dengan komputer dijaman yang sekarang ini bukanlah hal sulit untuk mempelajari bahasa komputer sehingga bagi mereka yang memang ingin berbuat curang mudah saja untuk menyadap sistemnya, namun dari sisi positif tentu saja pemilihan atau seleksi dengan menggunakan komputer dapat membantu masyarakat untuk melek teknologi.
    Pada akhirnya semua kembali pada pribadi masing-masing. Tak sedikit orang yang jujur, namun tak kalah banyak juga orang yang ingin mendapatkan keuntungan tanpa harus bekerja sampai lelah.

    Yukha Ayatin 1B

  16. Pembahasan yang sangat menarik, tak terduga isi didalamnya mengenai politik. Politik dipandangan saya itu sangat lucu. Ingin tak menggunakan uang(suap menyuap) tapi ini dunia. Dimana segala sesuatu harus ada uang. Mau membuang kotoran diri sendiri aja harus mengeluarkan uang untuk pinjam tempatnya. Dirumah sendiripun tetap mengeluarkan uang bulanan untuk air maupun listrik. Memang tidak mungkin jika tida ada uang didalam sebuah acara besar apa lagi melibatkan orang banyak yang harus dijaga orang banyak yang mengeluarkakn keringat banyak yang pasti keringat tersebut harus diganti dengan uang. Dengan demikian sedikit kemungkinana jika politik tanpa uang. apalagi untuk menentukan pilihan sebuah pemimpin yang notabennya kita tidak mengenal secara mendalam siapa beliau, apakah dia memang betul orang baik? apakah beliau memang betul orang yang bisa dipercaya masyarakat? lalu apakah beliau kesehariannya taat agama? semua masyarakat yang akan memilih tidak semuanya mengetahui kebenaran pribadi beliau. Lalu harus dari mana kita melihat jika beliau orang uang tepat untuk memimpin sebuah desa maupun negara? jika hanya dilihat dari visi misi atau ucapan orang orang yang mengatakan beliau adalah orangyang baik, orang yang tepat. Ya kalau orang tersebut jujur kalau sudah disuap apakah maasyarakat juga tau?
    Pemilihan sebentar lagi, jangan golput. Agar pembangunan di negara ini juga akan sama majunya dengan negara lain. Tetap menjadi negara yang manyarakatnya sebagian besar cinta damai, mencintai produk lokal, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Salam damai dari saya yang tinggal di desa namun masih menjadi bagian dari kota besar 🙂
    (Ghaitsa Najwan 5D)

  17. Lia Kusumasari 5D
    Ada beberapa kata yang bagi orang awam belum mengerti artinya. Contoh: mafhum, terpelanting, dan dalih.
    Dalam esai tersebut bisa kita pelajari bahwa tidak semua hal bisa dibayar atau diganti dengan uang dan dengan adanya tes seleksi, desa tersebut bisa menikmati proses pemilihan secara langsung tanpa ada proses beli suara.

  18. Berbicara tentang desa rasanya hampir semua orang akan membayangkan tempat tradisional, sarana yang terbatas, atau fasilitas yang seadanya. Meski demikian, ada pula yang membayangkan pemandangan alam yang asri dengan hamparan hijau membentang. Jika seperti itu, rasanya segala kukurangan, yang sering muncul dalam benak khalayak akan menjadi bayaran setimpal.
    Tapi itu dulu, saat desa benar-benar harus berjuang sendiri. Kini pemerintah telah memberi perhatian pada desa. Dana desa yang diberikan pemerintah perlahan namun pasti dapat membantu membangun desa.
    Desa kini mulai bersolek, tidak mau kalah pada tampilan kota. Masyarakat desa mulai mengembangkan apa yang mereka punya. Mulai dari sumber daya manusia hingga sumber daya alam dikembangkan bersama. Mengusung nuansa alami, kini banyak tempat wisata dibuka dipedesaan. Ini sekaligus menjadi peluang bagi masyarakat desa untuk memulai dan mengembangkan usaha mereka.
    Bukan hanya itu saja, desa juga kini menjadi sasaran empuk bagi mereka yang haus akan kuasa. Jumlah masyarakat yang tidak bisa dianggap kecil tentu menjadi perhatian bagi mereka yang mengharap tahta. Entah oleh mereka yang tulus mengabdi atau yang menginginkan kekuasaan tertinggi.
    Pernah suatu ketika, suatu desa mendadak mendapat sumbangan aspal jalan. Tentu seluruh masyarakatnya merasa gembira, karena akhirnya batas antara desa dan kota makin terkikis. Meski begitu ada syarat yang harus dipenuhi oleh masyarakatnya. Tentu saja, tidak lain dan tidak bukan memilih sang pemberi sumbangan pada saat pemilihan.
    Pernah juga pada pemilihan yang baru-baru saja berlangsung, seorang lelaki berkunjung ke rumah saya. Tentu tanda tanya mulai muncul dibenak saya ketika lelaki tersebut berbicara pada kepala keluarga. Tanpa basa-basi dia mengatakan meminta suara. Ya, suara, bukan lagi izin dan kemudian menawarkan sejumlah uang. Berani betul lelaki ini, pikir saya kala itu. Hilang akal atau hilang keimanan kah dia kala itu.
    Saat itu, sesaat saya lupa bahwa tradisi ini sebenarnya sudah mengakar disetiap pemilu. Sudah menjadi rahasia umum jika mendekati pemilu celah bawah pintu pada pagi hari akan kita jumpai amplop dengan isian tertentu. Tapi itu dulu. Sama seperti desa yang perlahan namun pasti berubah, tradisi ini juga mulai berubah.
    Kini mereka tidak lagi ragu menampakkan diri dan membeli suara. Mulai berkunjung dengan dalih silaturahmi hingga pengajian memohon doa restu ramai terjadi dikala pemilu. Tentu dalih apapun itu tidak dapat dibenarkan bukan.
    Walau tampak menggiurkan, nyatanya masih banyak yang tidak tergoda. Mereka yang berusaha membeli suara pemilih pada akhirnya menelan pil pahit. Sama seperti cara mereka membeli suara yang mulai berkembang, cara pemilih memilih pemimpinnya juga mulai berkembang. Tentu tujuan utamanya untuk kemajuan bersama, meski sebagian besar masyarakat masih ragu menyampaikan praktik kotor ini. Disinilah peran pemerintah dalam memberikan pemahaman pada masyarakat diperlukan.
    Dewi Kartika Nurtaspeni 5D

  19. Saya setuju, dari berita yang saya dengar bahwa dua tahun belakangan ini Indonesia tidak mengimpor beras dari luar negeri. Petani padi telah mampu memenuhi kebutuhan beras sebagai makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia. Begitu juga dengan hasil bumi dan laut lainnya yang mampu menyediakan kebutuhan pangan dan meminimalisir impor pangan. Tentu saja hal ini menjadi bukti peran desa sebagai pemasok untuk masyarakat kota.
    Saya rasa dengan tidak adanya serangan fajar yang membuat orang-orang enggan untuk menggunakan hak pilihnya juga ada dampak negatifnya. Bukannya saya mendukung praktik haram tersebut. Tetapi, dari kabar burung yang beredar, surat suara yang masih kosong biasanya akan disalahgunakan oleh oknum-oknum dari pihak calon terpilih. Sebaiknya jika ingin melakukan golput, golputlah dengan benar!

  20. Sebuah tempat yang tenang, damai, jauh dari hiruk pikuk kota memang identik dengan yaitu desa. Desa memang sebuah tempat yang banyak udara segar, namun kenyataannya sekarang tidak demikian, banyak desa sudah tercemar, baik lingkungan, sosial, budaya dan sebagainya. Hal tersebut sangat memprihatinkan karena suasana desa tak seperti biasanya dulu lagi, perubahan yang terjadi tak semata-mata berubah begitu saja tanpa adanya proses. Perubahan itu pasti mengalami sebuah proses, dimana semua proses antara proses positif dan negatif saling bercampur untuk menghasilkan hasil yang nantinya akan terlihat. Akan dibawa kemana hasil tersebut? Tentunya tergantung pada kepribadian seseorang yang menuntut adanya suatu proses perubahan demi menghasilkan sebuah harapan yang didambakan. (Luqman Aditya Purnama 5D)

  21. Memang sudah sepatutnya warga memilih pemimpin yang cerdas, beretika, bertanggungjawab, dan mengedepankan kepentingan rakyantnya ketimbang urusan pribadinya. Biasanya pemimpin yang mengandalkan harta untuk membeli hak-hak suara, memilih pengurus/perangkat desapun berasal dari keluarganya sendiri. Sehingga jika ada uang turun dari pemerintah, kluarganya ikut kebagian mendapatkan uang tersebut. Seharusnya, pada zaman sekarang ini dalam memilih calon pemimpin harus benar-benar real dilihat dari kemampuan kandidat, bukan dari orang yang kaya dan penyogok uang terbesar dia yang menjadi pemimpin. Dan tentunya pemimpin mampu meninggatkan jiwa gotongroyong rakyatnya, agar keasrian dan kekayaan yang ada di desa dapat dilestarikan. Sudah sepatutnya sistem CAT yang dilakukan di desa kendal ini dilakukan di desa-desa lain. Namun dengan keadaan yang minim, fasilitas di desa desa terpencil seperti di saya belum memadahi seperti fasilitas-fasilitas tersebut.

  22. Benar sekali. Tidak sedikit orang tergiur dengan dana desa. Banyak perangkat desa yang terlibat kasus penggelapan dana. Padahal seharusnya, sebagai perangkat desa atau orang yang bertangung jawa terhadap desa, bersikap lebih melindungi dan mengayomi masyarakat serta semua hal yang ada pada desa. Selain kasus tersebut, tidak dapat dipungkiri juga, banyak orang yang rela merantau ke kota yang katanya mengandung banyak rezeki di sana. Bahkan mereka sudah enggan menggarap sawah karena dirasa pekerjaan yang tidak selalu menguntungkan. Misalkan saja jika terjadi musibah gagal panen, entah oleh hama ataupun oleh cuaca. Sehingga mereka berbondong-bondong ke kota untuk mengais rezeki. Ada juga yang rela menjual sawahnya demi ditukar dengan mobil, motor, bahkan modal untuk pergi ke kota.
    Berbicara perangkat desa, seperti yang kita ketahui, bahwa salah satunya adalah Kepala Desa, dilakukan pemilihan setiap 5 tahun sekali. Itu pun semua bisa dibeli menggunakan uang. Mana yang memberi uang, itulah yang dipilih, dan akhirnya menang menjadi Kepala Desa. Saya rasa itu sudah menjadi rahasia umum. Tidak hanya Kepala Desa saja, Bupati pun juga demikian. Padahal pemilu berasaskan luber jurdil, entah mengapa dari atasan (Kabupaten) saja seperti itu, apalagi dengan desa? Namun tak semua perangkat tiap periode berganti. Di desa saya, carik atau sekretaris desa, semenjak saya lahir bahkan sebelum saya lahir, sampai dengan tahun kemarin sekiranya tahun 2018/2019, baru dilakukan pergantian.
    (Hesti Dyah Wulandari, 5D)

  23. Mantap sekali, Pak Naka. Karya yang bapak terbitkan selalu bagus dan bisa menjadi acuan orang untuk berkarya dengan bahasa nya sendiri. Kabar dari desa yang bapak sampaikan disini sehingga membuat saya menjadi tau. Tapi entah mengapa saya malah menjadi takut, karena pembangunan desa yang terus meningkat (contohnya seperti jalan yang dilebarkan yang akhirnya membuat banyak pohon yang ditebang) melalui dana desa sehingga menjadikan indonesia kehilangan budaya dan kealamian sebuah daerah, kemajuan infrastruktur menjadi kan desa kehilangan ke tradisional an nya, bahkan nantinya saya khawatir ketika pembukaan lahan-lahan yang buas akan terjadi, atau adakah batasan-batasan dari pemerintah tentang pembangunan yang harus di sertai syarat ke tradisional an? Saya harap ada aturan seperti itu, agar nantinya Indonesia tetap menjadi Indonesia yang kaya budaya dan masih mempunyai unsur tradisional yang perlu di pertahankan sebab memang ini lah yang menjadi daya tarik bangsa ini, persoalan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia juga di perhatikan. Dalam arti maksud saya, Indonesia maju dengan dana desa yang diluncurkan pemerintah tetapi beserta aturan yang memberikan kesejahteraan tetapi tidak menghilangkan budaya serta sifat ketradisionalan ini.

    (Mayviolita Aulia Nur Annisa 3B)

  24. Memang sudah sepatutnya desa mulai dikembangkan. Bukan hanya tugas pemerintah saja untuk memajukan desa, tetapi masyarakat juga harus ikut andil dalam memajukan desanya. Jika saya lihat sekarang ini, khususnya di sekitar daerah saya masih banyak anak muda yang ketika sehabis lulus dari bangku pendidikan memutuskan untuk tidak kembali ke desa dan memilih untuk pergi ke daerah lain. Hal ini lah yang saya kira menjadi permasalahan tersendiri bagi kemajuan desa. Ditambah dengan adanya sebuah kepercayaan mengatakan bahwa orang yang masih menetap di desa tidak akan bisa berkembang seakan menambah kesan yang kurang baik terhadap desa. Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang seharusnya dibuang jauh-jauh oleh masyarakat demi kemajuan desa dan diubah dengan saling bahu membahu untuk memajukan desa. Faktor lain yang mempengaruhi kemajuan desa yaitu perangkat desa. Ini terkait dengan penyaluran dana dari pemerintah pusat untuk memajukan desa. Jika aparat desa tidak berlaku jujur dalam mengelolaan dana desa, pengembangan desa akan menjadi tersendat. Maka dari itu, kita harus pintar-pintar dalam memilih aparat desa. Jangan mau jika disogok dengan uang, karena itu merupakan sebuah awal dari tidak berkembangnya suatu desa. (Alif Nur Mushoffa 3B).

  25. Benarlah, jika keberadaan kepala desa itu penting. Bagi kemajuan sebuah desa. Jika fungsi kepala desa itu berjalan dengan baik, maka efeknya juga akan terasa sampai dengan tingkat nasional. Tapi, sayangnya di beberapa desa di mana notabene adalah pemilu dengan tingkat paling bawah. Masih banyak masyarakat yang memilih dengan asal-asalan. Tentu adanya beberapa faktor, yang mungkin saja dikarenakan: mereka berpendapat bahwa yang dipilih adalah tokoh yang berpengaruh di masyarakat, ada pula yang memilih karena mendapat serangan fajar. Dan ada yang berpendapat bahwa siapapun kepala desanya tidak berpengaruh bagi kehidupannya. Nah, faktor terakhir inilah yang masih banyak menjadi anggapan masyarakat dalam pemilihan kepala desa. Apalagi sekarang, bertepatan dengan adanya pandemi. Saya setuju apabila pilkades di tahun ini untuk di tunda terlebih dahulu. Mengingat penyebaran virus Covid-19 kian banyak.
    (Wahyu Luvita Ningrum, 5-D)

  26. Marhamah 5B. Sebut saja aku desa. Kini aku disinggahi oleh penduduk masyakarat. Walaupun aku sederhana namun sangat disukai oleh banyak orang. Berbanggalah kamu jadi orang Desa, karena desa merupakan tempat ternyaman dan paling penting yang mana tak bisa dipisahkan. Desa adalah bagian yang penting dari suatu masyarakat yang mana tak dapat terpisahkan. Untuk menjadikan desa lebih maju karena perekonomian saat ini sedang merosot jauh lebih buruk, maka pemerintah mengupayakan adanya bantuan perekonomian sehingga masyarakat sekitar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

  27. Dian Prastiyani 5B. Saya bangga tinggal di desa. kehidupan desa memberikan pelajaran bermasyarakat yang baik, kami terbiasa hidup bergotong royong, saling peduli kepada sesama (tetangga), saling menghargai, saling berbagi. Mayoritas penduduk Bangsa Indonesia ada di desa, sumber kebutuhan bahan pokok ada di desa, desa merupakan elemen yang paling penting, paling berpengaruh bagi negara , jika negara melupakan desa, tidak akan maju negara ini.Sehingga upaya pemerintah untuk membuat desa lebih baik agar perekonomian negara lebih baik lagi.

  28. Titip Suara (Komentar)
    Ulil Hestining Dyastuti (18410140)

    Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama. Kala membaca judul itu, sudah bermunculan berbagai tanda tanya dalam kepala saya. Mengapa memilih judul itu? Apa maksudnya pembongkaran kebiasaan lama? Namun, bagaimana bisa ketika saya membaca “pembongkaran kebiasaan lama” sangat tercium sekali pekatnya aroma “desa”? Apakah karena keduanya terasa lekat, sehingga judul itu yang terpakai? Dan masih banyak mengapa yang lainnya.
    Pandangan saya tertuju pada foto yang menampakkan persiapan pentas dongeng “Sidang Para Menthok”. “Menarik!”, satu kata yang terlontar dari bibir saya secara tiba-tiba membuat saya bertanya heran, mengapa bisa saya katakan menarik padahal membaca pun belum? Saya rasa, ini karena tampilan foto yang dipilih terlihat layaknya apa adanya, seperti halnya cerminan desa yang sederhana dan memang begitu adanya.
    Keberadaan desa yang terasa kuat dan sangat bernilai, seperti itulah yang saya tangkap ketika menelusuri paragraf pertama. Masih bersambung, paragraf kedua seakan menjadi bukti akan pentingnya sebuah desa berdiri tegak untuk negara bertumbuh semakin tinggi. Desa yang menerima kucuran dana melimpah dari pemerintah guna untuk merias desa dan mempercantik seluruh isinya, seakan menunjukkan bahwa mata pemerintahan masih peduli dan perhatian akan keberadaan desa.
    Sangat menarik. Kata demi kata dalam paragraf ketiga terbungkus indah oleh penulis. Dapat kita lihat bagaimana jalannya pemerintahan pusat, dengan melihat tertata atau terlantarnya sebuah desa. Apa bila kita lihat dengan benar, memang banyak sekali warga desa yang berlomba mengharap kejatuhan durian di kota, seperti dalam paragraf kelima. Semua itu terjadi mungkin karena tak menaruh sedikit pun kepercayaan didesanya. Kita jumpai satu lagi dalam penggalan syair lagu pada paragraf ketiga yang menyebutkan betapa berharganya desa hingga negara harus berpihak pada para petani.
    Rasa percaya diri kembali tumbuh dalam diri warga desa kala menyaksikan desanya bertumbuh semakin indah setiap tahunnya, seperti dalam paragraf enam. Sebaliknya, dalam paragraf tujuh, penulis ingin mengajak pembaca melihat betapa sekarang semuanya sudah bukan perkara uang lagi. Dimana uang tak dapat membeli segalanya, termasuk jabatan. Pemerintah melakukan hal benar dengan memperbaiki akar agar dapat mengkokohkan pondasi negara ini. Saat ini, hanya orang yang benar berkemampuan dan terampil yang dapat mengisi berbagai jabatan itu. Bukan lagi dengan sogokan atau orang dalam, seperti halnya seleksi ketat dalam paragraf delapan dan sembilan.
    Meski demikian, masih saja banyak warga yang mengharapkan amplop uang dalam serangan fajar, paragraf ke sepuluh hingga menjelang akhir menjadi bukti akan warga yang masih saja menanti amplop itu karena memang itu sangat menggiurkan. Dalam paragraf terakhir, semua tanda tanya saya ketika diawal membaca judul tadi sudah tertitikkan. Tak lain dan tak bukan, pembongkaran kebiasaan lama itu dimana warga yang hanya akan berangkat dan memilih calon yang telah bersedia memberikan uang untuk mereka sehingga warga bersemangat berbondong-bondong ke TPS. Namun, hal itu harus dibetulkan dan pikiran warga tentang hal itu memang harus dibongkar. Agar desa mendapatkan pemimpin yang berkompeten dan bukan karena berkekuatan tinggi di desa.

  29. Bangga menjadi warga desa, hehehe sebagai warga desa saya juga sering mendapati indikasi kecurangan politik. Bagi saya sendiri desa merupakan kesatuan yang kuat dalam bidang gotong royongnya, lingkungan dan sumber daya yang melimpah, juga kehidupan yang tentram juga menjadi ciri khas pedesaan. Memang benar sekarang Mindset anak muda di era millenial ingin mencari peluang kerja/ bisnis cenderung Memilih Kota menjadi destinasinya, bagi saya persaingan di kota sudah terlalu ketat. Sudah waktunya membuat ladang bisnis baru di desa dengan segala kekayaan alam yang melimpahnya hehehe.
    ——————————————-
    Wahyu Nugroho 5B

  30. Bukankah memang seharusnya seperti itu “Mereka yang berjabatan di desa, merekalah yang benar-benar berkompetensi” ikut bangga banget kalau di desa, suara tidak bisa dibeli dengan uang😊

  31. Kelas: 5D
    Esai yang sangat bagus, Pak. Menurut saya, hidup di desa itu sebenarnya menyenangkan. Suasananya lebih tenang, udaranya segar, dan kondisi alam yang masih asri dibandingkan kehidupan di kota. Hubungan tali persaudaraan atau rasa saling membantu terhadap sesama warga juga tinggi. Tetapi, ada yang tidak baik/dampak di desa seperti aksesnya yang tidak mudah, berbagai fasilitas hingga sarana prasarana kurang lengkap. Kalaupun ada, pasti jaraknya sangat jauh. Selain itu, bisa menimbulkan gejala urbanisme dan hanya beberapa sekolah saja (tidak semua) yang memiliki perangkat komputer yang memadai, hal tersebut membuat peserta didik yang sedang memerlukan jaringan internet harus mencarinya sendiri.

  32. Saya juga turut bangga menjadi bagian dari anak desa karena desa adalah sumber kehidupan yang tidak akan ditemukan oleh orang kota, desa memberikan sumber daya alam yang melimpah dan tidak akan pernah habis jika kita bisa mengolahnya dengan baik dan dari desa pula kita bisa belajar tentang hidup sederhana dan hidup dengan sejahtera.
    (Pipit Indriyani M 3B)

  33. Saya juga turut bangga menjadi bagian dari anak desa karena desa adalah sumber kehidupan yang tidak akan ditemukan oleh orang kota, desa memberikan sumber daya alam yang melimpah dan tidak akan pernah habis jika kita bisa mengolahnya dengan baik dan dari desa pula kita bisa belajar tentang hidup sederhana dan hidup dengan sejahtera.

  34. Saya juga turut bangga menjadi bagian dari anak desa karena desa adalah sumber kehidupan yang tidak akan ditemukan oleh orang kota, desa memberikan sumber daya alam yang melimpah dan tidak akan pernah habis jika kita bisa mengolahnya dengan baik dan dari desa pula kita bisa belajar tentang hidup sederhana dan hidup dengan sejahtera.
    (Pipit Indriyani M 3B)

  35. Pemilihan pamong desa saat ini lebih adil menurut saya, mereka harus melalui berbagai tes yang menunjukkan mereka layak atau tidak jadi semua orang yang memiliki kemampuan dapat mengikuti seleksi. Sehingga tercipta pemerintah yang lebih kreatif dan juga sistem pelayaan kepada masyarakat lebih efisien, dengan adanya SDM yang lebih berkompeten.
    (Anggraeni Dyah Puspita Sari 3B)

  36. Pada teks bacaan yang berjudul “Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama”, menurut saya yaitu kalimat yang dipaparkan sangat menarik dan unik sebab pada teks yang disajikan mengandung sajak –a, -a di akhir kata. Hal tersebut membuat saya pribadi menjadi terkesan lebih menikmati bacaan yang mendeskripsikan keadaan desa Tosari dulu dan sekarang tersebut. Selain itu, kata-kata yang digunakan mudah dipahami, meski dirangkai secara unik pada bagian sajak seperti pantun, dan sedikit terdapat kata kiasan seperti halnya puisi. Hubungan antar paragraf pada teks tersebut sangat nyambung dan disusun secara sistematis seperti judulnya yaitu “Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama”, di mana dimulai dari paragraf yang menjelaskan keadaan desa dan seisinya pada masa lampau, hingga perubahan-perubahan yang terjadi, serta hasil yang dicapai. (Hendriansyah Restu Omanda 3B)

  37. Saya setuju dengan essai di Atas yang menceritakan dimana keadaan desa yang sekarang lebih maju dibandingkan dengan keadaan desa yang dulu selalu disepelekam dan diremehkan. Namun, sekarang keadaan pedesaan tidak lagi dipandang buruk dan lemah oleh sebagian besar daerah perkotaan. Keadaan desa yang semakin maju karena banyaknya pembangunan infrastruktur dan bangunan daya manusianya. Dan kemajuan desa yang sudah lengkan mendapatkan fasilitas umum dan jalur jalan yang diperbaiki oleh pemerintah pusat dan pemerintah desa.
    Akan tetapi, semakin banyaknya pembangunan infrastruktur yang membuat lahan persawahan di daerah pedesaan semakin sempit karena banyaknya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Dan masyarakat pedesaan yang lebih memilih menjual lahan untuk mendaptkan uang lebih tinggi dari hasil menjual lahan.

  38. Penggunaan diksi yang beranekaragam, membuat pembaca tertarik. Sehingga tidak ada rasa bosan ketika membacanya.
    Cerminan masyarakat saat ini. Tidak di desa ataupun di kota. Ketika pemilu datang, bukan masalah siapa yang akan memimpin tapi berapa rupiah yang sudah mereka berikan.

  39. Cerminan masyarakat saat ini. Tidak di desa ataupun di kota. Ketika pemilu datang, bukan masalah siapa yang akan memimpin tapi berapa rupiah yang sudah mereka berikan.

  40. Memang benar desa banyak sekali dibuat ajang untuk para oknum atau orang-orang, yang mempunyai uang untuk memimpin desa tersebut. Banyak sekali hal tersebut terjadi di berbagai daerah. Ingin memilih para pemimpin desa saja masih harus menggunakan cara yang untuk memilih pemimpin mereka.
    Sebagian orang pergi ke kota untuk mencari uang, karena di desa pendapatan yang di dapat bisa di bilang masih agak rendah. Maka sebagian orang menggantungkan hidupnya di kota.
    Ika Puji Rahayu/ 5B

  41. Dalam esai yang berjudul ” Desa dan Pembongkaran Lama” penulis mengungkapkan upaya pemerintah Jokowi mengucurkan dana yang melimpah untuk untuk desa, diharapakan dengan dana tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur, sumber daya manusia dan merubah sistem pemerintahan yang ada di desa namun tidak sedikit pihak yang menyalahgunakan dana desa tersebut. Desa adalah cerminan bagi jalannya roda pemerintahan pusat, pertarungan dan pertaruhan agama sosial politik ekonomi hukum dan kultural seakan bermula dan bermuara di desa.

    Tidak hanya fasilitas umum dan jalan-jalan desa yang dibuat baik, sistem pemerintahan desa pun harus diubah seperti pemilihan perangkat desa yang ada di kabupaten Kendal yaitu dengan cara tes yang dilakukan secara serentak. Tes seleksi ini diupayakan transparan dan tidak lagi ditemukan jual beli jabatan. Para peserta mengerjakan soal-soal menggunakan sistem Computer Assisted Tes (CAT) yang dilakukan di beberapa sekolah yang memiliki perangkat komputer lengkap dan memadai. Setelah mengerjakan soal peserta dapat mengetahui langsung skor yang diperoleh. Otomatis dialah yang bakal menduduki tiap jabatan perangkat desa yang telah didaftar.

    Dengan upaya ini diharapkan perangkat atau pamong desa diangkat tidak lagi menggunakan proses pemilihan suara, tidak lagi ditemukan serangan fajar, saling adu kekuatan uang untuk sebuah jabatan di desa. Kini pelan-pelan kita akan menyaksikan pesta itu telah lenyap dari desa, para pamong baru yang kini duduk di balai pemerintahan desa tidak lagi diciptakan dari kekuatan uang, merekalah yang benar-benar berkompetensi. Kini tentu kita akan menunggu bagaimana dengan pemilihan kepala desa, tentu sudah saatnya harus ada pembongkaran kebiasaan lama. Jika desa adalah kekuatan mendasar bagi sebuah negara bahwa politik sesungguhnya bermula dan bermuara di desa. Kita berharap agar desa dipimpin oleh sosok yang benar- benar teruji.

  42. Sependapat dengan apa yang diungkapkan apa yang di tuliskan ditadak salahnya juga saya mengeluarkan sedikit argumen saya, memeng masihpun banayak orang yang mengadu nasip di kota besar, banyak yang kurang percaya diri, bukana kah ladang atau sawah merupakan aset yang memiliki harga dari tiap tahunnya memiliki keuntungan. Berbicara keuntungan, keuntungan dapat diraup dari mana saja, bahkan dari uang desa yang katanya digunakan untuk membangun desa supaya lebih berkembang, lebih maju, para pemuda lebih nyaman mencari penghidupan di desa, bukan di kota. Tapi kenyataan memang sangat menyakitkan dana yang dikucurkan begitu besarnya oleh pemerintah tapi nyatanya sampai ke desa hanya secuil yang digunakan, sisanya dimakan sendiri oleh pemimpin dan anggota yang mengurus desa.
    Banyak dana yang digunakan untuk mencalonkan diri untuk memimpin, sampai- sampai ambil sana, pinjam sini. Untuk meraup suara dengan atau biasa disebut dengan serangan fajar, nyatanya bukan tidak ada serangan fajar tapi dengan terang benderang tanpa ada rasa malu. Niat awal yang tidak benar, jika memiliki pikiran untuk memajukan tempat dia lahir, mungkin sifat mengambil itu kecil kemungkinan, hal tersebut bbertambah parah jika para anggota pun mengikuti jejak pemimpinnya, bagaimana majunya desa tersebut, bagaimana berkembangnya desa tersebut, betapa besarnya infrastruktur yang dibuat. Kadang malu jika melihat perbaikan yang dilakukan, sebagai warga saja bisa menilainya, apa bisa dikatakan amanah? Bukan sebuah pujian atau kekaguman yang wah, dalam hati hanya memendam begitukah cara mendapatkan keuntungan dengan menggunkan hak milik dari warganya sendiri sudah berapa puluh atau ratus dosa yang dibuat. Berpikir jika melakukan seleksi untuk anggota atau biasa disebut perangkat melalui tes, mungkin hasilnya juga berbeda. Tapi muncul lagi anggapan jika yang terpilih dari kaum pemuda, ah apa mereka mampu dengan hal itu. Apa salahnya mencoba.

    Dwi Susilo 5D

  43. Pembahasan dalam esai diatas sangat menarik. Saya merasa bangga dengan negara karena sekarang desa diperhatikan dengan serius, banyak sekali perbaikan jalan yang sudah terlihat. Namun sayang sekali banyak orang yang berkepentingan menyalahgunakan dana tersebut.

    Saya sangat setuju dengan kalimat “Desa semakin seksi di mata publik” karena tidak dipungkiri lagi, dengan negara banyak mengembangkan desa, pastinya negara akan mengeluarkan dana yang banyak. Tidak terkejut bila banyak orang yang berkepentingan tergoda dengan uang. Siapa yang didunia tidak membutuhkan uang? Pastilah banyak yang akan tergoda karena memang mayoritas manusia tergoda dengan uang. Kita bisa melihat sendiri bahwa bukan hanya pejabat atau yang berkepentingan yang tergoda dengan uang. Kita bisa lihat pemilihan kepala desa disetiap desa masing-masing mayoritas setiap menjelang pemilihan desa, banyak orang mendadak ramai-ramai di depan umum dan banyak orang merelakan begadang sampai pagi. Semua itu hanya karena uang.

    Dengan adanya uang tersebut, pastilah banyak orang yang akan datang ke TPS. Dengan tanpa ragu untuk memilih calon kepala desa tersebut.
    Sudah tradisi bahwa yang banyak memberi uang, dialah yang akan dipilih warga! Tanpa ada uang ya orang-orang sukarela siapa yang ingin datang, yang tidak datang ya pastinya ada seribu alasan dibaliknya.

    Saya sangat setuju dengan tindakan kabupatem Kendal yang mulai membongkar kebiasaan lama dengan menggunakan tes seleksi yang yang menggunakan sistem Computer Assisted Tes (CAT) yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Semoga cara demikian memang dilaksanakan dengan rasa jujur dan tanggung jawab yang besar supaya kedepannya nanti kebiasaan lama akan hilang dan lenyap dan semua kalangan bisa menjadi pejabat dan menjalankan tugasnya dengan baik tanpa adanya korupsi dan dapat indonesia akan lebih maju dari sebelumnya.
    (Nafiatul Baqoiyah 5D)

  44. Saya sangat setuju dengan adanya esai diatas. Yang menceritakan tentang keadaan desa yang sekarang menjadi lebih maju dan berkembang dibandingkan dengan keadaan desa yang dulu, yang selalu disepelekan dan diremehkan oleh masyarakat kota.
    Sekarang keadaan desa tidak lagi dipandang lemah dan buruk oleh sebagian besar warga daerah perkotaan. Keadaan desa yang saat ini semakin maju karena banyaknya pembangunan Infrastruktur, kemajuan desa sekarang yang sudah lengkap dengan adanya fasilitas umum dan jalur jalan yang sudah diperbaiki oleh pemerintah pusat dan pemerintah desa.
    ( Renny Novitasari 5d ).

  45. Saya sangat setuju dengan adanya esai diatas. Yang menceritakan tentang keadaan desa yang sekarang menjadi lebih maju dan berkembang dibandingkan dengan keadaan desa yang dulu, yang selalu disepelekan dan diremehkan oleh masyarakat kota.
    Sekarang keadaan desa tidak lagi dipandang lemah dan buruk oleh sebagian besar warga daerah perkotaan. Keadaan desa yang saat ini semakin maju karena banyaknya pembangunan Infrastruktur, kemajuan desa sekarang yang sudah lengkap dengan adanya fasilitas umum dan jalur jalan yang sudah diperbaiki oleh pemerintah pusat dan pemerintah desa.
    ( RENNY NOVITASARI 5d )

  46. Artikel ini sungguh sangat membuka pandangan masyarakat luas mengenai desa, terutama pada pemilihan kepala desa. Memang benar setiap pemilihan kepala desa pasti yang ditunggu adalah “serangan fajar” yang mana sekarang bahkan secara terang-terangan diberikan di muka umum. Masyarakat haruslah bijak dalam menentukan pilihannya, antara kaya wawasan atau kaya harta.
    (Miladia Nur Aini 5B)

  47. Seharusnya pemilihan para petinggi desa harus atas dasar tingkat pendidikan yang tinggi atau ahli di dalamnya. Bukan hanya dari segi materi. Biasanya jika dari segi materi nanti pada akhirnya mereka pun akan menempuh berbagai cara agar uang mereka kembali bukan untuk menjadi wakil rakyat yang seharusnya di lingkungan desa. Mereka bekerja hanya untuk uang bukan untuk mengabdi kepada masyarakat desa
    Nama: Adinda Fitri Istiqfarani 5B

  48. Saya sebagai warga desa, merasa banyak sekali perubahan yang ada. Begitupun yang saya amati di lingkungan, warga desa merasa saat ini zamannya sudah enak, sudah disejahterakan oleh dana desa dari pemerintah.

    “Saiki penak yo, intuk jatah saben sasi”
    “Iyo, pemerintahe apikan, wong deso yo diopeni, gak dilalike, lan ora khawatir ngelehen”

    “Sekarang enak ya, dapat jatah tiap bulan”
    “Iya, pemerintahnya baik, orang desa disejahterakan, tidak dilupakan, dan tidak khawatir kelaparan”

    Kurang lebih seperti itu yang saya dengar ketika ikut mengantri jatah sembako bulanan dari pemerintah.

    Warga desa pegunungan yang sehari-hari ke ladang untuk menanam padi dan jagung, tiap awal bulan sekarang dapat ikut serta merasakan rasanya daging atau ikan. Mungkin, makanan itu hanyalah makanan terenak yang pernah kami makan ketika ada hajatan.

    Begitupun infrastruktur desa, jalanan, balai desa, dan puskesmas. Semua membaik, yang awalnya desa saya adalah desa terpelosok, terpencil, tertinggal. Kondisi jalanan yang dulunya sudah hilang aspal, sekarang kondisinya sangat baik.

    Program desa pun semakin maju, kinerja perangkat desa juga.
    Mungkin ini adalah efek dari kekuasaan tanpa kekuatan uang.
    Kami sebagai warga desa merasa dilayani dengan baik. Meminta surat pengantar desa atau surat-surat lainnya tak perlu lagi membawa rokok Djarum dua bungkus.

    Hal tersebut juga berdampak baik bagi generasi muda di desa. Semakin banyak dengan lulusan pendidikan yang tinggi. Merendahnya angka pernikahan muda di desa. Banyak warga yang sudah menyadari akan pentingnya pendidikan.

    Kebiasaan lama, generasi muda merantau ke kota pun semakin rendah.
    Sebab, ketika lulus dari sekolah ataupun kuliah, generasi tersebut lebih memilih memanfaatkan ilmunya di desa, membangun usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan di desa, bahkan banyak anak muda yang baru lulus ikut serta menjadi pengurus desa.

    Sungguh, banyak sekali kebiasaan lama di desa yang sudah berubah seayaknya perkembangan zaman.
    Saya bangga menjadi warga desa.

    Sinta Putrika Sari 5B

  49. Pemerintah pusat harus memberi dana ke desa sesuai APBN. Apalagi pada saat pandemi sekarang ini. Kebanyakan orang desa sudah dirumahkan dan tidak bisa bekerja di kota lagi. Untuk itu pemerintah sudah memberikan bantuan lewat perangkat desa berupa sembako, uang tunai, dan lain-lain. Bahkan para peserta didik yang kesusahan untuk belajar daring, pemerintah memberikan kuota gratis. Namun saya pernah melihat di Televisi bahwa ada warga yang belum menerima bantuan. Menurut saya yang salah adalah kepala Desa yang menggunakan dana pemeritah untuk pribadi. Kebiasaan lama sampai sekarang ini masih ada di beberapa desa dan pernah termasuk desa saya sendiri.

  50. Memang benar dan memang terbukti. Tentang semua yang dikatakan oleh penulis, saya sangat setuju akan hal itu. Dimana dana, uang, dan materi dapat mengalahkan segalanya. Manusia lalai dibuatnya. Seperti kucing mendapati ikan, seperti anjing mendapati tulang, seperti itulah reaksi manusia ketika mendapati lembaran uang. Pikirku mulai ternganga, terpaku dalam diam, bahkan terheran dalam hati. Bagaimana mungkin kebiasaan tersebut selalu terjadi? Jabatan bisa dibeli, semua masalah dengan mudah teratasi, karena uanglah yang melatarbelakangi. Bukankah kepala kita tergeleng menyaksikan? Kalaupun ikan dikaruniai sebuah leher, akan ikut tergeleng-geleng melihatnya.
    Berbicara mengenai jabatan, seakan sudah bukan lagi hal yang mengejutkan. Semua orang menginginkannya, tanpa usaha nyata dalam menggapainya. Maka dari itu, saya sangat setuju dengan esai ini. Barangkali mereka yang membaca dapat tersadar, terlebih lagi pembacanya para jabatan, yang mengandalkan uang sebagai senjata terkuatnya. Semoga serangan fajar memanglah tinggal kenangan. Semoga kebijakan tentang pembongkaran kebiasaan lama segera terealisasikan. Bukan hanya satu dua daerah, melainkan satu Indonesia. Pejabat menduduki jabatannya, bukan karena uang, bukan karena serangan fajar, melainkan karena bukti nyata bahwa kompetensi mereka memang sepantasnya dikedepankan. Utamakan kejujuran, utamakan kedisiplinan. Karena kesejahteraan rakyatlah yang harus diutamakan. Terima kasih.
    (Sulistianingsih 5D)

  51. Saya sangat setuju mengenal desa merupakan salah satu bagian negara yang memiliki peran penting dalam pembangunan negara. Banyak potensi sumber daya alam yang dihasilkan di desa. Desa terkadang dipandang sebelah mata karena dianggap lingkungan yang kurang potensial dibanding kota. Padahal desa apabila dikelola dan diperhatikan dengan baik oleh negara, maka desa memiliki potensi yang besar serta pengaruh yang besar dalam perkembangan ekonomi negara. Namun, karena yang sering terjadi infrastruktur ditemukan masih tidak merata, khususnya desa. Sehingga potensi yang ada pada sebuah desa tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal dan malah menimbulkan persepektif desa adalah lingkungan yang tertinggal dalam banyak hal.
    Byanka Wahyu Adellya 5B

  52. Tidak bosan, terkesima dengan indahnya desa yang mempunyai beragam ciri khas. Eloknya pemandangan sampai sejuknya suhu di pedesaan masih terjaga. Sesuai dengan kutipan esai yang diunggah oleh Bapak setia Naka yang berjudul _Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama_ diunggah pada tanggal 6 Agustus 2020 . “Desa sontak menjadi sebuah panggung yang menggemaskan bagi khalayak. Tidak sedikit pihak berkepentingan yang terpelanting atas godaan dana desa. Desa seolah menjadi kerajaan kecil yang tumbuh dan bergerak di antara roda pemerintahan pusat. Desa semakin seksi di mata publik. Rakyat di mana-mana dibuat terpesona.” Maka dari itu desa seakan menjadi dalih pemerintah pusat untuk memanjakan pemerintahan desa. Tak asing lagi dengan kalimat “serangan fajar”. Permainan politik dengan menjual beli jabatan. Tak asing juga, sering kita jumpai pemilihan kepala desa. Ironisnya masih banyak serangan fajar tersebut masih menyebar, “uang segalanya”. Banyaknya uang menentukan suara. Semoga saja pemilihan Kepala Desa seerti pemilihan dikabupaten Kendal. Tanpa ada serangan fajar, masyarakat desa mampu memilih dengan hak suara murni, yang nantinya menjadi pemimpin yang benar-benar tanggung jawab, tanpa harus membeli jabatan.
    ( Kartika Tri Amanda 5-D )

  53. Menurut saya, dalam tulisan ini mengandung banyak teka-teki. Tidak semua orang mampu memahami dan mengerti apa yang sebenarnya akan disampaikan penulis. Bacaan yang sangat berbobot membuat saya merenung dan berpikir dahulu sebelum melanjutkan membaca pada setiap akhir paragraf.
    Mengenai isi dari bacaan ini, saya setuju dengan penulis bawasannya jika desa adalah kekuatan mendasar bagi sebuah negara. Memang benar adanya, karena suatu hal yang besar harus dimulai dari hal kecil terlebih dahulu. Dengan adanya perbaikan desa khususnya dalam bidang pemerintahan seperti yang dilakukan di kabupaten Kendal, hal ini bisa menjadi contoh untuk desa-desa yang lain, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, bahkan sampai pemerintahan negara.
    Upaya pemerintah pusat untuk memajukan desa khususnya bidang perekonomian memang dirasa sudah cukup maksimal, namun kembali lagi ke desa, jika tidak bisa mengelola bantuan dana secara maksimal dan bijaksana tentu saja desa tidak akan bisa maju. Pada dasarnya desa memang sudah memiliki potensi, namun kurang dikembangkan dengan alasan terkendala dana
    Irma Rizqia Fitriyani 5B

  54. Menurut saya, dalam tulisan ini mengandung banyak teka-teki. Tidak semua orang mampu memahami dan mengerti apa yang sebenarnya akan disampaikan penulis. Bacaan yang sangat berbobot membuat saya merenung dan berpikir dahulu sebelum melanjutkan membaca pada setiap akhir paragraf.
    Mengenai isi dari bacaan ini, saya setuju dengan penulis bawasannya jika desa adalah kekuatan mendasar bagi sebuah negara. Memang benar adanya, karena suatu hal yang besar harus dimulai dari hal kecil terlebih dahulu. Dengan adanya perbaikan desa khususnya dalam bidang pemerintahan seperti yang dilakukan di kabupaten Kendal, hal ini bisa menjadi contoh untuk desa-desa yang lain, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, bahkan sampai pemerintahan negara.
    Upaya pemerintah pusat untuk memajukan desa khususnya bidang perekonomian memang dirasa sudah cukup maksimal, namun kembali lagi ke desa, jika tidak bisa mengelola bantuan dana secara maksimal dan bijaksana tentu saja desa tidak akan bisa maju. Pada dasarnya desa memang sudah memiliki potensi, namun kurang dikembangkan dengan alasan terkendala dana
    Irma Rizqia Fitriyani 5B

  55. Vio Amandini Afriliana, 5D

    Desa dalam bayangan setiap orang adalah hijau dan masih asri, tetapi sekarang banyak sekali dilakukan pembangunan-pembangunan infrastruktur, jalan tol, bahkan mall-mall besar di desa. Desa yang sumber daya manusianya rata-rata sangat antusias datang atau merantau di perkotaan dengan ekspektasi akan mendapatkan uang lebih banyak, membuat desa kehilangan generasi yang mau membenahi, mengelola, dan membuat desa tersebut produktif. Padahal, jika melihat sumber daya alam di desa, banyak sekali yang bisa diolah, hanya saja orang-orang di desa lebih memilih untuk tinggal di kota dengan iming-iming UMR yang lebih tinggi. Desa akan tetap desa dan hanya menjadi tempat pulang perantauan.
    Maju tak gentar membela yang bayar!
    Ya, kalimat tersebut tepat sekali untuk menggambarkan kehidupan politik di desa, bahkan ini sudah umum di Indonesia. Dengan uang, beras, atau hanya memberi baju partai berlogo, calon pemimpin dianggap perhatian terhadap masyarakat di desa. Dengan iming-iming akan memajukan, menyejahterakan, memakmurkan masyarakat di desa tersebut yang membuat warga desa tergiur, tetapi nyatanya bukan tergiur karena janjiinya masyarakat tergiur oleh uangnya. Lucu, ya memang lucu. Tapi, rata-rata masyarakat desa yang bekerja sebagai buruh, masih minim pengetahuan tentang politik dan uang yang diberikan dari calon-calon pemimpin pun digunakan untuk melanjutkan kehidupannya. Para calon yang dipilih adalah pemimpin amplopnya tebal. Desa menjadi sasaran politik yang empuk, dengan diberikan janji akan diberi bantuan, akan disejahterakan, sekolah digratiskan dan masih banyak lagi janji-jani yang dijanjikan. Semoga saja dana desa yang seharusnya disalurkan tetap tersalurkan dengan baik, tanpa adanya selipan satu lembar dua lembar dikantong pemimpin yang terpilih. Desaku tetaplah asri, dengan politik yang penuh uang.

  56. Menurut pendapat saya desa tersebut sudah mempunyai peranan yang sangat baik bagi penduduk disana. Jalan sudah diperbaiki, sudah diperbaiki seperti dikota untuk memperlancar akses transportasi. Sistem pemerintahan juga diubah. Untuk tes seleksi perangkat desa diberlakukan bebas biaya. Hal yang kurang baik di desa tersebut banyak orang desa yang lebih memilih merantau ke kota daripada menetap di desanya. Dan di desa dalam pemilihan perangkat desa entah kepala desa dll yang dipilih masih dari segi banyaknya uang bukan karena kepemimpinannya.

  57. Dalam sebuah karya yang berjudul “Desa dan Pembongkaran Lama” ini, pengarang banyak menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan desa saat ini. Namun yang sangat mencuri perhatian saya, yang tak lain ialah sistem pemilihan wakil rakyat yang memang sejak dulu begitu adanya. Sering kita jumpai bahkan kita alami, pemilihan yang diselenggarakan tidak sepenuhnya berjalan dengan LUBERJURDIL. Banyak oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab atau kaki tangan calon wakil rakyat yang datang untuk menghasut masyarakat. Disebarnya janji-janji manis yang mungkin sudah mendarah daging dan yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya saat musim pemilu, apa lagi kalau bukan serangan fajar. Siapa saja yang mempunyai gejala lemah iman, pasti dialah yang paling menantikan serangan fajar. Memang tak bisa dipungkiri, banyak orang yang sulit untuk membuka mulutnya lebar-lebar, sambil berucap “tidak, terima kasih”. Saya pribadi juga penasaran, sebenarnya ajian macam apa yang menyelimuti serangan fajar ini? Aneh tapi nyata, siapa pun mangsa yang dihampiri pasti akan tergoda olehnya. Siapa yang tahan dengan godaan uang yang terlipat rapi dalam sebuah amplop putih, menyelinap masuk tanpa permisi melewati celah bawah pintu? Saya rasa hanya beberapa orang saja yang tidak tergoda olehnya. Kita tidak bisa menyalahkan sang pemberi serangan fajar. Yang perlu kita lakukan yaitu menyalahkan diri sendiri, karena sudah rela dibodohi dengan janji palsu dan lembaran uang dalam amplop itu. Saya kemudian teringat oleh salah satu lirik dalam lagu ciptaan penyanyi favorit saya, yaitu Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul “Wakil Rakyat”. Beliau sungguh-sungguh memperingatkan para wakil rakyat. Seperti yang tertuang dalam lirik lagu demikian. Wakil rakyat kumpulan orang hebat/Bukan kumpulan teman-teman dekat/Apalagi sanak family/.
    Dalam lirik tersebut sangat jelas diungkapkan bahwa wakil rakyat harusnya benar-benar bisa menjadi wakil rakyat yang adil dan jujur. Mari berbenah dan terus memperbaiki, tak perlu lihat kanan kiri, awali dari dirimu sendiri.
    Sekian dan terima kasih.
    (Wahyu Kurniawan 5D)

  58. Menurut saya, dalam tulisan ini mengandung banyak teka-teki. Tidak semua orang mampu memahami dan mengerti apa yang sebenarnya akan disampaikan penulis. Bacaan yang sangat berbobot membuat saya merenung dan berpikir dahulu sebelum melanjutkan membaca pada setiap akhir paragraf.
    Mengenai isi dari bacaan ini, saya setuju dengan penulis bawasannya jika desa adalah kekuatan mendasar bagi sebuah negara. Memang benar adanya, karena suatu hal yang besar harus dimulai dari hal kecil terlebih dahulu. Dengan adanya perbaikan desa khususnya dalam bidang pemerintahan seperti yang dilakukan di kabupaten Kendal, hal ini bisa menjadi contoh untuk desa-desa yang lain, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, bahkan sampai pemerintahan negara.
    Upaya pemerintah pusat untuk memajukan desa khususnya bidang perekonomian memang dirasa sudah cukup maksimal, namun kembali lagi ke desa, jika tidak bisa mengelola bantuan dana secara maksimal dan bijaksana tentu saja desa tidak akan bisa maju. Pada dasarnya desa memang sudah memiliki potensi, namun kurang dikembangkan dengan alasan terkendala dana.
    Irma Rizqia Fitriyani 5B

  59. (Novalina Safitri 5B)
    Tulisan diatas sangat bagus tentang cara pemilihan yang baik di negara ini, tetapi di masa sekarang untuk pemilihan perangkat desa masih banyak daerah yang menggunakan serangan fajar. Semoga dengan adanya tulisan ini, untuk pemilihan perangkat desa kedepannya bisa sesuai aturan yang berlaku.

  60. (Fellina Harviananda 5B)
    Saya sangat setuju dengan apa yang dibahas dalam esai tersebut. Tak dapat dipungkiri, sekarang ini banyak desa-desa yang semakin maju karena pemimpinnya berkualitas dan tak luput dari dorongan pemerintah pusat. Esai tersebut dapat memberikan saya pemahaman lebih mengenai sistem pemilihan pimpinan desa di zaman modern ini.

  61. Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
    Nama Ali Imron
    NPM 18410135
    Kelas 5D
    Izin berkomentar, Bapak.🙏
    Tentang Bapak Jokowi
    Pak Jokowi memberikan dana kepada penduduk desa melalui Mentri untuk merenovasi desa-desa yang masih kurang layak untuk dipandang. Contoh kecil di desa saya, pak. Anggaran pembangunan jalan sekian dan dana itu seharusnya sudah bisa menjadi jalan cor yang tebal dan kokoh. Akan tetapi, hasil jalan cornya tipis dan mudah rapuh dengan waktu yang begitu cepat. Lalu, apakah dana pembuatan jalan yang kurang, atau dananya digelapkan?
    Dan yang menggeregetkan bagi warga. Dana sudah di salurkan, akan tetapi belum ada tindakan dari atasan untuk membangun jalan.

    Ada lagi, pak. Yaitu tentang calon Perangkat desa yang diselenggarakan melalui tes (CAT) disitu pasti ada dampak positif dan negatifnya.
    Dampak positif. Semua warga tidak ada yang berharap adanya amplop yang di selinapkan didepan pintu rumah dan tidak ada yang menanti serangan fajar.
    Dampak negatif. Semua warga kebanyakan tidak bisa menerima sepenuh hati, apabila seorang kepala desa atau pejabat desa yang baru, tidak melalui proses pemilu.

    Cukup sekian dari saya, Bapak. Apabila masih banyak kekurangannya saya mohon maaf, Bapak.
    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

  62. Berawal dari desa. Dengan adanya dana desa infrastruktur semua diperbaiki, jalan-jalan semua diperbaiki. Guna menjadikan negara ini negara yang sejahtera. Tidak hanya itu saja tetapi dengan adanya dana desa membuat desa menjadi maju dan pasti setiap desa ada khasnya tersendiri. (Desyana Tri Mulyani 5D)

  63. Desa adalah tempat ternyaman untuk ditinggali, karena saya lahir dan besar di desa, saya benar-benar mengerti dan sejalan pemikiran saya dengan Essay yang di tulis oleh Bapak Naka tersebut. Karena sangat sesuai dengan realita yang saya alami dalam kehidupan sehari-hari. Seperti benar adanya serangan fajar dikala akan ada pemilihan suara. Saya pun juga mengalami, karena umur saya sudah masuk dalam syarat untuk mengikuti pemilihan suara.

    Sepertinya tidak hanya di salah satu desa di Kendal saja yang pernah _Booming_ istilah serangan fajar ini, di desa tempat saya tinggali ini pun, sampai sekarang masih eksis dilakukan pemberian serangan fadar. Dengan tujuan agar setelah serangan fajar dari kubu kandidat calon pemerintah desa ini dapat menang saat pemilihan suara. Namun, setelah saya amati, kebanyakan dari masyarakat di desa saya, hanya ingin menerima uangnya saja, namun mereka tetap memilih sesuai kata hati mereka, _hehe_, lucu memang, namun kenyataan yang saya jumpai demikian adanya.

    Saya sampai pernah bertanya kepada Bapak saya, apakah tradisi serangan fajar bisa di hilangkan? Bapak saya menjawab, tradisi semacam ini tidak akan pernah benar-benar hilang, karena bagaimanapun kita tidak pernah tau isi hati dan pikiran setiap orang. Jika sudah menyangkut kasta, dan tahta. Tidak ada yang tidak mungkin menghalalkan segala cara.

    Termasuk juga saya pernah mendengar isu-isu, kucuran dana yang manipulasi oleh oknum-oknum pejabat desa. Dana yang dikucurkan sebagai modal pembangunan jembatan, pembuat jalan dan lain sebagainya tidak jenap jumlahnya, data yang di perlihatkan dimanipulasi sedemikian rupa, semata-mata agar para oknum ini kebagian jatah. Alhasil pembangunan-pembangunan ini tidak berjalan sesuai semestinya, pembangunannya lama, dari jadwal yang seharusnya sudah dilaksanakan menjadi terlambat. Dengan dalih, dana belum cair dari pusat.

    Padahal jika mau menelisik, nyata memang benar adanya, mereka oknum-oknum gila tahta saling berkompromi untuk kesejahteraan perorangan saja.

    Sungguh ironis memang, desa yang seharusnya jadi pondasi terkuat, tempat dimana di bangunnya sebuah bangsa malah di pimpin oleh oknum-oknum yang gila tahta. Tidak yang tua tidak muda, dimana ada uang, mata membuta. Masyarakat makin tidak berdaya.
    (Zuanita Adriyani 5D)

  64. Berawal dari desa. Dengan adanya dana desa infrastruktur semua diperbaiki,Jalan-jalan semua diperbaiki. Guna menjadikan negara ini negara yang sejahtera. Tidak hanya itu saja tetapi dengan adanya dana desa membuat desa menjadi maju dan pasti setiap desa ada khasnya tersendiri.
    ( Desyana Tri Mulyani 5D)

  65. Seharusnya kita sebagai generasi muda, ikut berperan dalam memajukan dan mensejahterakan kampung halaman kita. Jangan takut jika kita berkarya di Kampung halaman akan tidak berkembang seperti di kota-kota besar. Terbukti dari Esai yang di sajikan penulis. bahwa di desa pun tidak kalah canggih dan memadai apa yang kita butuhkan untuk mengembangkan potensi kita. Bahkan di Desa pun sudah tidak mengenal orang dalam dan pelicin untuk mengabulkan suatu keinginan atau pun posisi yang sedang diincar.

    Dalam hal ini kita juga tidak sombong dengan kemampuan yang kita miliki. Bahwa di desa juga tidak perlu diragukan lagi kemampuan yang dimiliki setiap individu disana. Bahkan bisa dikatakan bahwa. Orang-orang di kota mungkin sedikit tertinggal tentang tindakan yang mungkin bisa merugikan beberapa pihak tersebut. Kebanyakan di Kota juga masih berlaku orang dalam dan pelicin untuk kepentingan mereka, ya walau pun bagaimana itu jika kita tetap menggunakan kebiasaan itu dan masih terus menerus di jalankan. Bisa jadi dimasa yang akan datang generasi muda menyepelekan ilmu pengetahuan mereka tentang apa yang akan mereka jalani. Bisa jadi juga tidak ada rasa tanggung jawab kepada suatu pekerjaan yang mereka jalani suatu saat nanti.

    Jika kita menggunakan cara yang berada di dalam esai tersebut. kita dituntut dengan tanggung jawab beban yang sedang mereka jalankan. Bagaimana pun posisi mereka akan bisa diganti sewaktu-waktu jika sudah tidak sesuai dengan harapan.

    1. Seharusnya kita sebagai generasi muda, ikut berperan dalam memajukan dan mensejahterakan kampung halaman kita. Jangan takut jika kita berkarya di Kampung halaman akan tidak berkembang seperti di kota-kota besar. Terbukti dari Esai yang di sajikan penulis. bahwa di desa pun tidak kalah canggih dan memadai apa yang kita butuhkan untuk mengembangkan potensi kita. Bahkan di Desa pun sudah tidak mengenal orang dalam dan pelicin untuk mengabulkan suatu keinginan atau pun posisi yang sedang diincar.

      Dalam hal ini kita juga tidak sombong dengan kemampuan yang kita miliki. Bahwa di desa juga tidak perlu diragukan lagi kemampuan yang dimiliki setiap individu disana. Bahkan bisa dikatakan bahwa. Orang-orang di kota mungkin sedikit tertinggal tentang tindakan yang mungkin bisa merugikan beberapa pihak tersebut. Kebanyakan di Kota juga masih berlaku orang dalam dan pelicin untuk kepentingan mereka, ya walau pun bagaimana itu jika kita tetap menggunakan kebiasaan itu dan masih terus menerus di jalankan. Bisa jadi dimasa yang akan datang generasi muda menyepelekan ilmu pengetahuan mereka tentang apa yang akan mereka jalani. Bisa jadi juga tidak ada rasa tanggung jawab kepada suatu pekerjaan yang mereka jalani suatu saat nanti.

      Jika kita menggunakan cara yang berada di dalam esai tersebut. kita dituntut dengan tanggung jawab beban yang sedang mereka jalankan. Bagaimana pun posisi mereka akan bisa diganti sewaktu-waktu jika sudah tidak sesuai dengan harapan.

  66. Program kerja di era presiden Jokowi pasti kalian pernah mendengar mengenai dana desa. Iya dana yang dialokasi untuk desa dalam membangun infrastruktur guna memperbaiki perekonomian warga di daerah pedesaan. Namun tidak semua kalangan menikmati adanya dana desa ini. Contoh saja di desa saya yang diperbaiki hanya jalan-jalan akses menuju desa saya. Namun untuk membangun sarana untuk pemuda saja seperti lapangan olahraga tak pernah terwujud. Padahal sudah jelas 1 desa 1 milliar. Lantas kemana saja uang segitu banyaknya?
    Padahal dulu ketika ingin mencalonkan diri menjadi kepala desa saja dengan berjanji akan membangunkan lapangan olahraga/sepakbola. Namun sudah menjabat 2 periode janji tersebut belum pernah dibuktikan. Mungkin dulu menang dalam pemilihan karena serangan fajarnya besar dari sang lawan. Namun jika masih ingin mencalonkan menjadi kepala desa diperiodenya mungkin pemuda desa tidak akan memilihnya karena sudah tidak respect kepada sang kepala desanya.

  67. Saya sangat setuju. Dengan tulisan ini semoga pembaca dapat membuka lebar-lebar pikirannya. Mengenai desa, tidak hanya itu, sangat sayang sekali jika sampai generasi muda tak kembali ke desa untuk mengembangkan cita-citanya. Seharusnya dimulai dari para generasi muda yang bergerak mengembangkan potensi yang ada di desa supaya warga yang hijrah ke kota berkurang. Generasi muda yang berperan besar bagi negaranya. Setidaknya generasi muda menjadi contoh baik bagi warga di desanya.

    Kemudian ada lagi berupa serangan fajar. Benar! Pemimpin harus teruji bukan yang terpilih karena banyaknya nominal uang. Kebiasaan yang sudah melekat ini menjadi kebiasaan buruk. Mungkiin akan lebih baik jika semua generasi muda ikut serta berperan menjadi penerus dan mampu mengubah kebiasaan ini bahkan mampu menghilangkan. Karena jika tidak begitu, kebiasaan ini akan diakui dan menjadi budaya buruk.

    Generasi muda juga harus memberanikan diri, mengajukan diri sebagai pemimpin di desanya. Dimulai dari generasi muda akan lebih mudah membuka pikiran para warga desa untuk mengemukakan pendapatnya secara jernih. Karena berdasarkan pengetahuan baru yang sesuai pula dengan perkembangan zaman. Tetapi, masalahnya terletak di generasi muda itu sendiri. Mereka ragu dengan potensi yang ada di desa. Mereka mengira desa tidak akan dapat berkembang seperti kota. Di lihat dari fasilitas umum dan infrastruktur di desa berbeda dengan yang di kota. Salah satunya penunjang pendidikan. Bahkan mereka lebih suka memilih menempuh pendidikan di kota dibandingkan di desa. Tentu sumber daya manusia di desa tidak sama dengan yang di kota. Hal ini juga menjadi pemicu bagi generasi muda sehingga mera mengira kota adalah tempat yang tepat untuk menempuh pendidikan serta tempat mengadu nasib. Jadi, alangkah baiknya program-program kemasyarakatan yang sudah ada dibenahi kembali, karena bisasedikit membantu perkembangan potensi di desa.

    (Aprilia Noor F.P. 5D)

  68. Oleh karena itu, pembangunan pedesaan merupakan bagian vital dari pembangunan nasional. Kemudian pembangunan nasional dapat dikatakan berhasil apabila desa yang merupakan unit terkecil dari suatu negara dapat diperhatikan kemajuannya dan kemandiriannya dalam segala bidang.

    (Rico Setya Novaldo 3B)

  69. Kehidupan di desa lebih luas cakupan mata pencaharian nya dan kehidupannya lebih tenang dari pada di kota. Pemandangan pun beragam dan komunikasi antar warga masih terjaga erat.
    Hamdi Bagas Maulana 5B

  70. memang hidup di desa sangatlahenyenangkan,karena didesa tentram tidak hirup kirup asap kendaraan yang lewat,karena didesa banyak penghijauan yang baik untuk tumbuh manusia

  71. Memang benar, pemilihan petinggi-petinggi desa selalu saja dimenangkan oleh mereka yang memiliki banyak uang. Masyarakat desa pun beranggapan uang adalah segalanya, yang menjadikan mereka memilih calon yang memberikan uang paling tinggi. Jika saja masyarakat yang masih berpikiran demikian segera mampu dirubah maka desa akan benar-benar maju karena masyarakatnya mampu memilih pemimpin yang benar-benar berkarakter dan dapat memajukan desa tanpa ada suapan.

    Nurul Hindayani, 18410077, 5B.

  72. Senangnya jika punya desa dengan pemerintahan seperti itu , di daerah saya kekuasaan dipegang penuh oleh ketua adat , bisa dikata pribumi yang memiliki kekuatan besar di daerah tersebut.
    Diblok saya jalan berlubang ada yang hingga kedalaman setengah meter ,truck kalau lewat situ pasti nyangkut kalau tidak terguling karena bermuatan sawit. Dari perangkat desa tidak ada yang memperhatikan blok (gang) desa saya dikarenakan pada saat pemilihan lurah di daerah saya tidak ada yang mencoblos dia. Hal tersebut diketahui saat ia terpilih menjadi lurah , dan akhirnya blok saya menjadi anak tiri.
    Di daerah saya juga pemilu juga sudah tidak berjalan dengan rahasia ,jujur dan adil , coba bayangkan pada saat pencoblosan yang seharusnya rahasia malah disamping si pencoblos ada yang memantau . Bahkan tangan si pencoblos dipegang dan diarahkan oleh si pemantau.
    Tapi apalah daya kami hanya sebagai orang pendatang, tak ada kekuatan. Tak ada yang dapat diperbuat selain diam , dan menerimanya.
    .
    .

    Miftahul ulum -5B

  73. Saya setuju. Kehidupan di desa sangat jauh berbeda sekali dengan di kota. Dari mulai kebudayaan, kultur, dan sifat masyarakatnya. Namun, sayangnya masyarakat desa gampang terpengaruhi dari luar. Informasi yang didapatkan sangat sedikit karena sejatinya masyarakat desa belum mengenal teknologi yang berkembang pesat hingga sekarang

  74. Saya setuju dengan blog ini yang berjudul “Desa dan Pembongkaran Kebiasaan Lama”, karena Indonesia saat ini miris, dengan masih banyak desa yang mau mengeluarkan hak suaranya ke TPS dengan iming-iming uang jajan atau uang sogokan dari calon pemimpin. Jika seperti ini terus menerus bangsa kita akan parah dengan penambahan tingkat korupsi di Indonesia akan meningkat. Dengan cara ini calon pemimpin entah itu dari desa/negara sadar betapa indahnya jika mereka mendapatkan hak suara dengan jurdil tanpa ada iming-iming atau uang sogokan. (Niken Hayu Apriyani 5B)

  75. Banyak sekali desa dibuat para oknum yang memiliki banyak uang untuk memimpin desa. Banyak sekali kejadian itu terjadi di daerah lain. Mereka yang mempunyai tanah di desa rela menjual untuk mengajukan diri menjadi petinggi di desa. Supaya untuk menang di pilihan nanti, mereka sebelumnya memberikan serangan fajar yang didalamnya berisikan uang ratusan ribu supaya memilih calon tersebut. Warga sekitar pun menerima pembrian tersebut. Sebagian orang yang ingin pergi ke kota untuk mencari uang, karena di desa mereka sulit untuk mendapatkan uang. Diharapkan suatu saat nanti di desa memiliki pemimpin yang jujur dan adil pada wargannya sehingga desa dapat menjadi ladang pekerjaan bagi warga sekitar.

  76. Nama: Melkias Mote (3C)

    Selalu ada banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah pak, untuk mendapatkan potensi alam dari desa. Misalnya pemerintah kerja sama antara kepala desa, salah satu contohnya pemerintah memberikan sejumlah jutaan bahkan milyaran uang kepada kepala desa untuk mempererat hubungan antara Pemda dan kepala desa dan nantinya dua pihak ini akan menghipnotis masyarakat untuk mengambil potensi alam mereka dengan cara membagikan sejumlah uang lagi kepada masyarakat secara terus-menerus

  77. Saya setuju, memang seharusnya desa melakukan tes seleksi untuk menentukan jabatan dan mengubah pola pikir masyarakat untuk tidak berfikir ‘Siapa yang memiliki uang maka ia akan memperoleh kekuasaan tertinggi’ karena desa adalah cermin bagi jalannya roda pemerintah sehingga kita harus memilih seseorang yang teruji bukan memilih seseorang yang terpilih karena kekuatan uang.

  78. Selalu ada banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah pak, untuk mendapatkan potensi alam dari desa. Misalnya pemerintah kerja sama antara kepala desa, salah satu contohnya pemerintah memberikan sejumlah jutaan bahkan milyaran uang kepada kepala desa untuk mempererat hubungan antara Pemda dan kepala desa dan nantinya dua pihak ini akan menghipnotis masyarakat untuk mengambil potensi alam mereka dengan cara membagikan sejumlah uang lagi kepada masyarakat secara terus-menerus

  79. Selalu ada banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah pak, untuk mendapatkan potensi alam dari desa. Misalnya pemerintah kerja sama antara kepala desa, salah satu contohnya pemerintah memberikan sejumlah jutaan bahkan milyaran uang kepada kepala desa untuk mempererat hubungan antara Pemda dan kepala desa dan nantinya dua pihak ini akan menghipnotis masyarakat untuk mengambil potensi alam mereka dengan cara membagikan sejumlah uang lagi kepada masyarakat secara terus-menerus.

  80. Assalamualaikum, Pak Naka
    Mohon maaf saya baru komen sekarang, karena saya lupa, maaf.
    Menurut saya, tinggal di desa ada sisi positif dan negatif nya.
    Positif nya, udara yang sejuk, suasana yang tenang.
    Negatif nya, saya tidak bermaksud judge orang desa, tapi memang kebanyakan orang desa masih murni dengan pemikiran mereka, belum terlalu terpengaruh teknologi, dan masih gampang terpapar berita hoax, setidaknya itu yang saya alami sebagai orang desa, tidak banyak yang melek teknologi, orang-orang hanya sekadar buka gawai untuk menghubungi saudara dan teman, selebihnya mereka lebih suka bekerja di sawah atau di pasar, tapi walaupun begitu, saya bangga menjadi orang desa, saya bangga dapat tinggal di tempat yang tenang dengan orang-orang yang ramah, saya bangga karena Alhamdulillah saya beruntung dapat sekolah kuliah dengan layak dan dapat membantu orang-orang disekitar saya dengan ilmu yang saya pelajari.
    Terima kasih.

  81. Saya setuju, dengan adanya seleksi untuk pamong desa dapat membuat desa semakin maju dan berkembang. Dana desa yang diberikan dari negara dapat dipergunakan untuk kemajuan dan kemakmuran desa, bukan hanya untuk kebutuhan yang bahkan tidak terlalu berguna. Pamong desa yang terpilih atas kemampuannya lebih dapat mengembangkan dana desa dengan baik

  82. Terimakasih atas ilmunya pak, memang realnya kurang lebih seperti itu di desa saya mengenai pemilihan kepala desa. Namun dalam perekonomian tidak banyak tidak sedikit yg memilih untuk mengadu nasib di kota. Tetapi di desa saya tepatnya di kota saya juga banyak pengusaha batik dan jeans jadi menurut saya itu sangat membantu masyarakat desa dalam lapangan pekerjaan

    Dela risqina yuniafi (arsitektur 3a)

  83. Saya menyukai artikel ini. Melihat situasi Indonesia yang juga terkena dampak dari Covid 19 mengakibatkan perekonomian negara juga menurun. Sebagai orang desa, saya merasa bersyukur masih bisa pergi ke sawah untuk membantu roda perekonomian keluarga. Artikel ini menjadi gambaran tentang bagaimana roda kehidupan dan perekonomian desa saat ini. Tentang kita yang harus merubah kebiasaan lama kita dalam memandang, bersikap, dan mengelola desa. Desa kita akan mendapat predikat nilai yang baik dan menjadi prioritas untuk anak dan cucu kelak. Sebagai warisan yang bisa kita banggakan kelak. Maka, mulai sekarang rawatlah desa kita. Dan, mari berkreasi, berpikir positif, dan kreatif untuk kehidupan desa yang lebih baik.

  84. Gaya bahasa yang digunakan sangat menarik serta mudah dipahami kata kiasan dan perbandigannya pun sangat tepat, kiasan perumpamaan maknanya pun seolah-olah pembaca merasakan apa yg dialami oleh pengarang . Bahkan ide yang dituangkan sungguh menarik minat pembaca 👍👍🙏
    Diyah Reka Noviyanti kelas 5D

  85. Saya setuju dengan tulisan Bapak di paragraf yang menyebutkan bahwa pamong baru tidak tercipta dari kekuatan uang, dan kekuatan negara bisa berasal dari desa sehingga pemerintah mencucurkan dana yang banyak untuk desa, walaupun ini juga bisa menjadi ladang korupsi, namun dengan bantuan dana yang maksimal suatu daerah akan mempunyai potensi menjadi daerah yang maju. Sebagai contoh di Indonesia ada sebuah desa yang bernama desa sekapuk di Gresik, Jawa timur, desa tersebut terkenal sebagai desa miliarder karena penghasilan dari desa tersebut bisa mencapai miliaran berbulan, dan dengan penghasilan tersebut banyak sekali sarana dan prasarana mewah dan terbaik yang disediakan oleh pemerintahan desa sekapuk tersebut, berita ini bisa menjadi angin segar untuk daerah lain atau bahkan untuk negara kita, hal ini bisa dicontoh dan dijadikan rujukan untuk para pemimpin di daerah-daerah lain atau bahkan pemimpin negara kita, bahwa kemakmuran itu bukan suatu hal yang mustahil, itu bisa dicapai dengan usaha keras yang jujur.

  86. Sebenarnya saya ikut bangga menjadi bagian dari desa, karena desa maju di awali dari anak mudanya yg membangun desa. Pemerintah jg sudah berbaik hati dengan memperhatikan desa, diawali dengan memberi bantuan dana agar desa menjadi lebih baik. Akan tetapi perangkat desa terutama kepala desa harus dapat mengemban amanah dari warganya. Karena ada beberapa kasus dimana pemerintah sudah mengucurkan dana bagi desa akan tetapi selama periode (kepala desa) menjabat tidak kelihatan hasilnya, d kemanakan kah dana desa tersebut ?. Untuk itu sebagai anak muda kita harus mengawal apapun yg terjadi di desa agar desa menjadi lebih baik.

    Nama : Regita Febriana Ulfah 1A

  87. Saya setuju, bahwa desa merupakan pemasok kebutuhan pokok untuk masyarakat kota. Pemerintah tidak bisa mengabaikan hal tersebut, Itu sebabnya pemerintah menggelontorkan dana desa yang jumlahnya tidak sedikit, sekarang setiap tahun pemerintah pusat telah menganggarkan Dana Desa untuk diberikan kepada seluruh desa di Indonesia. Hal ini baik untuk pemuda-pemuda desa, agar dapat lebih mengembangkan bakat dirinya, dan menyalurkan bakatnya untuk desa, tidak harus selalu ke kota, karena mereka sudah mempunyai wadah. Mengembalikan minat pemuda untuk mengadu nasibnya di desa sendiri dan membuatnya lebih maju. Dan kini desa tidak akan di pandang sebelah mata lagi, karena desa sudah mulai berkembang.
    Zuli Tri Ajiyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *