Panggung Berpijak Kahanan

Oleh Setia Naka Andrian

Saya bersama Paradoks, salah satu grup musikalisasi puisi asal Kendal Jawa Tengah yang kerap mengapresiasi puisi-puisi saya untuk dipentaskan, termasuk saat Paradoks tampil dalam Panggung Kahanan di Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah.

 

Tak sedikit sisi positif yang dapat dipetik dari masa pandemi. Meski wabah menghantam seantero jagat, tetapi tak begitu saja segalanya harus berhenti. Dunia masih harus terus berputar, segalanya masih harus terus bergerak. Dari masa memprihatinkan ini pun, tak sedikit masyarakat saling mengulurkan tangan, membantu sesamanya yang sedang berkesusahan karena wabah yang mematikan ini. Setidaknya daripada saling menyalahkan, melempar kebencian, alangkah baiknya jika saling tebar kebaikan. Kerja pemerintah sangat berat, siapa saja sudah tentu punya andil untuk memerangi wabah ini.

Meski boleh dikatakan dari situasi sulit di masa pagebluk, siapa saja seakan dapat melompat dengan berbagai kerja-kerja kreatifnya. Letupan-letupan muncul dengan beraneka rupa. Orang-orang memilih mencari berbagai cara lain yang tak seperti biasanya dalam melanggengkan kerja-kerja yang dilalui setiap harinya. Terutama bagi kita yang bekerja tidak bergantung dari pemerintah, perusahaan atau orang lain—alias kerja yang berdiri di atas kaki sendiri. Sesungguhnya pun langkah siapa saja sama sekali tak pernah akan jatuh pada titik sangat mentok, akan selalu ada jalan jika mau berbuat sesuatu dan tidak berdiam diri semata meski sedang dalam posisi di rumah saja.

Termasuk upaya yang dikerjakan di Rumdin Gubernur Jawa Tengah untuk mencipta ruang kreatif Panggung Kahanan bagi para seniman. Sudah sembilan kali berlangsung sejak 4 Mei 2020, dan minggu kali ini pada 22 Mei merupakan kali terakhir Panggung Kahanan terselenggara. Sembilan kali sudah panggung dalam jaringan yang dapat disimak oleh masyarakat luas. Setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat, ribuan penonton menyaksikan panggung itu dari layar ponsel dan laptop yang disiarkan secara langsung melalui Youtube dan Facebook Ganjar Pranowo. Tak sedikit seniman, sastrawan, dan budayawan Jawa Tengah turut serta mengisi panggung tersebut. Termasuk KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Harjanto Halim, Triyanto Triwikromo, Timur Sinar Suprabana, Handry TM, Sosiawan Leak, Budi Maryono, Apito Lahire, dan berderet nama-nama lainnya.

baca juga  Paguyuban dan Sambung Napas Institusi

Antusias besar tentunya bagi para seniman untuk dapat turut serta mengisi panggung tersebut. Namun yang pasti dalam sembilan kali panggung digelar tersebut tak pernah akan cukup untuk menampung seluruh seniman dari berbagai penjuru Jawa Tengah. Meski begitu, siapa saja patut melapangkan dada. Bahwasanya panggung yang dihelat itu memang benar sebagai ikhtiar mositifi Covid-19, sesuai tagline acara. Energi positif tidaklah hanya muncul dari para seniman untuk turut menuangkan karya-karya terbaiknya dalam panggung tersebut. Namun juga mengalir donasi dari masyarakat luas untuk dialirkan kepada para seniman yang terdampak. Terbukti, donasi masuk hingga 22 Mei pukul 15.25 WIB senilai Rp424.318.991,00.

Upaya yang digagas langsung oleh Gubernur Jawa Tengah ini seharusnya dapat menjadi pertimbangan sendiri bagi para pemimpin di wilayah bawahnya, di berbagai kota/kabupaten di Jawa Tengah. Namun ternyata segala itu seakan tak nampak, ingar bingar hanya mengalir dari rumah dinas yang berada di Puri Gedeh Semarang itu saja. Berhenti di situ, tidak ke mana-mana. Sesungguhnya masyarakat menanti, khususnya kepada para seniman di kota/kabupaten. Meskipun dalam aktivitas kecil, terutama dalam kerja seni budaya di kota/kabupatennya masing-masing. Paling tidak, jika sudah di tingkat provinsi diisi oleh para seniman yang kiranya boleh dikatakan yang lebih mumpuni, maka akan ada seniman-seniman baru yang tampil di wilayah kota/kabupaten.

Sempat suatu ketika, saya mendapati sebuah edaran dari dinas tertentu terkait pendataan para seniman terdampak. Surat itu tertanggal satu hari sebelum tersebar di sebuah grup WhatsApp seniman di kota tinggal dan lahir saya, Kendal. Anehnya lagi pada siang hari itu, hari yang sama dengan tersebarnya kabar pendataan itu, merupakan hari terakhir pengiriman data para seniman terdampak. Jadi boleh dikatakan, hanya sehari saja masa pendataan seniman terdampak. Secepat itukah? Lantas data apa yang dimaksudkan itu? Bahkan sampai detik ini, saya kira para seniman yang mendaftarkan diri sebagai seniman terdampak menyatakan belum ada kabar mengenai kelanjutan pendataan itu.

baca juga  Dari Menulis Puisi Hingga Buku Pelajaran

Memang, ada niatan baik untuk mendata para seniman terdampak, turut serta prihatin terhadap mereka yang kehilangan pekerjaannya saat masa pandemi ini. Paling tidak juga ada niatan mulia pula untuk membantu mereka. Namun setidaknya, tidak cukup hanya didata begitu saja. Lebih-lebih jika itu semua ternyata tak ada ujungnya, apalagi jika nanti hanya akan menjadi isapan jempol semata. Jika pun nantinya berujung, terkadang titik ujung itu pun bisa jadi dianggap tidak semestinya, ada yang salah sasaran dan berbagai persoalan lainnya.

Bukankah tidak sedikit di antara mereka, para seniman itu tentu akan lebih memilih jika diberi ruang untuk berkarya, menampilkan karya-karyanya, hingga mendapatkan sesuatu dari karya-karya mereka? Bukan mereka yang diminta berderet untuk mengantri bantuan semata, atau menunggu bantuan yang pada akhirnya tentu bagi siapa saja akan dibilang tidak seberapa itu. Kepuasan atas keberadaan mereka dengan karya-karyanya tentu akan lebih bermakna (bagi mereka). Bukan pada besaran angka dalam lembaran-lembaran kertas yang didapatkannya. Seperti penggalan syair lagu Yo Man (Slank): “Beri kami ruang, jangan cuma uang. Beri kami ruang, jangan cuma beri kami uang.”[]

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *