Meraba Langkah Kreatif [Setia Naka Andrian]

Meraba Langkah Kreatif [Setia Naka Andrian]


Meraba Langkah Kreatif
Setia Naka Andrian

Mengawali sebuah langkah memang tidak mudah. Pasti akan dihadapkan pada keterbatasan-keterbatasan yang membuat langkah kita menjadi tersendat, terhenti sejenak, bahkan terkadang hingga berhenti total dan tak dapat melangkah. Memang ada kalanya kita terasa kehabisan akal untuk memulainya. Merasa kurang saat mendapatkan sesuatu. Tapi juga kadang kita menggebu-gebu hingga selalu bermunculan ide-ide yang menghentak-hentak hingga semua termuntahkan tanpa batasan-batasan. Nah, bila itu terjadi ada kalanya pula belum tentu ide/ pemikiran yang kita dapatkan dapat menjadi sebuah pemikiran yang cemerlang dan kreatif.
Dalam hal ini, kita tidak boleh hanya diam, hanya menuangkan saja tanpa melewati pengendapan dan perenungan. Maka kita harus mampu menggugat setiap ide-ide yang kita tuangkan tadi. Misalnya dengan melakukan sebuah pembahasan karya/ diskusi kecil-kecilan. Nah, dari itu kita akan mendapatkan semacam pencerahan untuk sedikit menggugat tentang pemikiran/ ide-ide yang kita tuangkan tadi. Jadi tidak semata-mata kita muntah lalu membersihkan muntahan tadi bila telah mengotori lantai atau baju.
Ibaratnya orang muntah tadi, pasti akan terlihat makanan-makanan yang telah kita makan sebelumnya. Entah itu es cendol, bakso, nasi goreng dan makanan-makanan kecil lainnya. Sehingga kita dapat mengupas tentang apa yang telah kita tuangkan benar-benar sebanding dengan apa yang telah kita dapatkan dan yang terekam dalam otak. Entah itu yang diperoleh dari buku-buku tua peninggalan jaman perang Majapahit, entah itu dari buku sisa jaman kolonial Belanda atau mungkin tentang sesuatu yang terekam oleh mata serta yang dialami tiap-tiap individu.
Banyak hal yang dapat kita lakukan dalam penemuan-penemuan ide/ pemikiran cemerlang. Tentunya kita harus yakin terlebih dahulu tentang apa yang akan kita lakukan. Lalu kita membawanya menuju pemahaman yang wajar dan standar dari apa yang kita miliki. Mustahil rasanya bila berpikir muluk-muluk tapi ternyata yang kita tuangkan menjadi sebuah gagasan yang di cap ora karuwan oleh orang-orang yang kita anggap tua atau mungkin yang dituakan dalam bidangnya. Nah, kita perlu berpikir realistis sebagaimana berbalut pada hal-hal yang kita sadari, kita yakini, dan tentang hal-hal terdekat di sekeliling kita. Jadi nggak usah berpikir jauh-jauh sampai nembus langit dan nendang bintang, nanti malah tambah kerepotan lagi ketika mikir ingin turun. Malah bakal tambah lebih sakit bila mungkin nanti terjatuh. Jadi ya sebaiknya kita tuangkan sesuatu yang paling dekat dengan mata kita, hal yang paling kita mengerti dan yang paling akrab pada diri kita.
Memang ada kalanya juga kita harus berpikir jauh. Misalkan tentang kegelisahan-kegelisahan tentang suatu hal yang dianggap tidak masuk akal. Tentang ajaran-ajaran agama yang dirasa kita membingungkan. Lalu kita mencoba untuk mencari jalan keluar untuk mencapai sebuah kebenaran tertentu tentang keberadaan tersebut. Jadi ya semua sah-sah saja. Semua tergantung pada niat dan kehendak. Yang terpenting adalah berani memulai dan berani melangkahkan sedikit demi sedikit walaupun hanya sejengkal.
Nah, ada lagi. Ukuran estetika juga perlu diperhatikan. Ini merupakan sebuah terasi pada beraneka macam sambal. Karena ada rasa tersendiri atas kehadiran terasi tersebut. Kurang bila tanpa itu. Sama halnya ketika menuangkan sesuatu hal, kita wajib memikirkan nilai estetika. Karena tanpa ukuran estetika, sesuatu yang kita tuangkan nampak tak memiliki rasa. Kekuatannya seakan terabaikan bila nilai satu ini tidak diikutsertakan. Dan mungkin akan jadi bahan cemoohan. Walaupun disamping itu kita juga harus memikirkan tentang gagasan dan tema yang akan kita tuangkan.
Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan? Bergegas cuci kaki tangan dan mengelap muka lalu tidur? Ataukah kita akan mengelelawar dan menjadi penguasa malam atas kehendak-kehendak aneh serta kegelisahannya?
Yah, yang terpenting ya kita harus berani dan rela mati-matian saja untuk terus berkarya. Kalau kita sudah benar-benar yakin dan merasa ingin berjalan pada dunia gores-menggores ini. Kata orang, ibaratnya kalau sudah terlanjur basah setengah badan ya nyebur saja biar basah semua. Tapi bagi saya pribadi ya mending jangan nyebur, bukannya takut air atau pemalas mandi. Mending kita siapkan perahu untuk berlayar diatas air tadi, lalu kita akan melihat orang-orang yang serba kebasahan. Kita paham tentang air itu, kita tetap akrab dengan air itu, tanpa kita harus nyebur dan serba kebasahan.
Intinya ya bekerja cerdas, bukan bekerja keras.

Visitors : 159 views

4 Replies to “Meraba Langkah Kreatif [Setia Naka Andrian]”

  1. Saya setuju dengan isi bacaan “Meraba langkah kreatif”. Memang dalam kita melangkah atau ingin menggapai tujuan kita harus melewati berbagai macam rintangan yang tentunya bukan suatu hal yang mudah, tapi percaya setiap rintangan yang kita lewati dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih dewasa. Sama halnya dalam berkarya, kita harus berani mengambil setiap permasalah atau resiko yang ada. (Erin Winda Maharani)

  2. Ya benar saya sering merasakan hal serupa yaitu ketika ada masa beribu-ribu ide di kepala yang dapat dituangkan, dan terus dituangkan hingga menghasilkan sedikit coretan. Tapi ada juga di masa sama sekali tidak ada ide, bahkan imajinasi pun sulit terbesit di pikiran. Sangat sulit menghasilkan sebuah coretan.

  3. Saya setuju dengan pernyataan yang diungkapkan Setia Naka Andrian tentang segala keterbatasan yang hadir untuk memulai proses kreatif. Langkah dengan memikirkan ide yang ada terkadang hadir tanpa terduga. Setiap ide yang hadir harus mengalir sendiri tanpa harus dipaksakan. Pemikiran kreatif pasti lahir melalui proses panjang, permasalahannya memang pada saat akan memulai langkah ini. Langkah yang sering terhenti karena tidak dapat berpikir lebih jauh. Ini membuat hasrat dalam diri mulai berpikir kembali untuk memulai. Tidak hanya itu, perlu pengetahuan lebih mengenai ukuran estetika yang harusnya hadir mengisi rasa suatu hal itu. Memang benar, kehadiran estetika sangat penting untuk membuat suatu itu terasa dan lebih bermakna.
    (Fiqrotun Nabilla)

  4. Menjadi seseorang yang dapat dikatakan sukses bukanlah hal yang mudah. Pasti memerlukan langkah dan proses yang begitu panjang. Setelah membaca bacaan meraba langkah kreatif, kita dapat tahu bahwa menjadi sosok yang kreatif bukan hanya pandai dalam merangkai kata namun juga inovasi-inovasi didalamnya guna menuangkan ide atau gagasan pada setiap individu. Sama halnya apabila ingin menjadi pemimpin. Pemimpin adalah sebuah profesi yang tidak mudah, kita harus merogoh otak kita bagaimana agar ide kreatifnya keluar sehingga mendapati hasil yang cemerlang. Serta bagaimana cara untuk merogoh otak agar dapat menjadi teladan bagi anak buahnya pastinya. Tidak hanya itu, ide cemerlang yang dimiliki tidak semata-mata jua kita bisa menggapainya sendiri, pasti membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa mencapai titik puncak pada sebuah tujuan. Percaya diri pada hal ini pasti sangat dibutuhkan. Bagaimana bisa kita dapat menyampaikan atau muncurahkan ide apabila tidak memiliki rasa percaya diri itu. Sehingga disini saya setuju sekali dalam goresan kata Setia Naka Adrian ini. Banyak manfaat setelah membaca esai ini sehingga dapat menjadikan pacuan atau semangat kita untuk terus melangkah sekreatif mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *