Rendra, Ziarah Kata dan Doa (Republika, 9 Oktober 2016)

Rendra, Ziarah Kata dan Doa
Oleh Setia Naka Andrian
Agustus lalu, tepat tujuh tahun meninggalnya W.S. Rendra, penyair Si Burung Merak yang begitu dikenal seantero negeri ini. Beberapa kota di negeri ini, daerah dan lingkup kecil semacam komunitas sastra, khususnya puisi, seakan khidmad mendengar gelimang kata-kata yang terus mengalir dari sajak-sajak Rendra.
Begitupun yang penulis lakukan bersama Forum Ngaji Ngopi Ngudud dan Kelab Buku Semarang, menyelenggarakan Ziarah Puisi Rendra di Mukti Cafe. Buku puisi Doa untuk Anak Cucu (Bentang, 2013) dan Puisi-Puisi Cinta (Bentang, 2015) menjadi riwayat tersendiri bagi khazanah perpuisian Rendra, dan bagi sastra Indonesia tentunya.
Melaui Doa untuk Anak Cucu (DUAC), Rendra seakan begitu yakin dalam menerawang masa depan keyakinannya. Ia seakan nampak berpegang pada Tuhan yang Esa, Allah SWT, semenjak ia menentukan bahwa Islam sebagai muara imannya. Nampak jelas dalam puisi Gumamku, ya Allah, berikut penggalannya:
Angin dan langit dalam diriku,/ gelap dan terang di alam raya,/ arah dan kiblat di ruang dan waktu,/ memesona rasa duga dan kira,/ adalah bayangan rahasia kehadiran-Mu, ya Allah!
Rendra, dalam puisi tersebut begitu berserah, segalanya tertuju kepada tuhannya, Allah. Melalui hal tersebut menjadi catatan lain tentang riwayat keislaman Rendra, lebih-lebih roh pementasan Kasidah Barzanji menjadi titik temu perjumpaannya di jalan muslim. Rendra seolah berambisi menyuarakan kemerdekaannya dalam bertuhan. Rendra sempat mengatakan, “bahwa dalam sajak-sajakku merupakan yoga bahasa, semacam ruang ibadah, puisiku adalah sujudku.”
Kuntowijoyo dalam bukunya Maklumat Sastra Profetik (2006) menyatakan bahwa pengarang yang shalat dengan rajin, zakatnya lancar, haji dengan uang halal, Islamnya tidak kaffah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah.
Barangtentu, itu dilakukan Rendra dalam bukunya DUAC, tanpa beribadah melalui karya, segala yang dilakukan di dunia seakan belum menyeluruh keislamannya. Bisa juga disimak melalui bagian akhir puisi Gumamku, ya Allah berikut:
Semua manusia sama tidak tahu dan sama rindu/ Agama adalah kemah para pengembara/ Menggema beragam doa dan puja/ Arti yang sama dalam bahasa-bahasa berbeda.
Rendra bersuara begitu lantang dalam menyuarakan agama. Bahkan dalam penggalan tersebut menunjukkan betapa agama menjadi pengembaraan umat manusia di dunia. Rendra mengajak kita, bahwa ragam doa dan puja dalam tubuh-tubuh agama.
Bahkan agama yang sama pun akan didapati beraneka cara menyuarakan keagungan tuhannya. Namun tetap dalam muara yang sama, atas kebaikan yang sama dan untuk kemaslahatan bersama.
Dalam DUAC menjadi penanda tersendiri bagi perjalanan sajak-sajak Rendra. Buku ini seakan menjadi karya yang entah dikehendaki atau bahkan sangat tidak dikehendakinya. Mengingat jika buku ini lahir setelah beberapa tahun ia meninggal.
Namun, setidaknya sang penyunting (Edi Haryono) sempat memperbincangkan bersama Rendra tentang penerbitan buku ini. Edi yang mendapat titipan beberapa sajak yang terangkum dalam buku ini, dan sebagian lagi yang disimpan Ken Zuraida (ida, istri Rendra).
Melalui buku DUAC ini pun, Rendra begitu gelisah, bagaimana nasib anak cucunya kelak. Nampak dalam penggalan puisinya Kesaksian Akhir Abad berikut:
O, anak cucuku di zaman Cybernetic!/ Bagaimana akan kalian baca prasasti dari zaman kami?/ Apakah kami akan mampu/ menjadi ilham kesimpulan/ ataukah kami justru menjadi masalah di dalam kehidupan?
Rendra berpanjang-lebar dalam 6 halaman dalam mencatat doa-doa kegelisahannya dalam puisi ini. Ia seakan mengajak generasi mendatang lebih tertantang dengan yang dilontarkannya.
Rendra ketakukan dengan anak cucunya yang hidup di zaman serba mudah. Segala informasi dan apa pun bisa dengan leluasa dilahap dengan sangat cepat. Kebaikan dan keburukan akan berdampingan bahkan saling berlomba untuk mendarat di mata siapa saja.
Rendra dalam puisi tersebut pun menanamkan kegetiran atas Indonesia, nampak jelas dalam penggalan berikut:
O, Indonesia! Ah, Indonesia!/ Negara yang kehilangan makna!/ Rakyat sudah dirusak atas tatanan hidupnya./ Berarti sudah dirusak dasar peradabannya./ Dan akibatnya dirusak pula kemanusiaannya./ Maka sekarang negara tinggal menjadi peta/ itu pun sudah lusuh/ dan hampir sobek pula.
Ratap tangis mendera Rendra, atas segala kedaulatan tanah dan air Indonesia yang belum sepenuhnya digenggam bangsa ini. Melalui buku puisinya DUAC, seakan Rendra ingin melihat masa depan anak cucunya lebih baik daripada kehidupannya saat itu, saat ia masih hidup, saat masih gagah menyuarakan segala ratap dan kegelisahannya melalui sajak-sajaknya.
Selain buku DUAC, dalam obrolan malam itu pun hadir dengan begitu hangat buku Rendra yang bertajuk puisi-puisi cintanya. Begitu membius khalayak yang malam itu melepas perjumpaan dengan doa-doa yang bertebaran untuk almarhum.
Dalam puisi-puisi cintanya tersebut, terbagi atas tiga bagian, Puber Pertama, Puber Kedua, dan Puber Ketiga. Dalam kumpulan ini, menjadi bukti masa-masa pencarian cinta Rendra. Alam semesta menjadi pijakan bagaimana ia menemukan cinta-cintanya.
Misalnya saja dalam penggalan puisi Hai, Ma! Berikut:
Kadang-kadang aku merasa terbuang ke belantara/ dijauhi ayah-bunda/ dan ditolak para tetangga./ Atau aku telantar di pasar./ Aku berbicara tetapi orang-orang tidak mendengar,/ mereka merobek-robek buku/ dan menertawakan cita-cita./ Aku marah. Aku takut./ Aku gemetar/ namun gagal menyusun bahasa.
Seorang Rendra, dalam puisi tersebut merasa dirinya terbuang. Ia begitu tak berarti apa-apa. Pada posisi semacam itu, ia seakan semakin berupaya menemukan cinta-cintanya. Dalam keadaan yang tersudut dan merasa bahwa kehidupan menggiringnya untuk menjadi semakin dewasa, semakin mendekati sempurna.
Itu pada bagian puber ketiga, dan tentu akan beda nuansa cintanya pada bagian puber pertama dan puber kedua. Bagian-bagian tersebut menjadi jarak yang tak pernah saling meninggalkan, namun sangat erat meriwayatkan bagaimana perjalanan Rendra dalam menggapai cinta-cintanya di semesta ini. Dan kita saat ini, menyimak beragam kemuliaan melalui sajak-sajak Rendra, Ziarah kata, doa-doa serta sejarah manusia, pergulatan penyair menjadi jawaban yang masih terus bergulir selamanya.***

─Setia Naka Andrian, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Penulis buku puisi, “Perayaan Laut” (April 2016). Pegiat Forum Ngaji Ngopi Ngudud.
baca juga  Narasi 'Miring' Pendidikan Kita (Wawasan, 18 Januari 2017)

About the author

Aku hanya ingin menjadi spasi untuk menghindarkanmu sebelum titik. (SNA)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *