Puisi Setia Naka Andrian (Media Indonesia, 26 Agustus 2018)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bacalah Kami

 

Bacalah kami. Bacalah.

Indonesia seperti ini lagi.

Bacalah. Kami seakan tidur lagi.

Saban hari menata bantal

yang berduri-duri

Bacalah kami. Bacalah.

Bangunkan kami. Bangunkanlah.

Hari seperti apa lagi

yang hendak kau turunkan

dari istanamu

yang menjulang tinggi

Bacalah kami. Bacalah.

Indonesia bangun pagi.

Sedangkan kau masih keringetan

di ujung tidur yang gemetar.

Lihatlah, kami hinggap

dalam episode yang penuh dengan

hamparan tanah tak berpasir lagi

Bacalah kami. Bacalah.

Kami singgah sesekali

dalam diri lain.

Bacalah kami. Bacalah.

Surga beranak-pinak

dalam dasar lelap

dan godaanmu

yang bermekaran lagi

Bacalah kami. Bacalah.

Indonesia membangunkanmu

dari setiap petaka.

Bacalah kami. Bacalah.

Pagi semakin gundah.

Mengeja hari-harimu

yang kian patah-patah.

 

Kendal, Agustus 2017

 

 

Kami Membacamu

 

Kami membacamu. Kami mengeja.

Bagaimana degup dada dan hentak kaki berirama.

Kami membacamu. Kami mengeja.

Bagaimana suaramu menghantam semangat kami.

Dalam batin dan segenap jiwa.

Kami membacamu. Kami mengeja.

Tanah air bergerak menuju ke hadirat raga kami

yang tak pernah sempurna. Kami membacamu.

Kami mengeja. Peluh dan keringat tumpah mengaliri

setiap waktu. Saat kami tumbuh menjadi jejak

yang tak sanggup bersuara tanpa kemerdekaan darimu.

Kami membacamu. Kami mengeja.

Betapa hidupmu tak pernah sia-sia.

Betapa perjuanganmu tak pernah kunjung reda.

Kami membacamu. Kami mengeja.

Betapa segalanya tumpah menjadi satu.

Menjadi Indonesia. Negeri yang tak pernah goyah

sepanjang masa. Selama-lamanya.

Selama kami membacamu. Selama kami mengejamu.

 

Kendal, Agustus 2017

baca juga  Puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 26 November 2017)

 

 

Dua Hari Dua Malam

 

Dua hari dua malam

Lewat dalam dua jam yang getar

Aku ingin sejenak bertapa

di bahumu sebelah kanan

Dua hari dua malam

Roda tak lagi diputar pelan

Aku ingin bersamamu pulang

Menuju hari-hari berlalu lalang

di sekitar rintik dan telapak tangan

Dua hari dua malam

Aku tak ingat apa-apa

Begitu pula denganmu

Yang lenyap dalam pelajaran

dan masa silam

Dua hari dua malam

Aku tak kunjung bangun

Dari sisa-sisa pengembaraan

dan kau, meninggalkan jasadku

Yang gemuruh di balik doa-doa

Hingar-bingar dalam dada-dada

 

Kendal, Agustus 2017

 

 

Berdiri di Luar

Maka berdirilah kami
Di atas tubuh-tubuh yang berapi-api
Maka melambunglah dada-dada kami
Di bawah ruang yang tak bersekat lagi

Maka berdirilah kami
Dari dalam benak dan batin yang paling sunyi
Dari dalam angan dan ingatan

yang kerap tidur di siang hari
Dari dalam takdir yang dikelilingi kehadiran

yang tak mati-mati

Maka berdirilah kami
Dari segalanya yang selalu mencoba belajar
Memahami banyak hal di luar tubuh kami
Menekuri beragam ruang di luar kegagalan kami

Kami kerap berupaya untuk menjadi diri lain di luar tubuh kami
Kami kerap bersandiwara untuk memutar rupa lain
Selain wujud yang diriwayatkan di luar rumah-rumah kami

Kami hendak menjadi serupa, tapi apakah bisa
Kami hendak menjadi seragam, tapi lihatlah
Di luar sana, orang-orang mulai mencangkok lengan tangan-tangannya
Orang-orang menanam beton di punggungnya

Mereka telah lupa, betapa masa lalu

telah membentuk diri sangat lain bagi sesamanya
Mereka telah lupa, betapa masa depan

telah menjunjung berjabat-jabat cerita
Kini, kami seakan belajar lagi
Untuk tidak sekadar tenggelam dalam keriuhan

baca juga  Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Pikiran Rakyat, 14 Juni 2015)

yang sesungguhnya diciptakan saudara sendiri

Maka berdirilah kami, melampaui pagar dan dinding

yang sesungguhnya hanya telah dibuat

oleh orang-orang di rumah kami sendiri

Maka berdirilah kami
Saat kami melihat, betapa megahnya diri mereka

menjelmakan diri kami
Maka berdirilah kami, bersama-sama mereka,

atau siapa saja, untuk mengembalikan segalanya
Kembali merenungkan betapa eloknya rumah kita
Rumah yang didirikan atas berupa rumah-rumah
Rumah yang telah berdiri di atas kepala leluhur milik kita sendiri..

Semarang, September 2017

Kiai Syarif

 

Kami tak tahu, sudah tumbuh

dukuh-dukuh baru

Kami tak tahu,

Sudah mekar pengikut-pengikut baru

Kami tak tahu,

Sudah berapa ratus kemuliaan

tumbang

dalam punggung sejarah baru

Lihatlah, kami bisa apa

Jika bumi tunduk

Lihat, di sekitar Wanglu Gedhe itu

Bukti bagi ke hadirat

kepada iman

dalam satu musim

yang melipatgandakan tubuhnya

Bahkan kami tak tahu, ada apa

dengan Kyai Syarif

Ia dirikan rumah, tempat bersembah

Bagi penyebaran Islam

di sekujur Poncorejo

Masa itu, ia mengajarkan agama

Meriwayatkan ketiadaan dan keabadian

Yang kerap menyundul-nyundul di dada

masyarakat Dukuh Binangun,

Bandingan, Kaumsari, dan Planjen

Meski bagi Kalang,

tiada bisa tertembus syiar

yang dibawa olehnya

Tubuh mereka tergeletak

Membaca tuhan dalam terbata

Membaca diri dalam sepenuh tiada

 

Kendal, September 2017

 

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *