Puisi Setia Naka Andrian (Beritabaru.co, 6 Februari 2021)

Puisi Setia Naka Andrian (Beritabaru.co, 6 Februari 2021)

Sebuah Papan Nama

 

Sebuah papan nama. Ditanam saat hujan

belum reda. Kami menyaksikan, sepotong

telur diiris-iris menjadi anak-anak berlari.

 

Larinya kian kencang, kencang sekali

Sambil mencoreng kanan mencoreng kiri.

Jalanan sesak dipenuhi bonus kuota internet

di matamu yang dikupas masa depan

tak berarti.

 

Sebuah papan nama. Ditanam saat hujan

belum reda. Panjangkanlah, panjangkanlah

langkah kakimu. Injaklah bumi yang kerap

dikata datar ataupun lonjong dan berupa-rupa

itu.

 

Parkirlah, parkirkanlah setiap kali kami

mengungsikan keyakinan ini.

Menuju mana saja, kami pasrah.

Setiap kali semua yang hidup

telah beranjak menjadi apa pun selain

yang patut dibisiki.

 

Sebuah papan nama. Ditanam saat hujan

belum reda. Sepuluh pabrik, menciptakan

arah pulang. Menjadi seekor kera memanjat

tubuh wanita dan duri-duri belantara.

 

Rambutnya panjang, giginya runcing

tak beraturan. Ia menyerobot apa saja

yang telah dilihatnya lewat di depan mata.

 

Sebuah papan nama. Ditanam saat hujan

belum reda. Semacam fase, saat tekanan darah

mulai naik. Mendaki pikiran mencampuri segala

urusan yang tiba-tiba muncul di ketiak kanan.

 

Sedangkan kemarin baru saja ditemukan

pangeran bergincu mengepakkan sayapnya

di atas kuda merah. Di belantara yang susah

kami hafal luas dan kedalaman sesatnya.

 

Kian dilihat kian berlari kencang.

Kencang sekali, kami sama sekali tak kuasa

mengejar. Kami sama sekali tak kuasa

memanjangkan hitungan.

 

Sebuah papan nama. Ditanam saat hujan

belum reda. Sebab bagaimana lagi, rencana

yang dibuat telah menjadi sepasang masa lalu

di sepanjang jalan berlubang yang sungguh

sedang dialiri berbagai kemungkinan

yang sama sekali tak matang.

 

Kami lupa tidur siang, memanjatkan pikiran

di antara sekian raksasa yang sama sekali

tak pernah mau menghitung langkah berat badan.

 

Sebuah papan nama. Ditanam saat hujan

belum reda. Kami minggir sesekali, menikmati

apa saja. Sambil sekian kali bertanya,

kapan semuanya akan pulang bersama-sama,

kapan semua yang ditunggangi akan menjauh

dari sebuah nama

 

Kendal, Februari 2021

 

 

Selamat Pagi Televisi

 

Selamat pagi televisi, aku menjadi

dirimu seorang diri

Mencurimu adalah warna yang susah

kucari

 

Sebuah siaran memancar dari pagi.

Mengatasnamakan sepiring nasi

dalam mangkuk yang dibanting

dengan sekian permisi

 

Sudah sangat pagi rupanya, aku

menjadi bola lampu yang dipagari

di tepi layar sebuah pertanyaan

di kemudian hari.

 

Bagaimana kabarmu, bagaimana

makanmu hari ini.

Begitu katamu, menjadi seperti

tak kunjung kupahami lagi, dan lagi

 

Sebuah kesepian, ditanam di lutut

seorang bayi

Kau menatapku dengan penuh

percaya diri

Bagaimana esok hari, bagaimana

warna terbaik di antara kecupan pipi.

 

Semacam pertemuan yang berulang-ulang

disepakati

Bagaimana suasananya nanti, bagaimana

curah degupnya nanti

 

Saat kau dan aku bergandengan

di antara reruntuhan kabar media

yang berguguran di televisi

 

Kendal, Februari 2021

 

 

Pertanyaan Kemarin

 

Pertanyaan kemarin, diulang lagi

Saat aku dan kamu sedang asyik

menyendiri

 

Namun apakah itu aku, yang menempel

di kupingmu

Sedang kemarin, aku takut berusaha lagi

Sebagaimana semua yang telah menjadi

curiga dan benci yang menjadi-jadi

 

Pertanyaan kemarin, diulang lagi

Saat semua beralih peran, menjadi patung

Menjadi diskotik dan burung hantu

 

Lalu percayalah kamu, jika nanti pulang

pagi-pagi sekali di hari minggu

Jangan tanya lagi, ke mana perginya rindu

dan batu-batu

 

Pertanyaan kemarin, diulang lagi

Aku akan mengusahakanmu menjadi perahu

Tumbuh dan berkembang di air yang penuh

candaan lucu-lucu

 

Lalu aku pesan lagi; jangan melulu tanya,

ke mana perginya rindu dan batu-batu

yang sudah tak pernah menjadi aku

 

Kendal, Februari 2021

 

 

Lampu Minyak

 

Nyala itu pergi dari matamu

Seperti racun yang ditempel

di mulutmu

 

Pagi hari tak bergincu

Aroma wine menyengat

dari bibir yang menempel

di pipiku

 

Aku menyaksikan,

bangunan-bangunan berdiri

di sebelah cahaya

dari keningmu

 

Orang-orang berlari, mencari

kapan lagi suasana

akan kembali

 

Dan seperti itu yang berulang

kali menyesaki segala hayat

yang dibesarkan dan diberi

akal lagi

 

Menjadi seperti anak panah

yang kerap ditunggangi

para prajurit yang terombang-ambing

meronta

dan melarikan diri

 

Sungguh nyala itu, menjadi

seperti matamu sendiri

Benar-benar segala yang terjadi

 

Menjadi api, menjadi segala

yang berumur adalah ujung

dari segala nurani

 

Menjadi lampu, menjadi segala

omongan dari mulutmu

yang berbisa; meracuni

Namun tak begitu mematikan

itu

 

Kendal, Februari 2021

 

 

 

Visitors : 144 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *