Puisi Setia Naka Andrian (Suara Merdeka, 8 November 2020)

Agama Luka

 

Kabarkan kami kepada luka

Yang menjadikan semua

Tinggal serumah dengan

gang sebelah dan agama-agama

 

Kabarkan kami kepada luka

Yang menjadikan kami pengembara

Tinggal serumah dengan anak panah

yang kerap lepas mengunjungi

Banyak persoalan dan duka-duka

 

Kabarkan kami kepada luka

Yang menjadikan kami memeluk

telunjuk tanganmu setiap kali hujan

mengguyur deras di atas kepala

dan tak reda-reda

 

Kabarkan kami kepada luka

Kepada jantungmu,

jeruji yang menancap di hatimu

Dan kepada apa saja yang lebih memilih

menjadi hari kesekian dalam rumah

yang kian memunggungi keyakinan

dan agama-agama

 

Kabarkan kami kepada luka

Kepada bau tanahmu, kepada lubang

di keningmu,

kepada pahit empedu

dan anyir darahmu

 

Kabarkan kami kepada luka

Bahwa di sini, ada agama

yang memilih dipenjara

Menjadi rumah keabadianmu

yang tak tahu lagi

hendak ditancapkan ke mana

 

Kendal, Oktober 2020

 

 

Di Matamu

 

Di matamu, orang-orang berburu

Katanya, banyak yang ingin mengunjungi

beningnya tatapanmu

 

Di matamu, orang-orang menaruh cemburu

Katanya, tidak sedikit yang diam-diam

Ingin mencipta keabadian di sepanjang jalur

yang melengkung di detak pandanganmu

 

Di matamu, orang-orang memilih bisu

Katanya, hanya sedikit yang memilih pergi

meninggalkan rindu

 

Di matamu, aku menjadi sangat sial

Sedangkan kau masih diam dan beku

Mengurusi matamu yang kian hari

dikepung banyak peluru

 

Kendal, Oktober 2020

 

 

Jadilah Seperti Bau Tubuhmu

 

Jadilah seperti bau tubuhmu:

Yang memilih mandiri,

Meski sama sekali malas

untuk diajak mandi

 

Jadilah seperti bau tubuhmu

Yang setiap pagi memilih jalan-jalan

di tepi mimpi yang berliku-liku

baca juga  Puisi-puisi Setia Naka Andrian (Pikiran Rakyat, 14 Juni 2015)

 

Jadilah seperti bau tubuhmu

Yang lebih memilih menginap

di rumahmu yang sering lupa berdoa

di hari minggu

 

Jadilah seperti bau tubuhmu:

Yang memilih mandiri, yang memilih jalan,

yang memilih menginap,

Meski sedang tak ada aku.

 

Kendal, Oktober 2020

 

 

Kata Nenek Saat Malam

 

Kata nenek, saat malam yang begitu terang

Ada malaikat datang

Mengunjungi segala kekalahan yang kekal

yang setiap kali mengunjungi anak-anak,

Mereka bawakan sepasang nyala kunang-kunang

 

Kata nenek, saat malam yang begitu terang

Malaikat sedang gemar-gemarnya datang

Mengunjungi semua keabadian

yang tumbuh di balik kekalahan-kekalahan

 

Kata nenek, saat malam yang begitu terang

Malaikat datang mengendarai orang-orang

yang sedang bertamasya

mengelilingi keyakinan-keyakinan

 

Kata nenek, saat malam yang begitu terang

Malaikat sedang asyik-asyiknya mengintai

lelahnya pengabdian-pengabdianmu

yang selalu saja masih berhenti

di tikungan yang itu-itu

 

Kata nenek, saat malam yang begitu terang

Kadang pula malaikat malas datang

Dan kita akan cemas mencarinya:

Di mana malaikat terbang,

di mana segala hidup akan ditebang

 

Kendal, Oktober 2020

 

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *