Puisi Setia Naka Andrian (Buletin Tanpa Batas, Agustus 2019)


Bunga yang Tumbuh dari Perahu
:fa

Bunga, kau mawar yang tumbuh
dari perahu-perahu. Seratus abad
lamanya aku menunggumu. Di tepi
mimpi yang mekar dari ujung telunjuk
yang pernah kau arahkan mengaliri
sepanjang garis telapak tanganmu.
Mengalir, mengalir, dan menganakpanah,
hingga sekarang, ketika kau tumbuh
dewasa.

Lihatlah bunga, jarimu telah menemukan
putaran roda dalam doa yang mengatasnamakan
mataku kepadamu. Sungguh, kau melampaui
kebaikan-kebaikan yang mengabadikan
peristiwa.

Bunga, tahukah kau, kini kau semacam
tanah airku. Sungguh, kau tiba-tiba menjadi
ruang angkasa. Apa lagi semenjak orang-orang
telah yakin jika tubuhmu terbuat dari pahala.
Setiap pagi, kau semakin tumbuh dari doa-doa
yang ramah mengatasnamakan manusia.
Sebagai umat yang memburu garis tangan,
yang belum tentu disepakati bersama-sama.

Sanggar Gema, Juli 2014


Takdir yang Mempertemukan Kita
:fa

Begitulah takdir, mempertemukan kita
dari perjalanan dan penghianatan-penghianatan.
Ia yang membawa kita menelusuri jejak dan
luka-luka. Ia yang mengajak kita berjabat cerita
dengan nasib dan kemanusiaan. Ia yang mengajari,
bagaimana kita menjadi hujan, angin, laut dan
berakhir menjadi malapetaka yang paling bijaksana.
Hingga kita tak sempat berburuk sangka.
Begitulah takdir, yang kelak akan menanyakan
kepada kita. Takdir menanyakan banyak hal
kepada kita. Di depan dada kita, dan kita tak
menjawab apa-apa, kecuali saling mencium kening
di antara kita. Lalu kita meletakkannya pelan-pelan,
tepat di bawah kaki ibu-ibu pejalan kaki yang selalu
menyebut-nyebut nama kita dalam setiap doa dan
ramalan buruk yang paling bijaksana.

Sanggar Gema, Juli 2014


Seberapa Perempuan Kau Mempercayaiku
:fa

Sayang, seberapa perempuan kau mempercayaiku.
Apakah kau sadar, jika saat ini telah tercipta jalan
layang di antara perasaan kita. Bahkan kita masih
begitu kuat untuk mengingat bagaimana cara lilin
menyalakan rindunya yang begitu panjang dalam
dada kita. Waktu itu, ketika kau dan aku masih
sempat mengumpat air mata tetangga kita. Ketika
kebahagiaan sedang malas bersuara kepada
kebencian yang masih selalu berpaling muka
dengan kerelaan.
Bayangkan saja, kaki dan tangan mereka
telah malas membaca matematika dan segala
teka-teki yang muncul setelah pesta kepergian.
Dan aku cukup heran, sedang kemarin, kita cukup
meragukan bagaimana panjang jabat tangan dan
suara yang sempat menyimpan pesan sepanjang
rumah. Lalu dada kita malas mendewasakan
barang sepenggal ciuman. Tentunya kau masih
ingat, bukankah kita juga ada karena berpuluh jam
menunggu saat rumah kita diselamatkan berkepung
doa yang tak tahu dari mana asal luapannya?

Bilik Kunang-kunang, Juli 2014


Perasaan yang Menjadi Dinding Rumah
:fa

Sayang, percayalah, kelak perasaan kita
akan menjadi dinding rumah yang paling
mekar setiap harinya. Lihatlah, dada kita
sudah mahir berjabat cerita. Udara yang
dikeluarkannya telah menjadi cahaya paling
ramah. Mengawali setiap ucapannya dari
persoalan-persoalan kecil yang sering
dilupakan orang-orang. Bahkan, kita selalu
berusaha menyelesaikannya dengan hanya
mengingat bagaimana kesedihan telah mahir
menipu kita.
Bayangkan saja, dada kita selalu berusaha
menahan bagaimana kecemasan yang selalu
mengawali keyakinan kita. Dada kita telah mahir
bagaimana membacakan doa dan bagaimana
mengutuk dosa. Dan sepertinya, mereka telah
menemukan jawaban dari beragam pertanyaan
yang dulu sempat kita perdebatkan. Saat itu, kau
tak begitu pandai menyembunyikan rahasia
seperti sekarang. Kau melakukan semuanya
kepadaku, termasuk kesedihanmu yang selalu
kau luapkan dengan rindu.

Bilik Kunang-kunang, Juli 2014


Jika Benar Kau Turun

Jika benar kau turun sebagai pedang,
maka doakan aku sebagai penjara.
Lalu bebaskan aku dengan pura-pura.
Namun jika kau turun sebagai kota,
berilah aku risalah mengenai sebuah
desa yang pernah kita telusuri bersama.
Ketika kita masih sama-sama mencari
tahu bagaimana perasaan orang-orang
yang membenci kenangan dan bagaimana
kebencian mengatasnamakan dirinya.
Kepada air mata orang-orang itu, dan
seberapa jauh kita menaruh penyesalan.
Sebagai kata terakhir yang pernah kita
ibaratkan bersama-sama pada sebuah
rumah yang saat itu sedang dipertaruhkan
dengan nama tuhannya masing-masing.

Sanggar Gema, Juli 2014




baca juga  Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 26 Juli 2015)

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *