Remang-Remang Kontemplasi

Remang-Remang Kontemplasi

Ada salah seorang teman bertanya kepada saya, “Kenapa kamu menulis?” Saya jawab, “Karena saya bodoh.” Lalu ia bertanya lagi, “Kenapa bodoh, buktinya kau bisa menulis banyak hingga terkumpul menjadi buku?” Saya jawab lagi, “Karena bibir saya terbatas, ingatan saya terbatas, tenaga saya pula, usia saya tentu juga terbatas. Dengan tulisan, dengan karya, segala itu setidaknya akan lebih memanjang.”
Pembicaraan kami pun terhenti. Kami sama-sama menyeruput kopi. Saya menghela napas, dalam batin, “Paling tidak, selain kebodohan-kebodohan dan dosa-dosa, ada karya-karya yang ditinggalkan di dunia ini.”
Ini kabar kecil, dalam waktu dekat ini, jika tidak akhir bulan Januari ya awal bulan Februari. Saat-saat kalau tidak salah mendekati momen-momen hari kelahiran saya. Maka, buku “Remang-Remang Kontemplasi” ini, kali pertama akan diobrolkan di Teras Budaya Prof. Mudjahirin Thohir Sabranglor Kaliwungu Kendal yang akan diselenggarakan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu. Terkait waktu penyelenggaraan yang pasti, dan siapa saja yang akan didapuk menjadi pemantik obrolan, nanti segera akan diunggah.
Monggo, bagi siapa saja yang berminat hadir, bisa meluangkan sejenak waktunya untuk berjabat sapa dengan kami. Jika berminat dengan buku setebal 250 halaman, berisi tiga bagian: seni budaya, sastra, dan pendidikan, yang hendak diobrolkan ini, silakan bisa inbox, atau sms/wa 085641010277. Harga buku 35 ribu. Terima kasih. Salam.

Visitors : 46 views

3 Replies to “Remang-Remang Kontemplasi”

  1. Saya sependapat dengan tulisan bapak yang berisi tentang percakapan antara seseorang denhan bapak yang bertanya tentang kebodohan ,karena ingatan kita, tenaga kita dan usia kita tentu terbatas, nah dengan keterbatasan hal tersebut dengan kita membuat sebuah karya tentu karya tersebut akan bermanfaat bagi orang-orang sampai suatu saat nanti. Dengan begitu ilmu yang kita peroleh dapat bermanfaat bagi orang lain

  2. Nadia Anastasia
    4C

    Saya setuju dengan bapak, karena ingkatan, tenaga bahkan usia kita tidak ada yang tau kapan kita udah di cukupkan untuk itu semua. Namun sebelum itu semua terjadi alangkah baiknya kalau membuat karya-karya yang nantinya dapat bermanfaat bagi orang lain.

  3. Saya setuju dengan bapak. Meskipun umur terbatas setidaknya kita meninggalkan sebuah karya yang tetap abadi dan bermanfaat bagi orang lain. Sukses bapak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *