Meraba Puisi dalam Kumpulan Cerpen (Derap Guru, Oktober 2017)

Meraba Puisi dalam Kumpulan Cerpen (Derap Guru, Oktober 2017)

Meraba Puisi dalam Kumpulan Cerpen
Oleh Setia Naka Andrian
Judul Buku                : Kolektor Mitos
Penulis                         : Halim Bahriz
Penerbit                       : Langgam Pustaka
Cetakan                       : Januari 2017
Jumlah Halaman          : viii + 110 halaman
ISBN                           : 978-602-60094-3-2
Dewasa ini tentu tidak sedikit cerita-cerita yang bermunculan ditulis oleh penyair, baik dipublikasikan dalam media massa maupun media lainnya. Tidak sedikit pula dijumpai cerita-cerita tersebut dengan ciri khas aroma syair. Narasi-narasi yang terbentuk, pengisahan suatu cerita atau kejadiannya, deskripsi suatu kejadian atau peristiwa dalam ceritanya, bahkan tema dan judulnya sangat lekat dengan puisi.
Tidak ada yang salah, baik puisi yang menyerupai prosa ataupun prosa yang menyerupai puisi. Namun, setidaknya keduanya harus memiliki batasan-batasan yang dapat dipercayai, paling tidak oleh pembaca. Penulis haruslah mampu meyakinkan pembaca, bahwasanya yang ditulis itu puisi, atau cerpen.
Fenomena tersebut agaknya dapat dijumpai dalam kumpulan cerpen Kolektor Mitos karya Halim Bahriz (Langgam Pustaka, Januari 2017), yang setidaknya selain menulis cerpen, ia juga kerap menyandang gelar penyair, dan tak sedikit ia dinobatkan sebagai juara dalam ajang lomba penciptaan puisi.
Halim begitu kental menyuguhkan kehadiran puisi-puisinya dalam cerpen. Bangunan narasi dan pengisahannya begitu kental ia tanami puisi-puisi. Entah, apakah ketika menulis cerita ia begitu kesulitan meninggalkan puisi. Atau ketika menulis cerita ia bersanding dengan puisi-puisinya, lalu ia comoti mana yang bisa ditaburkan dalam cerita yang sedang dibuatnya.
Dalam cerpen Sebuah Makam dalam Cahaya, misalnya. Halim seakan terlihat sangat berambisi menghadirkan cerita yang sangat puisi. Mereka terlalu banyak: Jilan dikeroyok. Ia mulai merasakan tubuhnya semakin jauh. Ia dan tubuhnya saling melepas, menuju keharuan yang tak perlu, dadanya disesaki kata yang tak mampu diucapkan lagi, “Tidak! Tidak! Kenapa bahasa tak lagi mencukupi untuk menyatakan aku saja?!… (hlm. 2).
Tentu menjadi kebaikan tersendiri jika pengisahan-pengisahan bernada puisi telah bertabur erat dalam cerita. Kata-kata puitik hadir dan singgah dalam sebuah bangunan narasi yang memadahi. Sehingga, akan menjadikan cerpen memiliki ruang pembacaan yang berlapis. Selain harus menyibak segala sesuatu dalam bangunan kisah, pembaca juga harus berkerut-kening dengan kode-kode yang begitu puitik itu.
Pada persoalan ini, Halim pun memiliki tugas keras dalam menghadirkan sandi-sandi narasinya. Jangan sampai, beragam kode atau sandi-sandi yang digulirkannya menjadi semacam kode rahasia yang tak terjangkau pembaca (gelap). Halim pastinya harus sudah sanggup mempertimbangkannya, karena yang ia garap adalah cerita.
Jangan sampai kehadiran narasi-narasi puitik yang dihadirkan justru menjadi bumerang. Nilai hakiki sebuah cerita yang dihadirkan tak mampu ditembus oleh pembaca. Meminjam apa yang sempat disampaikan Agus Noor dalam sebuah forum diskusi, “kenapa harus dikisahkan dengan rumit dan dengan teknik yang berjungkir-balik, jika dengan pengisahan sederhana saja cerita sudah memikat?”
Hal itu dapat menjadi pijakan, bahwa kisah yang sudah bagus, pasti sudah memiliki tempat di hadapan pembaca, sudah memiliki daya pikat. Maka, pengisahan yang rumit atau cerita yang menggunakan teknik berjungkir-balik, hanya untuk kisah-kisah yang biasa-biasa saja. Agar kisah itu memiliki daya pikat di hadapan pembaca.
Dalam cerpen berjudul Mutan, nampak pula Halim membuka cerpennya dengan sangat puisi. Jingga tipis dari senja melapisi tembok kaca. Seperti mengecat cahaya dengan kesementaraan yang berulang. Ben, sedang berbicara mengenai post-modern, sedikit-sedikit, mirip roh kata-kata yang tersedak; momen tengil antara ketiadaan waktu dan ruang yang kembali bernapas. (hlm. 64).
Dari penggalan itu, nampak seperti apa kehadiran puisi dalam cerpen Halim. Pembaca diajak mengembara, diberi tugas dan beban berat untuk memecah sandi-sandi yang ia ciptakan. Hanya saja, ada kalanya hingga akhir cerita pembaca masih kesulitan untuk memecahkan sandinya.
Walaupun begitu, cerpen-cerpen lain dalam kumpulan cerpen ini, Halim kerap kali berhasil dalam membawakan kisah-kisahnya. Halim sesunggungnya telah sanggup menghadirkan kisah memikat dalam narasi-narasi sederhananya. Dalam Lelampak Lendong Kao, misalnya. Halim begitu rupa menghadirkan persoalan kemanusiaan, rasa syukur, ketabahan, keimanan, dan penghambaan kepada Tuhan.***
Visitors : 34 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *