Puisi Setia Naka Andrian (Harian Rakyat Sultra, 22 November 2020)

Sibuk Dilanda Kekalahan

 

Kita kerap sibuk dilanda kekalahan.

Tidur dan terjaga rasanya sama saja.

Hari-hari bergerak seperti biasanya.

 

Kau menangis pelan, saat kabar

menimpa halaman rumahmu

yang kian tenggelam.

 

Kau ditulis dan ditempa nasib

dari berbagai pilihan. Dalam dirimu,

seakan segala penciptaan reformasi

di dasar kedalaman mirip pangkuan

ibumu yang kerap gemetar.

 

Aku terlambat ke jantungmu. Mereka

telah menjemputmu duluan sebelum

kau tiba menuju jalan kekekalan.

 

Aku kalah menghadapi mereka

di depanmu. Dalam dini hari yang

tak utuh dipenggal orang-orang.

Dalam hari-hari seakan kian sibuk

menanggung dirinya masing-masing

 

Suatu malam menjelang pagi,

aku bilang kepadamu: menginaplah

sebentar di dasar kolam. Aku akan

tiba sesaat sebelum kau melambaikan

tangan.

 

Ingat-ingatlah, ibumu adalah hari

kerja yang sering ditinggalkan

orang-orang.

 

Sedang kita, akan bertemu kembali

kelak saat segalanya telah memunggungi

segala kekalahan.

 

Aku menimbang diriku sendirian,

di hadapanmu yang tak henti-hentinya

menangisi masa keabadian yang sangat

panjang.

 

Aku tenggelam, kian tenggelam.

Melampaui hari panjang di tubuhmu

sebelah kanan.

 

Kendal, November 2020

 

 

Datang Pagi Hari

 

Kamu datang pagi-pagi, ke rumahku

Dengan kemasan yang beda

 

Kau minum susu, mengunyah buah apel,

semangka, dan bermacam udara yang

diciptakan seketika dari angka

yang timbul dan tenggelam

dari dadamu yang mekar.

 

Aku masuk kembali menyelami segala

kekuatanmu yang tinggal serumah dengan

kelemahanku. Anak-anak kecil mengarak

diri mereka masing-masing menuju sungai

panjang yang menukar banyak tragedi

dan peperangan.

 

Aku kacau, melihat semua orang berdiri

memenggal kepalanya di jendela kamar

 

Kau berjalan keluar dari balik tubuhmu

baca juga  Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Media Indonesia, 8 Maret 2014)

yang sudah terlanjur terbakar. Hari-hari

selanjutnya seakan kian menjadi sia-sia.

 

Rumah-rumahmu berantakan.

Aku mengembalikan kemenanganmu

dalam kemerdekaan kita yang sama sekali

tak pernah akan tinggal serumah dengan

agama-agama dan keyakinan.

 

Kemudian segala nasib buruk kita berjatuhan

di lantai. Orang-orang berdatangan, menghadiri

pemakaman tubuh kita yang diangkat ke dasar

hidup tak terhingga mengarungi banyak pilihan

dan kejadian-kejadian.

 

Aku mengangis, melihatmu dalam ketiadaan

yang tak kunjung sanggup kukendalikan.

Aku merasa dirimu adalah diriku sendiri

yang telah memilih diam saja mengendarai

kepanikan dalam keabadian yang seakan hanya

kita ciptakan di benak dan batin kita

masing-masing.

 

Hari kian lenyap, orang-orang meninggalkan

kita yang sedang sangat kedinginan.

Aku memelukmu dalam segala kegundahan.

Aku memandangi matamu yang telah memilih

pergi duluan.

 

Aku berbisik kepadamu: sudahlah, hari tak

akan jadi pagi, apalagi malam hari. Kita akan

tenggelam bersama dalam genangan doa-doa

yang sangat panjang dan tak terkalahkan.

 

Kendal, November 2020

 

 

Aku, Puisi, dan Kamu

 

Hari ini puisi sedang tidur di halaman rumahmu

Aku mengunjungimu di pagi hari, di bawah sinar

matamu yang berjatuhan dari daun kelapa muda.

 

Puisi-puisi menjadi ruang tamu di halaman

belakang rumahmu. Aku hadir sesaat selepas

mengembara dalam bara api dan dingin

di sebelah dadamu yang terpenggal-penggal.

 

Kamu menemuiku sendirian. Puisi menyaksikan

banyak hal yang tiba-tiba nampak dari mataku

yang telah hijau mengunjungi masa lalumu

yang dibiarkan terbakar.

 

Aku diam. Kau membeku dalam tubuhku.

Aku berdiri, mengajakmu menari di atas puisi-puisi

yang kian sepi. Aku memelukmu. Tanpa puisi.

Tanpa bara api dan dingin di sebelah dadaku

baca juga  Puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 26 November 2017)

yang kian menjadi batu.

 

Kendal, November 2020

 

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *