Tubagus dan Eksistensi Pecinan Semarang (Jawa Pos, 29 Januari 2017)

Tubagus dan Eksistensi Pecinan Semarang (Jawa Pos, 29 Januari 2017)

Tubagus dan Eksistensi Pecinan Semarang
Oleh Setia Naka Andrian
Judul Buku              : Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota
Penulis                       : Tubagus P. Svarajati
Penerbit                     : Bukusaya
Cetakan                     : Agustus 2016
Jumlah Halaman       : xxv + 260 halaman
ISBN                         : 978-602-9682-65-6
Lewat esai-esainya, Tubagus P. Svarajati lugas dalam berpendapat terkait dengan riwayat dan masa depan Pecinan Semarang.
Cobalah menyusuri Semarang saat menyambut Imlek. Antusiasme itu sangat terasa di sudut pecinan ibu kota Jawa Tengah tersebut.
Mulai Wotgandul, Gang Baru, Gang Pinggir, sampai Gang Lombok. Pasar Imlek Semawis ke-14 juga digelar di Semarang pada tahun Ayam Api ini.
Semarang memang memiliki etnis Tionghoa yang cukup banyak. Kelentengnya saja mencapai puluhan, persisnya 70.
Dan, berbicara pecinan di Semarang tentu tak lepas dari sosok Tubagus P. Svarajati. Ia dianggap sosok paling representatif dalam memberikan pandangan tentang keberadaan dan arus gerak seni-budaya pecinan di Semarang.
Dalam bukunya, Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota (2016), melalui esai-esainya yang terbagi menjadi empat, yakni pecinan, kota, seni, dan tokoh, Tubagus menyinggung mengenai segala sesuatu yang terkait dengan pengembangan/penataan kawasan.
Terutama tentang kesenian dan seni rupa di Semarang. Khususnya dalam lingkup ruang gerak di kawasan Pecinan.
Melalui buku ini atau jika siapa saja yang sempat bersinggungan dan dihadapkan langsung pada sosok Tubagus, pasti akan muncul pandangan bahwa orang ini nyinyir dan sinis. Namun, Tubagus kerap diakui berbagai kalangan sebagai orang yang lugas dalam setiap berpendapat terkait riwayat dan masa depan pecinan di Semarang. Kejernihan pun selalu ia torehkan dalam esai-esainya di buku ini.
Tubagus menggarap berbagai hal yang timbul dan berkembang dari masyarakat Pecinan Semarang. Gagasan dan ktitik pedasnya ia kelola apik atas kerusakan lingkungan, transportasi, turisme, gerak kesenian dan sastra (folklore). Pada salah satu esainya yang bertiti mangsa 2012, Tubagus berpendapat bahwasanya merancang pembangunan kawasan pecinan perlu dipikirkan. Sebagai destinasi wisata terpadu agar terhindar dari ekses-ekses yang merugikan.
Karena itu, semuanya harus terorganisasi dengan baik. Pihak pengelola yang kerap mengaku sebagai representasi warga Pecinan Semarang pun tak boleh hanya terfokus pada sisi komersial.
Ia berharap, dalam segala pengelolaan warga dan tata wilayah, harus jelas bagaimana konsepnya. Misalnya, dalam tataran konsep turisme. Harus jelas akan seperti apa yang hendak dipraktikkan dan dijalankan.
Ada tidak dampak positif bagi warga. Bagi Tubagus, setiap bangunan kebijakan yang menyangkut warga haruslah dapat meluaskan lapangan kerja, meningkatkan devisa, dan memeratakan pembangunan antarwilayah.
Tentu, yang paling utama adalah masyarakat lokal harus terlibat langsung dalam segenap perencanaan dan pengelolaan. Dan, warga benar-benar mengakui sebagai penikmat pertama.
Buku ini juga memuat surat terbuka yang ditulis Tubagus untuk wali kota Semarang, Gonjang-Ganjing Pecinan Semarang (hlm. 77). Ia lontarkan catatan atas apa yang terjadi dan tentu ia berikan pula bagaimana rekomendasinya.
Disebutkan bahwasanya Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) bukan wakil atau representasi warga Pecinan Semarang. Rekomendasinya, bilamana Kopi semawis tetap hendak berkiprah dan hendak memenuhi janjinya perihal “Revitalisasi Pecinan Semarang”, mereka harus melakukan riset yang memadahi.
Segala hal itu berkaitan erat dengan situs-situs warisan budaya (heritage) yang bermekaran. Tubagus beranggapan, peran pemerintah atau lembaga apa pun di luarnya hanyalah sebagai akselerator.
Gerakan serupa itu lazim disebut sebagai aksi masyarakat madani (civil society). Tujuannya, kelak orang-orang dalam kota atau yang dari luar mengenal (penuh) Pecican sebagai pusat kebudayaan, terutama di Semarang. Kebinekaan yang diimpikan pun pelan-pelan tak hanya utopis.***

─Setia Naka Andrian, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Menulis buku “Perayaan Laut” (April 2016), Remang-Remang Kontemplasi (2016).
Visitors : 31 views

One Reply to “Tubagus dan Eksistensi Pecinan Semarang (Jawa Pos, 29 Januari 2017)”

  1. Nita Pramilasari 4C
    Tulisan ini memadukan antara meresensi buku yang bejudul Pecinan Semarang dan mengulas bagaiman sosok Tubagus sebagai pengarang yang sigap dalam menanggapi respon-respon yang ada disekitarnya. Buku Pecinan Semarang ini berisi esai-esai yakni pecinan, kota, seni, dan tokoh. Buku ini berisi pesan yang ditujukan kepada wali kota Semarang dan harapan penulis agar Pecinan Semarang lebih diperhatiakan juga menjadi daya tarik pengunjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *