Puisi Setia Naka Andrian (Litera.co.id, 1 September 2018)

Kami Diajak Bertapa
Kami yang telah diajak bertapa
Bersama mereka, anak-anak
yang kerap girang sebelum petang
dititipkan kepada siapa-siapa
Kami yang telah diajak bertapa
Bersama mereka, ibu-ibu
pencuci piring di bawah pohon-pohon
yang gagal kekal
Sebelum segalanya tak tahu
akan ditumpahkan ke mana
Kami yang telah diajak bertapa
Bersamamu, Tuan
Kami rela menjadi rupa atau ketiadaan
Bahkan, kami telah mengirim kepadamu
Satu meter tanda tanya
di bawah kening-kening
yang tak sempat pecah itu
Meski kerap dibanting habis-habisan
di bawah hujan dan terik dadamu
yang kian tak lapang
Kau tahu, Tuan,
Bahwa dalam segenap kegagalan
dan segala degub yang kerap memilih hilang
Kami berupaya mengirim ke hadiratmu
Bersama para pemanjat pilu
Yang kian bersetia
dengan paras wajahmu
dan sisa hujan yang tanggal
dengan malu-malu
Demi keangkuhanmu, Tuan
Telah kami hancurkan
diri kami sendiri
Atas nama keriuhan dan kepenatan
Kami rela menggagalkan waktu
Yang kian bergerak mengelabui
cara buruk bunuh diri sendiri
Demi keangkuhanmu, Tuan
Yang tak pernah rela disiplin
Mengukur jejak-jejak kehilangan
Saat kami diburu benda-benda gagal
Yang kerap malih wujud
di balik kegagapan
Hingga di tengadah jalan
yang tak lagi lengang
Kami bersamamu, Tuan
Menghitung mundur jejak-jejak
yang berlalu
Selepas itu, betapa hari-hari kami
Seakan kian disembunyikan
dalam diri lain
yang tak sempat kita temukan
sebelum atau sesudahnya
Kami seakan tak pernah
mencari mata-matamu
yang urung bertekuk-tubuh itu
Bahkan guyur hujan ini, Tuan
Kali pertama segalamu tanggal
dari diri kami sendiri
Namun kami yakin, Tuan
Tuhan telah melepas kami di sini
Diminta mengembara dalam bara
Merencanakan dalam titik-titik tak berupa
yang mengumpamakan jejak dan doa-doa
Dan di ruang ini, Tuan
Kami seakan diciptakan kembali
Di antara kerangka masa depan
yang terbelah-belah
Kami diajak menumbuhkan kembali
Apa yang bermula dan apa yang bermuara
Bahkan, kami hendak diajak menyuarakan lagi
Bagaimana kepulangan
yang tumbuh di luar alam pikiran
Lalu selepas ini, akan kau kirim
ke mana lagi kami, Tuan
Jutaan jam yang lalu,
kami telah kau ajak
untuk menyeberangi sungai-sungai tanpa perahu
Kami juga kerap kali kau paksa
untuk mengarungi laut-laut
yang tak lagi biru
Dan kami semakin gagal, Tuan
Bahwa kamilah kabar
yang kau kirimkan kala itu
Saat segalanya tak sempat menanami dirinya
dengan segenap rindu
Kamilah misteri yang kau ajarkan
turun-temurun ke hadirat anak-cucu
Mitos dan mimpi buruk
yang telah kau ramu tanpa pintu
Kamilah kerja yang kau ciptakan
dari tubuh-tubuh renta
Riwayat kehilangan
yang terus menggerakkan
segala yang kerap bermula
dan tak pernah berakhir di mana-mana
Dan suatu saat nanti, Tuan
Ketika malam telah begitu berbinar
Memikirkanmu lagi adalah cara lain
Untuk berpandai memilih kekalahan
Segalanya melimpah ruah
Di balik nada dari mulut-mulutmu yang pecah
Kendal, Februari 2018
Maka Hijrahlah Kami
Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka hijrahlah kami
Menyusuri pagi-pagi
Yang tak sempat ditiduri
tubuhmu sendiri
Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka hijrahlah kami
Dari segala yang tak menemukan
suara yang kau janjikan
Hingga kami menemukan
Patahan-patahan luka
Yang dalam-dalam
Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka hijrahlah kami
Meninggalkan rupa wangi
Meninggikan arah telunjuk jari
Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka hijrahlah kami
Menyusupi liang-liang kecil
Yang tiada pernah kami temukan lagi
Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Maka bolehlah kami sebut diri
yang gagal ini
Diri yang angkuh,
Yang kerap mandi selepas
Hangus dalam bara apimu
Jika benar, kau tak dikirim
Dari banyak warna dalam kitab suci
Bolehkah kami bersimpuh
Di antara hutan-hutan
Yang tak lagi dikepung nama-namamu?
Kendal, Februari 2018
Lahir dari Rindu
lahirlah kami dari rindu
dan batu-batu
ketika segala hal
telah menjadi
selain dirimu
lahirlah kami dari rindu
dari segala napas
dan segenap kata
yang diucapkan
selain dari mulutmu
lahirlah kami dari rindu
dari duka, yang lupa
dikirimkan penyair,
para pemahat debu itu
yang kerap ragu
menciptakan dirinya
dari segenggam mimpi
yang lucu-lucu
lahirlah kami dari rindu
dari peperangan yang maha benar
yang memilih pergi,
mencari tahu
di mana kadar iman
di mana kepulangan panjang
Kendal, November 2017

baca juga  Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 13 Desember 2015)

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *