Puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 8 Desember 2019)



Menunggu Ujian
Aku bertanya kepadamu,
“Kau tidak takut dengan ujian?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kita tunggu saja di sini.”
“Ujian sedang di mana?”
“Di hari yang jauh sana
ujian sedang bersama banyak berita.”
Lalu kita sepakat menunggu,
Mencoba tenang,
menyambut dengan matang
Tengadah tangan terbuka lebar
Mata berkedip dengan pelan
Sesekali kita bertatapan
Namun, ujian tak kunjung datang
“Kenapa lama ya?
Apakah ujian malas jalan kaki?”
–tanyaku kepadamu
“Tidak. Ia serupa sepeda.”
“Berarti ia punya banyak roda?”
“Tidak. Ia memiliki sayap.”
“Apakah ia sepeda bersayap?”
“Tidak. Ia tak suka terbang.”
Ujian belum juga datang.
Kita masih setia menunggu.
Tengadah tangan kita masih terbuka lebar
Mata pun berkedip dengan pelan
Sesekali kita bertatapan
Dan tiba-tiba, dari ujung tikungan sana
banyak jawaban bermunculan
Datang seperti pasukan tanpa aba-aba,
Sontak mereka mengelilingi kita
Dan kita sama-sama kaget
–mata kita berkedip dengan kencang
Aku kemudian bertanya kepadamu,
“Bukankah kita menunggu ujian?”
Namun kau hanya diam
Kemudian, salah seorang jawaban
mendekat
Mulutnya nyaris menempel di telingaku,
Ia berbisik,
“Ujian kewalahan
menghadapi berita harian.
Ia sedang lelah dan malas
mengunjungi siapa-siapa.”
Kau masih saja diam
Hanya mata kita saja
yang masih saling bertatapan
Dan berkedip dengan sangat kencang
Seorang jawaban lain mendekat,
Ia berbisik di telingaku,
“Lekaslah pulang. Kau harus segera
mencipta banyak soal.”
Leiden, November 2019
Tumbuh dari Mesin Waktu
Hari ini, aku tumbuh
dari mesin waktu
Yang diciptakan dari debu
dan batu-batu
Hari ini, aku tumbuh
dari mesin waktu
Di antara orang-orang berpetualang
memungut diri mereka sendiri
yang tercecer di jalan-jalan
Hari ini, aku tumbuh
dari mesin waktu
Di antara produksi musim
yang telah menyayat
ratusan tahun yang beku
Hari ini, aku tumbuh
dari mesin waktu
Di antara kertas-kertas tua
yang bermekaran
di jalan-jalan tak berujung itu
Hari ini, aku seperti
tak lagi tumbuh
dari mesin waktu
Lalu aku menyangka,
segalanya hadir begitu saja
Namun ternyata,
Segalanya telah melumpuhkan
segenap sejarah
yang diam-diam mengakar di kepalaku
Leiden, November 2019
baca juga  Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Solopos, 16 Agustus 2015)

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *