Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 13 Desember 2015)

Kebun Nenek


Nenek berkebun. Tanah basah membentuk dadamu yang pecah. Ibu-ibu muda menjemur punggungnya. Palawija ditanam. Pundak mereka dijatuhkan di sungai. Kita terapung di sela malam minggu. Kabar baik ditunggu dari panen tahun depan. Seperti apa lagi wajahmu di pagi hari. Nenek memilih menjadi gubug. Tidur sebagai kebun.

Upgris, November 2015


Seribu Tahun Bernyanyi

Seribu tahun bernyanyi. Mengisi mulut dengan nada bahaya. Orang-orang pergi selepas dunia menyalakan lampu. Televisi meledak. Anak-anak kecil menari. Mengolesi perutnya dengan minyak angin. Lalu kita saling tebak, siapa paling bau badan. Di mana hari terakhirnya kehilangan hidung. Lalu apa kabar tuan rumah. Setelah setahun lamanya, kita tak sempat berpesta. Ini menjadikanmu semakin manja. Dadamu begitu saja dihiasi gambar kepala. Kau kecewa dengan seribu tahun. Lagu-lagu dimakamkan di lubang telinga.

Upgris, November 2015


Masa Depan Ingatan

Suatu saat, kita tak lagi ingat kapan bertemu. Kapan sempat bertukar dada. Bahkan di halaman belakang, nenek tidur tanpa pakaian. Kakinya mengajari kita bagaimana menjadi tubuh yang ringan. Kau belum sanggup membalas gerakan tangannya. Tubuhmu malu-malu. Aku melihat panjang rambutmu berserakan di atas detergen. Luka ditumbuhkan dari jarak terpisah menuju alamatmu. Lalu kau akan tahu bagaimana bulan berbentuk madu. Kita saksikan panjang rambut berjengkal selepas keramas. Di atas suara yang tumbang. Panggung berhadapan di pematang. Air mengering dari sungai. Pelan-pelan muka kita dicari kenangan. Keadaan tumbuh di lapangan. Siapa yang berani menjadi dirimu. Rumah-rumah menyaksikan dalam tinggi bahasa. Kau menikmati lagu di tepi sungai kering. Anak-anak diciptakan dari nada boneka.

Upgris, November 2015


Pengendara Becak

Becak bertengkar. Pembeli cabe kabur. Obat nyamuk melukai dirimu. Kata-katamu belum selesai. Seperti langit yang belum sore. Wajahmu menyibak aroma kamar. Semua orang pergi setelah mulut terbakar. Memilih merapikan baju tanpa celana. Katamu, jangan ada malu. Harga-harga berhenti, becak-becak melarikan diri.

Upgris, November 2015


Kepala Merdeka

Semerdeka apa kepalamu. Tumbuh berapa lama ubanmu. Harusnya, setiap malam kita tak usah bertemu. Gerai saja rambutmu. Ukur panjangnya hingga menghangatkan bantalmu. Jangan lupa banyak bercanda. Kita samakan suara dengan petasan tetangga. Hingga semua jatuh, mengakhiri di urat lehermu.

Upgris, November 2015


Kabar Boneka

Pagi ini, kita simak penjara. Orang-orang menjadi museum untuk dirinya sendiri. Jadwal makan menjadi masa lalu yang dilupakan. Kau pindah tempat tidur. Di atas batu, kau banyak mengigau lepaskan bola mata. Kaki dan tanganmu memegang perut. Garis-garis diberitakan dalam celana.

Upgris, November 2015


baca juga  Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 8 Maret 2014)

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Comments

  1. Debi Eriani PBSI 2C
    Menurut saya, puisi "Kabar Boneka" seakan akan menggambarkan seseorang yang sudah tidak bernyawa.
    Bahasa dari sekian banyaknya puisi sangatlah bagus dan dapat menjadi motivasi untuk menciptakan sebuah karya.

  2. Vivin Shafa Undriyani 15410117 PBSI 4C

    puisi yang berjudul Kabar Boneka sangat jelas untuk didapati makna nya. bahasa yang mudah dimengerti membantu pembaca untuk memahami isi puisi tanpa harus berfikir sangat keras.menurut saya puisi nya bagus pak. gaya bahsa yang dibuat riang walau memiliki makna yang dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *