Jagat Visual pada Musim Politik (Suara Merdeka, 24 Maret 2019)

Jagat Visual pada Musim Politik (Suara Merdeka, 24 Maret 2019)

Jagat Visual pada Musim Politik

Oleh Setia Naka Andrian
Seantero Indonesia sedang hangat membincangkan pemilihan orang-orang nomor satu, dari wakil rakyat daerah hingga presiden dan wakil presiden. Di mana-mana riuh. Tak hanya suara menggedor telinga, mata khalayak pun dipaksa melihat wajah-wajah yang hendak berlaga di panggung pemilu. Wajah yang dipajang di jalan, menggoda sepenuh senyuman, menebar keramahan.
Para pegiat desain komunikasi visual Universitas Selamat Sri (Uniss) Kendal menyambut hal itu, beberapa waktu lalu. Mereka berpameran seni rupa “Ajar Wanter” di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kendal. Instalasi dari bambu tak bercat dan tali rafia begitu rupa menyangga karya mereka, menyulap ruang selayaknya gedung pameran. Siang itu, terselenggara pula obrolan, membincang “Desain Grafis dalam Pusaran Politik”. Pemantik dua dosen muda Uniss, Didung Pamungkas dan Dwi Hantoro, serta Hevy Indah Oktaria dari KPU Kendal. Ada kegelisahan di antara mereka.
Keinginan, impian, niatan untuk turut serta mewujudkan pesta demokrasi yang bersih, aman, dan penuh godaan visual. Bukan sampah visual. Sampah visual setidaknya tak lagi hanya ditempel semena-mena dan tak berizin resmi. Namun sebagai sesuatu yang mampu membuat mata khalayak jemu. Puluhan karya itu begitu menggoda.
Karya bermula dari duplikasi sederhana benda-benda di sekitar kita; sepatu tanpa kaki, botol minuman dalam pangkuan, potret wajah, kehidupan kecil di kampung halaman. Semua itu menggiring, menuju ke keberanian; menggoda siapa pun untuk belajar berani, bersuara, berbuat sesuai dengan kehendak diri dan khalayak. Segenap obrolan dan karya yang dipajang mengajak kita makin memahami kehadiran diri bagi diri sendiri, orang terdekat, dan khalayak lebih ramai. Bagaimana posisi dan tanggung jawab kita untuk menjaga, merawat, dan menyangga pesta penyerahan suara itu?
Tokoh Lama, Tokoh Baru
Kesadaran kolektif hadirin jadi riwayat tersendiri bagi kenyataan yang lewat, yang telah berlalu. Yang kerap menggedor, bahkan melukai mata kita. Benar, segala itu telah jadi santapan sehari-hari. Kita seakan disuguhi segala sesuatu yang sama.
Beragam foto yang dipajang dan dipamerkan, mengintai mata kita. Merekalah tokoh lama yang percaya diri berlaga kembali, sedangkan tokoh baru turut serta ambil gaya. Kita rindu, kapan lagi menemukan tokoh baru yang bermunculan karena laku dan gerak kemaslahatan mereka. Bukan tokoh yang menghadirkan wajah duluan di jalan dengan desain dan editan sedemikian rupa, tanpa kita ketahui seluk-beluk dan takdir dia di hadirat khalayak. Makin hari kita kian rindu tokoh yang hadir di lingkaran publik tanpa kehendak sendiri. Tokoh yang terpanggil, tercipta bersama suara alam, suara Tuhan yang dititipkan pada rakyat. Segala peristiwa dan kegelisahan itu menyadarkan kita, betapa tidak sedikit tokoh dan pemimpin yang selalu ingin tampak di muka.
Kerap berupaya mengendalikan tatapan mata kita, melalui foto program kerja, keberhasilan pemerintahannya. Segalanya dinampakkan melalui gambar dia. Bukan gambar rakyat, bukan figur yang menjalankan program atau sosialisasi yang ditawarkan pemangku kepentingan.
Betapa semua itu hadir begitu saja, berterus-terang, tanpa upaya meraih godaan visual di mata publik. Di forum di tengah pameran, beragam kegelisahan bertumpahruah. Adalah tanggung jawab bersama, tugas besar pegiat desain grafis, untuk memikirkan keberlangsungan gerak visual masyarakat. Sebab, makin hari pemangku kebijakan, para pemimpin, politikus, telah dibentuk dan disiapkan dengan cara apa saja untuk menggapai puncak.
Mereka hadir dengan diri yang seolah-olah, diri yang dipercantik melalui gerak media massa. Diri yang menguasai media massa atau bahkan memiliki media massa. Upaya pegiat desain komunikasi visual itu jadi jawaban tersendiri atas keinginan menjaga, merawat, dan menyangga pesta demokrasi yang sebentar lagi bergulir. Mereka memberanikan diri berbuat, menyumbang, dan memenuhi kesadaran kolektif khalayak. Mereka menyuguhkan, mengajak, menciptakan tatanan yang memberi harapan bagi harkat hidup rakyat. (28)
—Setia Naka Andrian, lahir di Kendal, 4 Februari 1989, bermukim pula di kota itu. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini menulis puisi, cerita pendek, esai, dan resensi buku.

Visitors : 59 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *