Jalan Tol dan Kematian Kota (Tribun Jateng, 29 April 2017)

Jalan Tol dan Kematian Kota (Tribun Jateng, 29 April 2017)

Jalan Tol dan Kematian Kota
Oleh Setia Naka Andrian
Selepas peristiwa pembebasan lahan usai, yang didahului dengan tarik-ulur harga tanah, tragedi kecil dengan pemerintahan desa/kelurahan, atau bahkan hingga berdemo menuju pemerintahan tinggi di atasnya. Kita tak jarang akan melihat di warganet, orang-orang mengunggah foto riwayat rumahnya. Dari mulai potret awal ketika rumah didirikan, diperjuangkan dengan bertaruh keringat dari tahun ke tahun, hingga saat terjadi penggusuran akibat proyek pembangunan jalan tol.
Mereka seakan begitu tak rela melepas tanahnya. Berdalih, segala itu warisan leluhur yang tak terkira nilainya, dan patut dipertahankan sampai kapan pun! Namun akhir kata dalam unggahan foto-fotonya, “Biarlah segala ini berakhir. Biar bagaimanapun, semua ini demi suksesnya gerak pembangunan bangsa dan negara!”
Segala itu belum berakhir begitu saja. Tentu akan menyisakan berbagai persoalan baru bagi masyarakat kita. Awal mulanya, harga bangunan dan tanah yang diganti oleh pemerintah terkesan berduit-duit, melimpah-ruah. Ternyata setelah dibelikan lahan baru, kemudian membangun rumah lagi, uang tersebut tidak cukup. Lalu akhirnya, masyarakat lagi yang kelimpungan. Mengadu lagi, mengumpat lagi! Menyalahkan pemerintah lagi!
Belum lagi persoalan baru yang menimpa kota. Tentu ini bukan lagi hal sepele dan dapat dibiarkan begitu saja. Bergelimang pekerjaan rumah yang tidak hanya menyangkut harkat diri perorangan. Namun sudah berdampak pada kelangsungan hidup khalayak dan masa depan kota. Bayangkan saja, misalnya di kota kecil semacam Kendal. Selepas jalan tol Semarang-Batang dibangun, kemudian selanjutnya beroperasi. Apa yang akan terjadi dengan wilayah yang awalnya sebatas kota singgah ini?
Kota yang sebelumnya dimanfaatkan oleh pengguna Jalan Pantura hanya sebatas untuk merebah selepas mengisi bahan bakar di pom bensin, melucuti lelah sejenak di hotel-hotel melati, atau sekadar mencari warung-warung pinggir jalan untuk mengobati perut yang lapar. Segala itu sebatas mampir, tidak lebih! Kota singgah ini pun, sebelumnya seakan tak kuasa memberikan kemanjaan apa-apa. Baik itu untuk memanjakan mata atau bahkan lidah mereka!
Mata para pengendara, pelancong yang lewat tadi seakan semakin tak menemukan sesuatu yang berkesan. Seakan tiada lagi yang terkenang, membuat mereka kelak akan mampir lagi ketika melewati kota ini. Bahkan untuk urusan lidah, yang kita pahami dapat menjadi keutamaan bagi orang-orang bepergian. Siapa pun pasti ingin menjalani wisata kuliner! Sudahkah itu digarap di kota singgah semacam Kendal ini?
Seharusnya segala ini menjadi kegelisahan bersama. Kita harus sadar, kota ini bukan kota tujuan. Selepas jalan tol Semarang-Batang beroperasi, kita akan kejatuhan dampak yang bertubi-tubi. Bisa jadi, kota singgah yang dahulunya hendak bercita-cita menjadi kota tujuan pun akan pupus seketika. Bahkan untuk mempertahankan menjadi kota singgah (lagi) pun harus melalui jalan lebih panjang dan lengang.
Jika tidak segera mengambil tindakan berarti, cepat atau lambat kota ini akan berangsur-angsur mati. Para pengendara, pelancong, turis lokal maupun manca, akan lebih memilih berselancar di jalan tol yang lepas dan bebas hambatan itu. Menuju kota-kota tujuan semacam Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar (Bali). Kota singgah ini tidak akan kebagian apa-apa. Masyarakat kita yang (katanya) telah mendapat berduit-duit dari hasil pembebasan tanah pun seakan mereda. Menikmati kehidupan baru di tempat tinggal baru, dan ‘seolah-olah’ merajut kebahagiaan baru.
Lagi-lagi pemerintah kabupaten/kota (Bupati Kendal) harus segera lepas tindakan. Masyarakat pun wajib membantu. Persoalan ini akan mulus dilalui hanya dengan kerja kolektif. Sudah tentu, sangat perlu mendengar pertimbangan dari tokoh/sesepuh masyarakat, sejarawan, budayawan dan seniman dalam gerak pembangunan yang benar-benar meriwayatkan kearifan kota.
Mau diapakan kota ini, hendak dibawa ke mana, mau disulap menjadi apa, dan lain sebagainya. Sudah seharusnya, tatanan kota pun harus dikemas ulang sedemikian rupa. Merujuk yang sudah disinggung sebelumnya, secara sederhana, kota ini wajib memanjakan mata dan lidah para pelancong! Kedua itu tentu dapat kita jadikan sebagai awal pijakan.
Setelah keduanya selesai, maka kemanjaan hati pun akan dilampaui. Para pelancong akan berkesan, mereka akan terkenang atas kemanjaan-kemanjaan yang dihidangkan di hadapan mata, lidah, dan tentunya di hati. Maka mau tidak mau, kelak mereka akan mengulangi persinggahannya lagi. Akan datang kembali, mengajak orang-orang baru, mengabarkan kepada handai-taulan dan sanak-saudara. Otomatis, pundi-pundi pedagang akan semakin penuh, perekonomian masyarakat kota bergerak melambung tinggi.
Sudah seyogianya perlu dipetakan lagi, mana saja tempat-tempat wisata di Kendal ini yang berpotensi digarap lagi. Terutama wisata alam di kota ini yang sekiranya masih bertenaga untuk memanjakan mata khalayak. Tentu hal ini sebetulnya bukan lagi menjadi sesuatu yang sulit. Tidak sedikit wisata alam di kota ini yang memiliki daya pukau. Ada Curug Sewu, Goa Kiskendo, Pulau Tiban, Pantai Sikucing, dan lainnya. Tentu salah satu tugas saat ini, hanya bagaimana mengelolanya lebih baik lagi. Lihat saja beberapa waktu dekat ini, Sungai Bladon yang terletak di Dusun Krayapan-Brangsong telah membuktikan.
Sungai yang tidak disangka-sangka itu tiba-tiba meledak dibanjiri banyak pengunjung. Masyarakat hilir-mudik, tidak hanya dari dalam kota saja yang berdatangan, namun menyedot ratusan warga dari kota-kota tetangga. Sungai yang terkesan masih asri, bersih, dan cocok untuk digunakan berfoto di balon pelampung yang bisa disewa pelancong. Itu menjadi salah satu bukti atas aset alam yang dimiliki kota ini. Sudah saatnya kota berbenah. Proyek pembangunan tol sudah berjalan. Sebentar lagi akan beroperasi. Seluruh lapisan masyarakat wajib urun rembug, turut andil dalam menciptakan masa depan kota yang lebih baik!***

─Setia Naka Andrian,Dosen UPGRIS, Menulis buku Perayaan Laut dan Remang-Remang Kontemplasi.
Visitors : 74 views

2 Replies to “Jalan Tol dan Kematian Kota (Tribun Jateng, 29 April 2017)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *