Kampus Bukan ‘Menara Taring’ (Derap Guru, Maret 2017)

Kampus Bukan ‘Menara Taring’
Oleh Setia Naka Andrian

Seperti apa sesungguhnya kampus yang diidamkan mahasiswa masa kini? Tentu semua tak dapat disamakan atau dipukul rata dengan masa lalu. Misal saja, dulu mahasiswa bimbingan skripsi dengan susah payah menggunakan mesin ketik manual, sedangkan saat ini sangat nyaman menggunakan laptop bermerek dan tentu berharga mahal. Jika dulu setiap salah harus mengetik berulang-ulang dengan kertas yang berbeda hingga menumpuk kertas-kertas yang salah, namun kini dengan sangat mudah mengklik “delete” dengan file tersimpat dan kemudian mencetak lagi dengan kertas baru.
Barang tentu, hal tersebut akan memberi ‘sedikit’ perbedaan ketangguhan yang dialami akademisi masa lalu dengan akademisi masa kini. Melalui tempaan yang begitu keras, dilakukan berulang-ulang, maka ilmu akan sangat membekas dan kuat tertanam dalam diri. Seharusnya dengan segala kemudahan dan perkembangan teknologi saat ini, akan mampu menciptakan generasi yang lebih unggul. Jika generasi kita mampu memanfaatkan segala kelebihan-kelebihannya. Termasuk terkait teknologi yang tentu tidak ditemukan pada masa lalu. Tinggal bagaimana sikapnya memuliakan gelimang kecanggihan tersebut, karena informasi dan segalanya sudah dengan sangat mudah didapatkan.
Tentu kita yakin, jika mahasiswa, masyarakat akademis yang berproses di kampus, memiliki cita-cita mulia untuk memajukan dirinya dalam tugas sebagai manusia terdidik. Hal tersebut sejalan dengan yang dipaparkan Satmoko (1999) bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang berbahasa (untuk media berpikir dan berkomunikasi) sehingga mampu mencipta, belajar, bekerja, berproduksi, membedakan antara baik-buruk, beriman dengan yang gaib, menahan nafsu yang liar, memiliki kodrat, berusaha mengejar cita-cita idealnya, membina hubungan sosial dengan orang lain, hidup bermasyarakat dan berusaha menguasai sumber daya alam.
Perlakuan Lain
Maka sudah sepatutnya, ada perlakuan lain. Tindakan beda kepada mahasiswa dalam aktivitas pemerolehan ilmu di kampus. Harus ada upaya lain dalam pengelolaannya antara siswa dengan ‘maha’ siswa. Barang tentu mahasiswa sudah sepantasnya mendapat wilayah luas dalam pengembangan dirinya. Sudah saatnya mahasiswa mampu mencipta, belajar, bekerja, berproduksi, membedakan antara baik-buruk. Lalu tugas pengajar/dosennya bagaimana? Haruskah benak mahasiswa di kampus masih beranggapan sebagai gedung-gedung yang seram?
Tentu, mahasiswa, generasi perubahan bangsa ini sangat mengidamkan kampus yang segar, bergairah dan sangat anak muda. Lingkungan yang akan membuat mereka lebih leluasa dalam berpendidikan dan mengembangkan diri. Mengingat, posisi usia mahasiswa sangatlah perlu dipompa semaksimal dan seoptimal mungkin untuk menggapai segala angan dan cita-cita. Kita juga tentu tidak ingin, melihat lebih banyak lagi persoalan-persoalan yang bergelimang dalam dunia anak muda masa kini. Misalnya terkait kenakalan-kenakalannya, gaya hidup yang terlalu bebas, bahkan hingga menuju tindak kriminalitas.
Sepertinya kita perlu kembali memutar ingatan menuju pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang begitu mulia menjadi pijakan pendidikan di negeri ini. Konsep-konsep yang diberikannya tentu tidak kalah dengan pemikiran dan teori pendidikan modern yang berkembang hingga saat ini. Barang tentu sudah sangat kita ketahui, bahwa Ki Hadjar Dewantara jauh lebih dulu mengenalkan konsep Tri-Nga dari Taxonomy Bloom (cognitive, affective, psychomotor) yang kita ketahui sangat terkenal itu. Konsep tersebut di antaranya Ngerti (kognitif), Ngrasa (afektif) dan Nglakoni (psikomotorik).
Belum lagi konsep belajar yang selayaknya taman, proses pembelajaran yang menyenangkan. Melakoni dan menyelesaikan segala sesuatu dengan pemecahan bersama melalui perbincangan-perbincangan yang menyenangkan. Jika sudah seperti itu, tentu kita pelan-pelan akan sedikit menyingkirkan wabah penyakit dari gerakan teroris dan faham-faham radikalisme lainnya yang saat-saat ini begitu berkembang pesat di negeri ini, tidak sedikit pula yang bermunculan dan mengakar begitu kuat di kampus-kampus.
Tentu pemerintah dan lembaga-lembaga terkait termasuk kampus, tidak boleh gegabah. Jangan sampai timbul aktivitas latah akibat ada niatan besar untuk pencapaian program secara cepat dan instan. Pendidikan nasionalisme memang sangat penting dan sangat perlu. Namun, segala itu tidak dapat begitu saja dilakukan dengan mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan. Segala itu membutuhkan proses. Membutuhkan perjalanan dan perlakuan pelan melalui pembiasaan aktivitas-aktivitas yang sehat.
Sudah saatnya kita memberikan kebebasan sepenuhnya bagi mahasiswa untuk berekspresi positif. Seluas-luasnya. Jangan sampai kampus menetapkan larangan-larangan yang terkesan menyudutkan mahasiswa atau seolah-olah memposisikan mahasiswa sebagai manusia yang selalu salah. Tentu kita sejenak harus sedikit merenungkan, bahwa sejatinya mahasiswa adalah ujung kemuliaan siswa. Mereka pada posisi atas. Beri kesempatan yang paling atas untuk mengembangkan posisi mulianya sebagai masyarakat akademis.
Seperti halnya yang disampaikan Prayitno (2009) pemuliaan kemanusiaan manusia dalam kehidupan sehari-hari nampak melalui aktualisasi dimensi-dimensi kemanusiaannya. Di antaranya dimensi kefitrahan, keindividulanan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagamaan. Jika penampilan kelima dimensi kemanusiaan tersebut sudah benar-benar tertanam, maka setidaknya mahasiswa akan merasa lebih dimuliakan lebih dari kemuliaannya. Selanjutnya, potensi-potensi baru pun akan mengaliri lautan akademis kita. Kampus bukan lagi menjadi ‘menara taring’ bagi mereka. Semoga.***

─Setia Naka Andrian, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang.
baca juga  Sopir Angkot Baca Koran, Mahasiswa Baca Status (Rakyat Jateng 30 Desember 2015)

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Comments

  1. Dian Panca Octaviani 2 D
    Menurut saya teknologi pada zaman dulu belum secanggih zaman sekarang, walaupun demikian ada yang sudah bisa memanfaatkan teknologi tersebut tetapi masih ada yang belum sanggup memanfaatkannya. kampus adalah hal yang paling utama dalam memperoleh ilmu, dengan adanya kampus yang tertata dengan baik akan menambah mahasiswa bersemangat dalam memperoleh ilmu. saya tunnggu karya bapak selanjutnya

  2. Menurut aku teknologi memang sangat penting di semua kalangan. Mukin jaman sekarang teknologi sudah canggih daripada dulu apalagi kita yang masih kuliyah tentu sangat penting.

  3. Neneng Kurniasih 2C
    Memang teknologi zaman sekarang sangat berbeda jauh dari teknologi zaman dulu. Teknologi zaman sekarang sangat begitu canggih, terdapat dampak positif dan negatifnya bagi kita sebagai mahasiswa. Dampak positifnya kita sebagai mahasiswa banyak memperoleh ilmu pengetahuan yang melimpah namun dampak negatifnya dengan adanya teknologi ini kita pun menjadi mahasiswa yang pemalas untuk berpikir. Seharusnya kita memanfaatkan teknologi ini sebaik mungkin dan dengan cara yang positif bukan malah menjadikan ini sebagai acuan pertama yang membuat kita menjadi malas untuk berpikir,berbuat sesuatu atau bahkan malah membuat kita terjerumus ke dalam hal-hal negatif karena teknologi ini.

  4. Neneng Kurniasih 2C
    Memang teknologi zaman sekarang sangat berbeda jauh dari teknologi zaman dulu. Teknologi zaman sekarang sangat begitu canggih, terdapat dampak positif dan negatifnya bagi kita sebagai mahasiswa. Dampak positifnya kita sebagai mahasiswa banyak memperoleh ilmu pengetahuan yang melimpah namun dampak negatifnya dengan adanya teknologi ini kita pun menjadi mahasiswa yang pemalas untuk berpikir. Seharusnya kita memanfaatkan teknologi ini sebaik mungkin dan dengan cara yang positif bukan malah menjadikan ini sebagai acuan pertama yang membuat kita menjadi malas untuk berpikir,berbuat sesuatu atau bahkan malah membuat kita terjerumus ke dalam hal-hal negatif karena teknologi ini.

  5. Selviana Putri 2c
    Mahasiswa sekarang lebih mudah mencari sumber ilmu tidak hanya dari buku karena teknologi yang semakin canggih dapat mengetahui informasi apapun dari handphone, laptop, dan alat elektronik lainnya. Namun, kita tetap harus pandai menggunakan kecanggihan teknologi masa kini karena ada beberapa hal negatif dari teknologi yang canggih seperti zaman sekarang.

  6. Setelah membaca esai tentang kampus idaman yang diidampkan mahasiswa masa kini adalah kampus yang dapat membebaskan mahasiswanya secara bebas, bukan dalam masalah tekhnologi yang canggih atau perbedaan masa tekhnologi dulu atau sekarang. Tetapi dengan pemikiran yang jauh berbeda dari zaman dulu menyadarkan saya bahwa memang jauh berbeda pemikiran antara mahasiswa dulu dan kini. Mahasiswa dahulu cenderung mempunyai semangat juang yang tinggi untuk mendapat Index Prestasi yang tinggi dengan usaha dan hasil yang memuaskan pula. Bukan hanya hasil yang didapat tetapi juga dibuktikan dengan perbuatan atau perilaku yang mencerminkan perbuatannya tersebut. Tetapi mahasiswa sekarang tidak mempunyai niat untuk berjuang demi kuliahnya, demi keluarganya, mereka hanya mengandalkan hasil entah itu dengan cara yang halal atau haram. Namun pada simpulannya menurut saya mahasiswa sekarang sudah cukup mampu untuk berfikir namun kurang mempunyai semangat berjuang untuk memperjuangkan hak-haknya. Terima kasih.
    Rohayatun Nur Fadilah (2D) (16410173)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *