Festival Seni dan Reproduksi Kegagalan (Suara Merdeka, 12 Agustus 2018)

Festival Seni dan Reproduksi Kegagalan (Suara Merdeka, 12 Agustus 2018)

Festival Seni dan Reproduksi Kegagalan
Oleh Setia Naka Andrian


Tiada lagi dapat ditemukan keberadaan yang mutlak bagi diri seniman, kecuali ruang yang dia ciptakan dari dalam tubuhnya. Seniman bekerja pada diri sendiri. Melakukan segenap aktivitas artistik sendiri.
Selanjutnya, seniman menemukan beragam rintangan, cobaan, dan godaan dalam setiap langkah penemuan diri sebagai pencipta seni yang sesungguhnya. Kerja itu setidaknya menjadi duplikasi terhadap generasi sebelumnya, atau duplikasi bagi diri yang lain. Segenap riwayat itu telah menjadi ladang garapan tersendiri bagi pegiat seni dan komunitas di Kendal.
Pada 14-15 Oktober 2017, di Taman Gajah Mada Kendal, Jarak Dekat Art Production Kendal bersama beragam komunitas mengeksekusi Kendali Seni Kendal 2017. Itu penyelenggaraan kali kedua selepas 2016. Lembaga kesenian dan kebudayaan yang menasbihkan diri sebagai lembaga nirlaba itu didukung 42 komunitas anak muda menyelenggarakan gelaran sebagai embrio festival seni.
Mengingat, bagi mereka, belum pernah ada festival kesenian di Kendal secara periodik dan metodik. Berawal dari kegelisahan itu, komunitas seni dan budaya di Kendal yang didominasi anak muda berupaya menggeliatkan gerakan berkesenian yang tak sekadar selebrasi.
Namun ada niat menciptakan iklim belajar, membangun, dan mempertahankan potensi personal dan komunal. Kendali Seni Kendal (KSK) 2017 sedikit berbeda dari gelaran sebelumnya. Pada 2016 baru diikuti tujuh komunitas, kali kedua menjangkau 42 komunitas.
Pada 2016 baru menjangkau khalayak yang sebagian besar siswa, kali kedua mampu menyedot masyarakat umum dari dalam dan luar kota. Tajuk KSK 2017 “Kendal Aku Pulang”, sebagai salah satu wujud untuk menggerakkan seniman yang telah lama meninggalkan Kendal.
Mereka diajak pulang, menjenguk kota leluhur. Dan yang masih berada di Kendal, diajak berpulang pula. Karena, barangkali tubuh tidak ke mana-mana, tetapi siapa tahu hati mereka belum pulang.
Untuk memperkuat tajuk itu, tradisi gebyuk pun ditanam di area kegiatan. Itu tradisi mencari ikan oleh warga pesisir di sepanjang aliran sungai. Aktivitas itu dilakukan warga secara gotong-royong. Tradisi serupa dipercayai berlangsung turun-temurun di Kendal.
Merawat Tradisi
Gebyuk pada KSK 2017 tak sekadar karya instalasi. Namun upaya produksi kepekaan bagi seniman untuk menjaga dan merawat tradisi leluhur. Gebyuk sebagai alat penangkap ikan, pada KSK 2017 untuk menjaring segenap komunitas seni budaya di Kendal.
Diharapkan, embrio festival kesenian itu berangsur-angsur menjadi gelaran festival seni yang diidamkan. Tak ayal, pada KSK 2018 para pegiat telah cukup percaya diri menyebut gelaranitusebagaifestivalseni.
Festival yang dikabarkan akan bertema “Aku Kendal” itu berupaya meriwayatkan orang Kalang sebagai salah satu etnik di Kendal yang telah diteliti guru dan sejarawan Kendal, Muslichin.
Ikhtiar itu setidaknya menjadi jalan lain untuk meriwayatkan dan mencari solusi atas reproduksi kegagalan dalam berkesenian di Kendal. Para seniman akan menciptakan program kreatif untuk mencari identitas diri secara personal dan komunal. Salah satu ladang garapan untuk menopang KSK, misalnya, program Tilas Balik.
Program itu digagas untuk meriwayatkan kearifan kota. Lewat segala laku kreatif, pegiat berupaya membangun isu, pertimbangan, dan kemungkinan lain dalam gerak seni budaya dari waktu ke waktu.
Melalui laku itu, para seniman akan menyibak riwayat kota (kampung halaman) sebagai penelitian lapangan guna menghadirkan atau menemukan cerita rakyat, sejarah kampung, atau mitos di masyarakat. Selanjutnya, segala penemuan akan digarap melalui bidang seni.
Baik sastra, seni rupa, musik, teater, tari, maupun film. Segenap kerja itu tak lain demi kelangsungan, perkembangan, dan kemajuan kota menuju arah lebih baik. Sampai jumpa pada KSK 2018.***
— Setia Naka Andrian, lahir di Kendal, 4 Februari 1989, dan bermukim pula di kota itu. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini menulis esai, puisi, cerita pendek, dan resensi buku.
Visitors : 60 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *