Pagebluk dan Telur Naga Merah (Cendananews, 18 April 2020)


Pagebluk dan Telur Naga Merah
cerpen Setia Naka Andrian

Kampung tiba-tiba digegerkan kabar tentang telur yang bisa menangkal pagebluk. Desas-desus itu beredar luas. Selepas hampir tiga bulan ini virus mematikan menebar di seluruh dunia, hingga sampai di sebuah kampung terpencil yang cukup jauh dari kota.
“Kamu tahu tentang kabar telur yang manjur itu, Sul?” Tanya penasaran Sutanto Aji kepada Samsul Maarif di sebuah angkringan.
“Sepenuhnya tahu sih, tidak. Hanya kabar-kabar yang berseliweran saja. Itu pun hanya sepenggal-penggal saja. Sepertinya kabar-kabar itu kerap disampaikan dengan tidak lengkap. Tidak saya terima gamblang. Malah semakin membingungkan saja.” Jawab Samsul sambil sesekali menyeruput kopi panas dari tangan kirinya. Lalu mengisap dalam-dalam keretek yang dijepit dari dua jari tangan kanannya.
“Namun saya sebenarny­­a heran, Sul. Kenapa seluruh warga percaya begitu saja.” Ucap Aji dengan begitu entengnya, sambil ia menikmati gorengan yang baru saja diangkat dari wajan.
“Kenapa bisa begitu, Ji?” Samsul jadi penasaran. Ditatapnya lekat mata Aji.
“Mau bagaimana, Sul. Coba kita yang sudah hidup di tahun 2020 ini agak logis. Bagaimana bisa pagebluk ini akan berakhir begitu saja, hanya dengan sebutir telur itu? Kita tahu kan, Sul. Italia, Sul. Italia saja kesusahan menghadapi pagebluk ini.” Kian serius menyampaikan pendapatnya. Meski dengan penuh tekanan, namun suara kian diperlambat. Takut jika sampai didengar orang. “Negara-negara di Eropa yang sudah sangat maju juga susah mengusir virus mematikan ini. Seluruh dunia pusing.”

Udara dingin menyergap sekujur gerobak angkringan itu. Samsul diam. Namun tetap tak berhenti menyeruput kopi pahitnya yang kian dingin. Asap dihembuskan dari mulut dan hidungnya dengan penuh kelegaan. Meski matanya seakan menerawang jauh. Entah ke mana. Aji dan Samsul duduk bersebelahan. Di sebuah kursi kayu panjang, tepat di depan gerobak angkringan.
“Mas Aji, Mas Samsul. Maaf ya, saya tadi tak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Diam-diam saat saya mengurus gorengan, kisah yang kalian bicarakan turut mengusik saya. Namun saya diam saja. Sebab takut juga kalau ikut berkomentar.” Tutur Pak Ahyar, pemilik angkringan yang begitu lugu dan dikenal baik hati itu.
“Lho, takut kenapa, Pak?” Aji penasaran.
“Ya, kenapa bisa takut, Pak?” Samsul turut tanya.
“Sebentar, ya. Saya sambil mengemasi dagangan dulu. Hari sudah larut. Sebentar lagi hujan sepertinya juga akan turun.”

Aji dan Samsul kian penasaran. Mereka nampak tak sabar ingin mendengar penjelasan Pak Ahyar yang sedang berkemas memberesi dagangannya. Meski usianya sudah setengah abad lebih, namun ia masih nampak segar menjalani hari-harinya dengan berjualan hingga larut malam. Hampir setiap malam ia membuka angkringannya. Meski telah ada edaran dari pemerintah agar warung-warung ditutup. Termasuk terkait pembatasan kerumunan. Namun kampung ini cukup jauh dari pusat kota. Orang-orang keras kepala sesekali masih keluyuran. Meski sekadar untuk cari angin dan minum kopi di angkringan. Termasuk anak muda semacam Aji dan Samsul.
Angin dingin menyambar kian kencang. Langit nampak mendung, kian gelap. Aji menarik risleting jaketnya hingga leher. Samsul membetulkan dan mengencangkan gulungan sarungnya mengitari leher. Gemuruh guntur sesekali memecah suara angin yang menampari daun-daun pepohonan. Sudut perempatan jalan tempat gerobak angkringan itu memangkal pun tak ditemui orang lain selain mereka.

“Begini, Mas Aji, Mas Samsul.” Pak Ahyar mendekati kedua anak muda itu. Sontak Aji dan Samsul memberinya tempat untuk duduk bersebelahan. Keduanya antusias pasang telinga untuk lekas menadah apa saja yang akan keluar dari mulut Pak Ahyar. “Waktu itu, tengah malam hampir serupa ini. Hanya saja saat itu langit cerah. Tidak sedang hampir hujan seperti sekarang. Pak Lurah dan Ki Mahmud mampir di angkringan ini. Mereka pesan kopi panas.”
“Wah, Pak Lurah dan Ki Mahmud mau apa tengah malam mampir ke sini, Pak?” Samsul makin penasaran, hingga ia menunda niat untuk menyalakan kembali kereteknya yang baru saja mati. Aji mengangguk, memberi penguatan. Kedua mata mereka metatap ketat ke arah Pak Ahyar.
“Ada pembicaraan yang tak sengaja saya dengar malam itu. Sama persis seperti malam ini yang saya dengar dari kalian. Saya ingat, saat saya mendengar itu, tentu sebelum kabar telur itu gempar di kampung ini. Kalau tidak salah, baru satu minggu kemudian desas-desus tentang telur ini merebak ke mana-mana.” Aji dan Samsul kian khidmat. Seakan tidak ingin sepatah kata pun yang meluncur dari mulut Pak Ahyar tak tertangkap telinga mereka.
“Pak Lurah bicara sangat pelan kepada Ki Mahmud. Nampak sangat berhati-hati sekali. Seakan takut jika saya mendengar. Pak Lurah meminta tolong kepada Ki Mahmud, agar ia mau memberi petunjuk untuk menangkal pagebluk yang sedang merebak ini. Awalnya Ki Mahmud bernada menolak halus.”
“Wah, kenapa sampai menolak, Pak? Bukankah Ki Mahmud itu orang pintar yang terkenal sangat suka membantu siapa saja?” Dengan masih penuh penasaran, cerocos Samsul memutus pembicaraan Pak Ahyar begitu saja.
“Sebentar, sabar. Pasti saya lanjutkan.” Pak Ahyar sambil melihat sisi kanan dan kiri, meyakinkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengintai pembicaraan mereka. Aji dan Samsul pun turut serta memantau. “Namun Pak Lurah memohon dengan sangat, bahwa semua demi kemaslahatan. Lalu akhirnya Ki Mahmud menyampaikan sesuatu kepada Pak Lurah. Ia menyampaikan mengenai telur naga merah itu.”
Aji menyergah, “Lantas bagaimana dengan telur itu, Pak?” Samsul mengangguk, memberi penguatan.
“Ki Mahmud bilang, kalau telur naga merah diyakini bisa menangkal pagebluk yang sudah tiga bulanan ini meresahkan warga dunia. Termasuk di kampung kita ini.”
Samsul menyerobot, “Telur itu bisa didapat di mana, Pak? Sebab yang beredar selama ini, semua simpang siur.”
Aji turut bicara, “Ya, benar, Pak. Ada yang bilang telur itu bisa didapat di bawah rumah Ki Mahmud. Setelah menggali lima meter tepat di bawah pintu rumahnya.”
“Ada lagi yang bilang jika telur itu bisa ditemukan di dasar Sungai Waru. Terus ada juga yang bilang jika telur itu akan keluar dari perut seorang perempuan yang mengandung lima bulan dan ditinggal mati suaminya.” Samsul penuh meyakinkan.
“Kemarin malam, Pak Sarmuni saat ngopi di sini juga bilang, kalau telur itu akan datang dengan sendirinya di atap rumah perawan tua yang selalu gagal menikah akibat calon suaminya meninggal tanpa sebab sesaat sebelum pernikahan itu dijalani.” Pak Ahyar menambahkan.
“Nah. Itu masalahnya, Pak. Semua kabar tentang telur itu tidak ada titik temunya.” Aji menegaskan.
“Dan semua itu membuat seluruh warga di kampung ini bertanya-tanya. Selain kecemasan dan ketakutan yang kian hari kian tak karuan, kita semua juga dibuat bertanya-tanya tentang kepastian telur itu, Pak. Sesungguhnya kedua itu sama-sama meresahkan.” Samsul menambahkan.
Aji mendesak, “Malam itu Ki Mahmud tidak menyampaikan di mana telur itu bisa ditemukan, Pak?”
“Saya tak mendengar jelas dan pastinya di mana telur itu bisa didapat. Namun saat itu Ki Mahmud beberapa kali menyebut Bukit Limanan.” Jawab Pak Ahyar masih dengan nada was-was, takut jika ada yang mendengar. “Namun selanjutnya saya tak tahu. Mereka pulang, sesaat kemudian selepas Bukit Limanan disebut-sebut itu.”

Aji dan Samsul terdiam. Seakan mereka berjumpa dalam titik lamun yang sama. Seakan sama-sama menerawang Bukit Limanan yang tak jauh dengan kampung mereka. Bukit itu menjadi pembatas kampung ini dengan kampung sebelah.
Sesekali gemuruh guntur kembali memecah suasana. Dingin angin kian menampari siapa saja. Tak terkecuali Pak Ahyar, Aji, dan Samsul yang sedang serius dalam pembicaraan.

Pak Ahyar kembali melanjutkan pembicaraan yang terputus. Aji dan Samsul kembali menaruh telinga juga matanya ke arah Pak Ahyar, “Memang, selama ini kita dibuat bertanya-tanya. Berita-berita di televisi juga semakin membuat kita semua ketakutan. Setiap saat selalu saja dibakarkan kematian orang-orang terinfeksi berjatuhan. Selama tiga bulan ini saja ribuan orang di seluruh dunia telah direnggut virus mematikan itu. Meski memang warga di sini belum ada yang terinfeksi. Dan kita semua tentu tak ada yang berharap terinfeksi, kan?”
“Ya, semoga saja virus itu tidak akan sampai di sini.” Ucap Samsul sepenuh doa.
“Semoga misteri telur naga merah itu lekas terungkap.” Aji turut menaruh doa.

Petir menyambar. Pak Ahyar kaget, begitu pula Aji dan Samsul. Langit sudah nampak hampir menumpahkan seluruh airnya. Pak Ahyar mendongak ke atas, kemudian mengajak pulang, “Mas Aji, Mas Samsul, sebentar lagi hujan akan turun. Kita sudahi pembicaraan kita malam ini ya…”
Sesaat kemudian hujan turun cukup lebat. Mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Meski Aji dan Samsul masih memendam rasa penasaran. Telur naga merah di Bukit Limanan. Saat berjalan pulang, Aji dan Samsul berencana esok hari akan pergi ke Bukit Limanan.
***

Aji dan Samsul menepati rencananya untuk pergi ke Bukit Limanan. Pagi hari mereka berangkat bersama. Ditempuh dengan jalan kaki. Sebab untuk menuju ke bukit itu, mereka harus melewati tepi sungai, sawah, dan hutan. Namun saat belum jauh berjalan meninggalkan rumah mereka yang memang berdekatan, Aji menepuk pundak Samsul dan berkata, “Sul, berhenti sebentar. Lihatlah ke Balai Desa.” Bisik Aji kepada Samsul, saat melihat Pak Lurah dan Ki Mahmud sedang serius berbincang.
Akhirnya mereka berdua penasaran dan cari cara agar bisa menguping pembicaraan Pak Lurah dan Ki Mahmud. Mereka mengendap-endap melewati sebelah pagar luar Balai Desa untuk mendekat menuju tempat Pak Lurah dan Ki Mahmud duduk di depan Balai Desa.
“Saya tak habis pikir, kenapa putra Pak Romdon yang bekerja di Wuhan itu nekat pulang juga. Padahal tahu kalau bapaknya setiap malam mengajar mengaji anak-anak sekampung. Pulang diam-diam juga. Sudah seminggu ini di rumah. Sedangkan Pak Romdon juga nekat, masih mengajak anak-anak mengaji.” Pak Lurah nampak kesal, namun ia juga bimbang. “Kalau sudah begini bagaimana Ki Mahmud? Jika telur naga merah itu bisa jadi penangkal, yang akan menghalangi. Kalau ini virus sudah dibawa dan pasti menyebar ke anak-anak, juga tentu kepada orangtua mereka, apa yang akan kita harapkan dari penangkal itu? Ini sudah seharusnya tidak ditangkal lagi. Namun diobati.”
“Maaf  Pak Lurah, selama beberapa bulan ini, sejak kita di angkringan Pak Ahyar itu, sungguh saya selalu berupaya untuk melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan telur naga merah di Bukit Limanan. Sesuai petunjuk dari mimpi yang saya dapatkan. Namun apa daya, ternyata telur naga merah itu tak kunjung saya dapatkan.”

Sejurus kemudian, salah seorang perangkat desa datang menemui Pak Lurah, “Pak, izin menyampaikan laporan. Beberapa warga demam, batuk kering, dan kesulitan bernapas. Saat ini mereka dirawat di Puskesmas. Sebentar lagi akan dibawa ke rumah sakit kota. Dari sesak napas dan gejala yang diderita, mereka dinyatakan terinfeksi.”
Pak Lurah tak mengeluarkan sepatah kata pun, begitu pula dengan Ki Mahmud. Mata Pak Lurah menerawang jauh. Sepertinya ia merasa gagal, tak dapat berbuat banyak untuk warga desanya. Aji dan Samsul melongo, saling bertatapan.[]

Kendal, Maret 2020


Sumber: https://www.cendananews.com/2020/04/pagebluk-dan-telur-naga-merah.html

baca juga  Hikayat Penyakit Hati (Tribun Jabar, 21 Januari 2018)

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *